Awie Trans

Selasa, 14 Desember 2010

MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT

I.PENDAHULUAN

Keberhasilan Pembangunan khususnyadi bidang kesehatan menumbulkan jumlah penduduk yang meninggal dalam usia muda menurun drastis dan harapan hidup rata-rata semakin panjang.Ini berarti bahwa dalam kangka panjang jumlah golongan penduduk dalam usia lanjut semakin besar.Data di biro statistik menunjukkan bahwa sensus penduduk th 1995 terdapat 12,7 juta orang yang berusia 60 tahun keatas.Hal ini dapat menimbulkan masalah baru apabila tidak kita perhatikan sejak dini.Karena pada kenyataannya sering kita jumpai orang yang merasa takut dalam menghadapi usia lanjut.Mereka takut dengan adanya perubahan fisik,badannya tidak menarik seperti pada saat masih muda,rambutnya mulai banyak uban ,kulitnya mulai banyak keriput.timbulnya menopause,takut menghadapi pensiun,merasa tidak ada peranan penting lagi,merasa tidak dapat berkarier lagi,merasa tersaingi dengan yang mida dan sebagainya.

Ketakutan dalam menghadapi usia lanjut ini dapat menimbulkan mereka mempunyai harga diri yang rendah,sulit tidur,tidak nafsu makan,tidak bergairah dalam bekerja,dan bahkan dapat menimbulkan seseorang mengalami gangguan jiwa.Sebetulnya keadaan ini tidak perlu terjadi apabila ada persiapan dalam menghadapi usia lanjut dan mereka berani dalam menghadapi tantangan atau bahaya pada usia ini ,dengan demikian maka kesempatan manis bagi pertumbuhan dan pengembangan diri tidak hilang,mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh,serta dapat menikmati usia lanjut dengan bahagia dan sejahtera.

II .PROSES MENJADI LANJUT USIA

Proses menjadi lanjut usia atau menjadi tua menghadapkan orang pada salah satu tugas yang paling sulit dalam perkembangan hidup manusia.Menurut kodratnya,manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalam proses menjadi tua.

Pada mulanya mereka melawan kenyataan yang tidak terelakkan bahwa mereka menjadi tua dan akhirnya dengan hati sakit mereka hanya bisa menerima.Pada saat ini lepaslah segala ambisinya,mereka menjadi kesal dan kehilangan semangat hidup.Bagi mereka pada usia itu hidup praktis berhenti,meskipun mereka masih mondar-mandir sebagai warga masyarakat yang gelisah tanpa tujuan .Dengan keadaan itu yang bersangkutan tiadak mengerti bahwa proses untuk menjadi tua memberikan kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh.

Ada beberapa tingkatan umur yang berbeda-beda,dari kanak-kanaj,remaja dan tingkat dewasa.Kita juga tahu bagaimana penting dan sulitnya menghadapi masa peralihan dengan tepat,dari tingkat kanak-kanank ke remaja,dan kemudian ke tingkat dewasa.Namin hal ini tidak selalu kita sadari.Demikianpun kebanyakan orang tidak menyadari bahwa peralihan dari usia tengah baya yang aktif ke tingkat usia lanjut juga membawa krisis yang berat.Pembicaraan mengenai hal ini tidak banyak kita dengar ,karena kebanyakan orang tidak mau mengakui,baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,bahwa setiap orang merasa perlu tetap muda,atau sekurang-kurangnya berusaha tetap tampil muda.Akan tetapi penipuan diri yang kosong ini tidak dapat mengubah kenyataan ,bahwa siapapun secara pelan-pelan menjadi usia lanjut.Orientasi pada budaya muda itu dapat mempersulit orang dalam proses menjadi usia lanjut dengan rasa bahagia,sebab mereka hanya mendapat sedikit pengertian dan bantuan dari masyarakat dalam menghadapi krisis masa transisi.

Kenyataan tidak dapat kita ingkari,siapapun dari kita ini kalau tidak didahlui mati,tentu akan berhadapan dengan krisis usia lanjut.Semua wanita lambat atau cepat akan menyadari bahwa pesonanya akan memudar.Mereka akan sadar bahwa daya tarik tubuhnya semakin berkurang.Orang dapat tetap memuji kecakapannya,sukses dalam profesi,dan nama baiknya,tetapi itu semua baginya tidak lebih dari pensiun di hari tua.Sakit badan tertentu membuat mereka merasakan gangguan kekuatannya dan pemikirannya.Wanita yang telah menjadi usia lanjut akan menjadi cepat marah,mudah tersinggung dan gelisah,tenaganya semakin merosot,semakin lemah.Pagi hari kehilangan daya tariknya,siang hari menjemukan,sore dan malam hari terasa berlangsung panjang dalam sunyi sepi.

Ketika orang mencapai usia lanjut ,ia mengalami kesusahan siang dan malam,sekonyong-konyong apa saja menjadi persoalan misalnya kehidupan profesionalny,hubungan dengan bawahannya dan kehidupan seksualnya.Keluarganya menjadi lebih kecil,karena anak –anak menjadi lebih dewasa dan meninggalkan lingkungan keluarga.Seringkali dirasakan bahwa efisiensi kerjanya merosot dam kreativitasnya menurun.Kebanyakan orang pada umur ini mulai kehilangan kepercayaan diri dan rasa amannya.Apapun yang terjadi membuat dirinya kebingungan.

Sementara itu ia dapat merasa bangga atas keberhasilan generasi baru,sejauh ikut menentukan keberhasilan itu dan dapat menikmati sukses pertamanya.Namun apabila tgenerasi baru ini lambat laun mengambil oper tugasnya,maka ia mulai merasakan bahwa rasa pedih dan cemburu mulai merayapi dirinya yang semula berela hati.Inilah tanda lahiriah pertama mulai berkembangnya krisis orang menua.Adapun secara batiniah,rasa dingin semakin dalam timbul dalam dirinya dan timbul pertanyaan:”hidup terus berlangsung,mungkinkah pada sutu hari aku tidak diperlukan lagi”.Dan pada kesempatan ini dapat muncul gagasan,bahwa ia dapat terhempas dari kehidupan ini.

III.PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT

Menjadi tua tidak berarti mundur secara psikologis.Dya ingat memang berkurang,sebab orang lebih memperhatikan hal-hal penting,sedangkan yang kurang penting tidakdiingat .Di luar negeri pernah diadakan percobaan mendirikan universitas yang menerima mahasiswa yang sudah berusia lanjut.Ternyat banyak orang yang berusia lanjut yang berhasil.Semangat belajar mereka lebih besar daripada orang-orang muda.Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih lebih banyak dibandingkan dengan yang muda.

Beberapa masalah sosial dan psikologi yang dihadapi pada usia lanjut antaralain:

1 . Pensiun

Idealnya ,masa pensiun merupakan wktu untuk menikmati hal lain dalam hidup ini,menjadi santai,melaksanakan cita-cita berkelana,aktif dalam bidang sosial dan filsafat.Tetapi kadang-kadang dalam kenyataannya pensiun sering diartikan sebagai ”kehilangan” pekerjaan,penghasilan,kedudukan ,jabatan,peran sosial,dan juga harga diri.

2 . Fungsi Mental

Pada umumnya terjadi penurunan fungsi kognitif dan psikomotor.Fungsi kognitif meliputi prises belajar,pemahaman,pengertian ,tindakan dan lain-lain menurun,sehingga perilaku cenderung lebih lambat.Usia senja yang menderita demensia,perubahan dan penurunan fungsi kognitif akan lebih jelas dan progresif.

Fungsi psikomotor yang meliputi dorongan kehendak/bertindak pada umumnya mulai melambat sehingga reaksi dan koordinasinya juga menjadi lambat.Sedangkan hal yang positif yaitu dihormati ,dituakan,disegani,lebih bijaksana,lebih hati-hati dalam tindakan,tempat meminta nasehat.Secara garis besar ada 5 tipe kepribadian pada usia senja:

a. Tipe Konstruktif :Orang yang sejak muda dapat menerima fakta dan kehidupan,menjadi tua diterima dengan santai.Mereka memiliki sifat yang toleran dan fleksibel,sehingga lentur dalam menerima kenyataan misalnya pensiyn,kehilangan pasangan dan sebagainya,mereka nrimo tetapi bukan pasrah.

b. Tipe Dependen: Sifat pasif tak berambisi ,optimistik tak dilaksanakan perkawinan terlambat,didominasi oleh istri.Pada usia senja senang karena pensiun dan santai,banyak makan dan menikmati hari libur.Tetepi bila mereka kehilangan pasangan hidupnya merasa kehilangan tempat bergantung yang merupakan masalah besar ,sehingga tidak jarang mereka terus menerus sakit-sakitan dan akhirnya menyusul pasangannya lebih cepat.

c. Tipe Independen (mandiri):Pada masamudanya merupakan orang yang aktif dalam pergaulan sosial,reaksi penyesuaian diri cukup baik dan cenderung menolak tawaran / bantuan orang lain.Keadaan tersebut cenderung dipertahankan sampai usia senja sehingga cemas menghadapi masa tua,misalnya cenderung menunda masa pensiun atau tetap bertahan aktif dalam profesi atau pekerjaannya dan tidak tampak menikmati masa tuanya.

d. Tipe Bermusuhan : Orang yang cenderung menyalahkan orang lain untuk kesalahannya,sering mengeluh,agresif,curiga,riwayat pekerjaan tidak tetap,tidak dapat melihat segi positif pada usia lanjut,takut akan kematian,iri terhadap orang muda.Sering menunjukkan perilaku yang seoalah-olah mencari ketenangan sebagai gambaran yang menggambarkan dirinya tidak tenang.

e. Tipe Benci diri : Orang yang kritis terhadao dirinya ,tidak berambisi dalam pekerjaan.Perkawinan kurang bahagia karena banyak menyesali diri,anak serta pasangan hidupnya,seolah-olah masa lalu yang seharusnya diisi dengan segala keinginan sudah lewat,akhirnya pasrah tetapi tidak ”nrimo”.Hal ini menyebabkan gairah hidup menurun ditambah kenyataan kondisi sosial ekonomi yang menurun ,sehingga banyak mengalami krisis.Tkut akan kematian.

3 . Kehilangan pasangan

Kematian pasangannya merupakan stress psikososial yang sangat berat.

4 . Fungsi Seksual

Sering menurun karena penyakit fisik seperti jantung koroner,diabetes melitus,artritis.Akibatnya harus makan obat anti hipertensi,anti diabetika,steroida,obat penenang.Sebagian usia senja harus menjalani pembedahan seperti prostatektomi.Menderita vagintis dan malnutrisi.

5 . Menemukan Kebahagiaan

Bentuk-bentuk pernyataan kebahagiaan dan kegembiraan yang khas pada masa muda ,tidak lagi mempunyai daya tarik pada masa usia senja.Ada beberapa kegiatan menarik yang tidak bisa dilaksanakan,misalnya kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik misalnya olah raga atau perjalanan jauh

Kebahagiaan di masa lampau sewaktu masih muda,kini bagi kebanyakan usia senja hal-hal tersebut hanya menjadi kenangan.Bagi usia senja,tidaklah menguntungkan untuk bermimpi diluar jangkauannya.Dalam hidup ini tahap demi tahap orang harus mengembangkan minat pada hal-halyang memberikan kegembiraan apabila mau menjadi orang sepenuhnya.

Setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan di masa tuanya.Bagi sementara orang bisa terjadi,cuculah yang menjadi sumber kesenangan dan kepuasan.Orang lain mengembangkan perhatiannya di bidang seni,musik dan buku-buku.

7 . Kematangan Iman

Setelah seseorang. Memasuki usia tua ,banyak terjadi persoalan-persoalan mengenai kesehatan ,dorongan seksual,jaminan ekonomi.Hal-hal seperti ini nampak tidak stabil lagi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.Maka tidaklah mengherankan apabila timbul kebimbangan iman.Orang akan mempunyai problema yang berat,apabila imannya tidak berkembang matang.

Pada usia senja,iman kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu diperdalam dan dimatangkan,agar persoalan-persoalan yang dihadapi tidak menjadi terlalu berat.

8 . Menemukan Makna Hidup.

Salah satu persoalan pokok orang usia senja ialah pemikiran yang menakutkan bahwa mungkin dirinya sudah tidak berarti lagi.Dia merasa dirinya sudah tidak diperlukan lagi ditempat kerjanya,dalam keluarga dan masyarakat.Banyak orang usia senja yang menderita neurosis dan bermacam-macam ketidakseimbangan mental kaena kekosongan dan tidak adanya tujuan hidup di masa senja.

Pada usia senja,seseorang harus dapat menemukan kembali makna hidupnya.Menemukan kembali makna hidup pada masa senja tergantung pada kesehatan,kemampuan dan situasi konkrit kehodupan pribadi yang bersangkutan.

Bagi beberapa orang,merawat cucu-cucunya dapat menghilangkan rasa takut dan dapat mengembalikan kesadarn baru akan tujuan hidup dan kegembiraan di usia senja.Banyak orang usia senja merasa lebih muda lagi ketika diminta memberi nasihat . Perasaan berguna dan diperlukan,dapat mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri yang sudah menipis dan memberikan makna hidup baru dan tujuan hidupnya.

9 . Membina Perkawinan Menjadi Satu Kesatuan Yang Baru

Bagi pasnagn suami istri, saat suami pensiun dapat merusak hubungan mereka,tetapi juga dapat menjadi awal hidup bersama yang sempurna.Pada waktu pensiun,istri takut apabila suami mencampuri urusan tumah tangga.Dengan ikut campurnya suami dalam urusan rumah tangga,sering menimbulkan pertengkaran.

Akan tetapi perkawinan dapat juga mengalami perubahan yang sebaliknya.Pada masa suami pensiun hubungan suami istri dapatmenjadi intim.Untuk membina perkawinan menjadi satu kesatuan diperlukan komunikasi ,hubungan yang mendalam antara suami dan istri.

V.KESIMPULAN

Masa usia lanjut merupakan masayang sulit dalam perkembangan hidup seseorang.Menurut kodratnya,manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalm proses menjadi tua.

Pada masa ini terjadi perubahan fisik,juga banyak terjadi perubahan psikologi dan sosial.Pada masa usia lanjut seseorangharus bisa menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya,mampu mengahdapai problema kesepian,mulai mendekatkan diri kepada yang kuasa,menerima masatua dengan wajar,berlatih bijaksana,mencapai keutuhan dan menemukan makna hidup.

Penyesuaian diri dengan terjadinya perubahan psikologi dan sosial pada usia lanjut,maka seseoarang akan mampu hidup sehat dan bahagia,bagi para usia lanjut yang sulit menemukan diri dengan berbagai perubahan psikologi maupun sosial,maka mereka tidak bisa menikmati usia senja dengan bahagia.

Rabu, 17 Februari 2010

ALAT KOTRASEPSI

A. Alat Kontrasepsi IUS

Prof. Dr. dr. Biran, SpOG

Hal yang berkaitan dengan kehamilan adalah mengenai perencanaan waktu hamil dan waktu tidak hamil. Prof Biran, seorang pakar obstetri dan ginekologi menjelaskan tentang pemilihan kontrasepsi jangka panjang. Kontrasepsi di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan keluarga berencana (KB).

Untuk skala dunia, sterilisasi wanita merupakan pilihan KB terbesar yaitu sebanyak 29% yang diikuti dengan IUD (Intra Uterine Device) sebanyak 21%. Sedangkan pengguna KB di Indonesia lebih menyukai jenis suntikan yaitu sebesar 35,2% atau sebanyak 9,743,550 wanita, berdasarkan survei BKKBN tahun 2006 lalu.

“KB hormon seperti sistem kafetaria, artinya banyak macamnya dan boleh memilihnya,” jelas Prof Biran. Bentuk KB hormon yang bisa dipilih, antara lain: pil, patches (koyo), injeksi, IUD hormon, cincin vagina dan implant (susuk).

Lebih lanjut, Prof Biran mengemukakan jenis kontrasepsi jangka panjang yang aman dengan brand name Mirena. Mirena merupakan IUS (intra uterine system) hormon yang akan melepaskan levonorgestrel 20 mcg tiap hari. Sekali dipasang, Mirena dapat digunakan selama 5 tahun bahkan lebih.

Sebenarnya Mirena bukan merupakan IUS hormon yang baru ditemukan melainkan penyempurnaan IUS generasi pertama. IUS generasi pertama yang disetujui oleh FDA tahun 1976 yaitu Progestasert.

IUS generasi pertama ini mengandung 38 mg of progesteron, dengan dosis pelepasan 65 µg progesteron tiap hari. Sayangnya, penggunaan Progestasert menyebabkan risiko kehamilan ektopik (hamil di luar rahim) sehingga dilarang penggunaannya sejak musim panas 2001.

Prof Biran yang berpraktek di Klinik Raden Saleh menjelaskan bahwa dengan menggunakan Mirena akan mendapatkan keuntungan penggunaan pil KB dan IUD sekaligus. Beberapa keuntungan pil atau KB oral adalah sangat efektif, mengurangi kehilangan darah akibat menstruasi, dan mengurangi penyakit radang panggul.

Keuntungan IUD adalah tidak membutuhkan motivasi untuk minum pil setiap hari, kerjanya lama, bebas estrogen dan reversibel (artinya bila dilepas akan bisa hamil kembali).

“Selain sperma, kuman penyebab penyakit kelamin juga tidak bisa masuk ke dalam rahim bila menggunakan Mirena,” tambah Prof Biran.

Mirena berfungsi mencegah pertumbuhan sel-sel endometrium (sel-sel dinding rahim), menebalkan cairan sekresi leher rahim dan menimbulkan flek darah tapi jarang menstruasi.

Prof Biran menjelaskan bahwa penggunaan Mirena dapat menyebabkan perubahan pada pola perdarahan (menstruasi). Sekitar 3 bulan sampai 6 bulan setelah pemasangan, hanya terjadi flek & darah menstruasi yang semakin berkurang. Kemudian 6 bulan setelah pemasangan akan menyebabkan terjadinya amenorrhea (tidak menstruasi).

Mirena memiliki bentuk menyerupai huruf T dengan ukuran 32 x 32 mm. IUS ini dapat dipasang di dalam rahim wanita pada saat:

  • Setelah pil KB terakhir atau selama perdarahan (menstruasi).
  • Jika sudah menggunakan IUD copper, dikeluarkan dahulu baru diganti.
  • Sekitar 4-6 minggu setelah melahirkan.
  • Keguguran, segera setelah prosedur pemindahan dilakukan.
  • Wanita usia akhir 30 tahun untuk melindungi endometrium (sel-sel uterus).

“Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan IUS ini dapat mengganggu hubungan suami istri,” ungkap Prof Biran. Hal ini disebabkan oleh adanya benang di ujung bawah IUS yang mungkin dapat mengiritasi alat kelamin suami. Untuk mengatasinya, benang tersebut bisa dipotong.

Menurut Prof Biran, penggunaan produk hormon memang dapat menyebabkan kanker bila dalam kadar yang tinggi dan tidak bisa dikendalikan. Namun, IUS ini mengandung hormon yang sudah digunakan dalam bentuk pil dan susuk sehingga keamanannya sudah terbukti. Efektivitas Mirena sebagai kontrasepsi dikarenakan pelepasan levonorgestrel yang terkendali setiap harinya sebanyak 20 mcg.


B. Masa Hamil dan Persalinan

Dr. Watt Wing Fong

Memulai suatu keluarga merupakan babak baru dalam kehidupan. Untuk yang baru pertama kali yang belum punya pengalaman terutama hamil tentunya akan merasa was-was. Mana mitos dan mana yang fakta?Apa yang harus dipercaya atau siapa yang harus dipercaya?

Dr. Watt Wing Fong, konsultan Obstetric & Gynecology dari Raffles Hospital menjelaskan panjang lebar mengenai informasi seputar kehamilan dan persalinan dalam seminar Pregnancy 101.

“Perubahan fisik dan psikologis dapat terjadi saat hamil,” jelas Dr. Watt. Kehamilan terdiri dari 3 tahap yang dikenal dengan trimester ke-1 (dari awal sampai minggu ke-12), trimester ke-2 (minggu ke-12 sampai minggu ke-28) dan trimester ke-3 (minggu ke-28 sampai melahirkan).

Penting untuk mengetahui apa yang terjadi pada setiap trimester tersebut dan cara mengatasinya sehingga anda bisa menjalankan kehamilan dengan baik.


Trimester 1 : 12 minggu

Pada trimester 1 terjadi yang biasa disebut morning sickness yang ditandai dengan mual, perubahan selera makan, masuk angin /bersendawa, lelah, buang air kecil terus menerus, berat badan turun, perdarahan dan rasa sakit.

Hal-hal tersebut tentu akan mengganggu kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi morning sickness, hindari makanan yang membuat gejalanya semakin memburuk. Sebaiknya makan sedikit tapi sering dan jika terasa mengganggu boleh minum obat anti mual/muntah.

Untuk mengatasi masuk angin/bersendawa, makanlah kentang manis atau makanan yang mengandung gas. Disamping itu, makanlah dalam porsi yang sedikit tapi sering. Sebaiknya pilihlah makanan yang mudah dicerna dan menurut Dr. Watt, dibolehkan untuk minum yang mengandung gas untuk memudahkan melepaskan gas.

Pada trimester 1 ini wanita hamil tidak perlu menghindari makanan, melainkan lakukanlah diet seimbang yang rendah garam dan rendah lemak, makanan yang berserat tinggi seperti sayuran dan buah-buahan. Pilihlah ikan atau daging putih dibandingkan daging merah. Minumlah vitamin dan mineral yang cukup terutama asam folat.

Hal yang perlu dihindari oleh wanita hamil adalah minum alkohol, merokok, makanan yang tidak dimasak atau tidak higienis.

Obat-obatan seperti obat penurun panas, obat batuk, obat mual dan muntah, obat diare umumnya aman dikonsumsi oleh wanita hamil.

Namun yang perlu dihindari adalah obat jerawat yang mengandung isotretinoin dan antibiotik tetrasiklin yang dapat mempengaruhi janin. Selain itu, hindari juga bahan kimia seperti saat facial, cat rambut, produk kecantikan/pelangsing.


Trimester ke-2 (12-28 minggu)

Pada trimester ke-2, morning sickness cenderung membaik, perut membuncit, gerakan jabang bayi mulai terasa pada minggu 20 sampai 22. Wanita hamil akan merasa kelelahan, sakit punggung dan napas pendek.

Mungkin juga mengalami tekanan darah rendah. Sama seperti pada trimester 1, buang air kecil terus menerus ditambah dengan konstipasi, kram perut dan stretch marks yang mulai muncul.

Saat kondisi lemah, hindari langsung berdiri tiba-tiba. Untuk mengatasi konstipasi yang disebabkan gerakan usus yang kurang akibat kerja dari hormon kehamilan dan diperburuk oleh zat besi, makanlah makanan yang berserat dan minum air putih..

Masalah pembengkakan kaki yang disebabkan retensi air dapat diatasi dengan mengangkat kaki dan menggunakan stoking ketat.

Dokter akan menawarkan untuk dilakukan tes sindrom Down sejak minggu ke-15 pada pasien yang risikonya rendah, dan pemeriksaan cairan ketuban (amniocentesis) sejak minggu ke-16 pada pasien risiko tinggi untuk mendeteksi kromosom yang abnormal.

Pemeriksaan ultrasound dilakukan sekitar minggu ke-20 untuk mendeteksi struktur janin yang abnormal, meskipun hasilnya tidak 100% akurat. Selain itu, dokter akan menawarkan pemeriksaan diabetes pada saat minggu ke-28 pada pasien berisiko tinggi.


Trimester ke-3 (setelah 28 minggu sampai melahirkan)

Trimester terakhir ini ditandai dengan perut yang semakin membuncit, pembengkakan ankle, varises, konstipasi, sakit pinggang, kelelahan, napas pendek, sering buang air kecil, kontraksi tanpa rasa sakit (Sindrom Braxton Hicks), guratan yang terasa gatal.

Dokter akan memantau pertumbuhan janin, tekanan darah dan keberadaan janin di trimester terakhir kehamilan ini. “Segera konsultasi ke dokter bila kontraksi terasa sakit, pecahnya air ketuban, berdarah (risiko bayi prematur), gerakan janin tidak ada atau melemah,” kata Dr. Watt.

Dokter akan melakukan ultrasound untuk mengetahui kadar air amnion, mendeteksi bayi saat distress, pemeriksaan vagina untuk menentukan pembukaan leher rahim, mendiskusikan cara melahirkan, pilihan pereda nyeri, bila memerlukan induksi sampai caesar untuk kasus tertentu.

KESEHATAN IBU DAN ANAK : PERSEPSI BUDAYA DAN DAMPAK KESEHATANNYA

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm%20linda2.pdf
LINDA T. MAAS
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Pendahuluan :
Hingga saat ini sudah banyak program-program pembangunan kesehatan di Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya program-program tersebut lebih menitik beratkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu. Hal ini terbukti dari hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar. Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang selama dua dekade ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. SKRT 1994 menunjukkan hahwa MMR sebesar 400 – 450 per 100.000 persalinan.
Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas. Penyakit-penyakit tertentu seperti ISP A, diare dan tetanus yang sering diderita oleh bayi dan anak acap kali berakhir dengan kematian. Demikian pula dengan peryakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis dan lain-lain dapat membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan.
Baik masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.
Makanan, penyakit dan kesehatan anak.
Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bayi adalah makanan yang diberikan. Dalam setiap masyarakat ada aturan-aturan yang menentukan kuantitas, kualitas dan jenis-jenis makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh anggota-anggota suatu rumah tangga, sesuai dengan kedudukan, usia, jenis kelamin dan situasi-situasi tertentu. Misalnya, ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan atau dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tertentu; ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapat jumlah makanan yang lebih banyak dan bagian yang lebih baik daripada anggota keluarga yang lain; atau anak laki-laki diberi makan lebih dulu daripada anak perempuan. Walaupun pola makan ini sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan, namun yang paling berperan mengatur menu setiap hari dan mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah ibu; dengan kata lain ibu mempunyai peran sebagai gate- keeper dari keluarga.
©2004 Digitized by USU digital library 1
Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia kita bisa melihat konsepsi budaya yang terwujud dalam perilaku berkaitan dengan pola pemberian makan pada bayi yang berbeda, dengan konsepsi kesehatan modern. Sebagai contoh, pemberian ASI menurut konsep kesehatan moderen ataupun medis dianjurkan selama 2 (dua) tahun dan pemberian makanan tambahan berupa makanan padat sebaiknya dimulai sesudah bayi berumur 4 tahun. Namun, pada suku Sasak di Lombok, ibu yang baru bersalin selain memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya lebih dahulu) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi. Sementara pada masyarakat Kerinci di Sumatera Barat, pada usia sebulan bayi sudah diberi bubur tepung, bubur nasi nasi, pisang dan lain-lain. Ada pula kebiasaan memberi roti, pisang, nasi yangsudah dilumatkan ataupun madu, teh manis kepada bayi baru lahir sebelum ASI keluar. Demikian pula halnya dengan pembuangan colostrum (ASI yang pertama kali keluar). Di beberapa masyarakat tradisional, colostrum ini dianggap sebagai susu yang sudah rusak dan tak baik diberikan pada bayi karena warnanya yang kekuning-kuningan. Selain itu, ada yang menganggap bahwa colostrum dapat menyebabkan diare, muntah dan masuk angin pada bayi. Sementara, colostrum sangat berperan dalam menambah daya kekebalan tubuh bayi.
Walaupun pada masyarakat tradisional pemberian ASI bukan merupakan permasalahan yang besar karena pada umumnya ibu memberikan bayinya ASI, namun yang menjadi permasalahan adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi. Disamping pola pemberian yang salah, kualitas ASI juga kurang. Hal ini disebabkan banyaknya pantangan terhadap makanan yang dikonsumsi si ibu baik pada saat hamil maupun sesudah melahirkan. Sebagai contoh, pada masyarakat Kerinci ibu yang sedang menyusui pantang untuk mengkonsumsi bayam, ikan laut atau sayur nangka. Di beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur.
Adanya pantangan makanan ini merupakan gejala yang hampir universal berkaitan dengan konsepsi "panas-dingin" yang dapat mempengaruhi keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia -tanah, udara, api dan air. Apabila unsur-unsur di dalam tubuh terlalu panas atau terlau dingin maka akan menimbulkan penyakit. Untuk mengembalikan keseimbangan unsur-unsur tersebut maka seseorang harus mengkonsumsi makanan atau menjalani pengobatan yang bersifat lebih "dingin" atau sebaliknya. Pada, beberapa suku bangsa, ibu yang sedang menyusui kondisi tubuhnya dipandang dalam keadaan "dingin" sehingga ia harus memakan makanan yang "panas" dan menghindari makanan yang "dingin". Hal sebaliknya harus dilakukan oleh ibu yang sedang hamil (Reddy, 1990).
Menurut Foster dan Anderson (1978: 37), masalah kesehatan selalu berkaitan dengan dua hal yaitu sistem teori penyakit dan sistem perawatan penyakit. Sistem teori penyakit lebih menekankan pada penyebab sakit, teknik-teknik pengobatan pengobatan penyakit. Sementara, sistem perawatan penyakit merupakan suatu institusi sosial yang melibatkan interaksi beberapa orang, paling tidak interaksi antar pasien dengan si penyembuh, apakah itu dokter atau dukun. Persepsi terhadap penyebab penyakit akan menentukan cara pengobatannya. Penyebab penyakit dapat
dikategorikan ke dalam dua golongan yaitu personalistik dan naturalistik. Penyakit- penyakit yang dianggap timbul karena adanya intervensi dari agen tertentu seperti perbuatan orang, hantu, mahluk halus dan lain-lain termasuk dalam golongan personalistik. Sementara yang termasuk dalam golongan naturalistik adalah penyakit- penyakit yang disebabkan oleh kondisi alam seperti cuaca, makanan, debu dan lain-lain.
©2004 Digitized by USU digital library 2
Dari sudut pandang sistem medis moderen adanya persepsi masyarakat yang berbeda terhadap penyakit seringkali menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh ada masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami kejang- kejang disebabkan karena kemasukan roh halus, dan hanya dukun yang dapat menyembuhkannya. Padahal kejang-kejang tadi mungkin disebabkan oleh demam yang tinggi, atau adanya radang otak yang bila tidak disembuhkan dengan cara yang tepat dapat menimbulkan kematian. Kepercayaan-kepercayaan lain terhadap demam dan diare pada bayi adalah karena bayi tersebut bertambah kepandaiannya seperti sudah mau jalan. Ada pula yang menganggap bahwa diare yang sering diderita oleh bayi dan anak-anak disebabkan karena pengaruh udara, yang sering dikenal dengan istilah "masuk angin". Karena persepsi terhadap penyebab penyakit berbeda-beda, maka pengobatannyapun berbeda-beda. Misalnya, di suatu daerah dianggap bahwa diare ini disebabkan karena "masuk angin" yang dipersepsikan sebagai "mendinginnya" badan anak maka perlu diobati dengan bawang merah karena dapat memanaskan badan si anak.
Sesungguhnya pola pemberian makanan pada anak, etiologi penyakit dan tindakan kuratif penyakit merupakan bagian dari sistem perawaatan kesehatan umum dalam masyarakat (Klienman, 1980). Dikatakan bahwa dalam sistem perawatan kesehatan ini terdapat unsur-unsur pengetahuan dari sistem medis tradisional dan moderen. Hal ini terlihat bila ada anak yang menderita sakit, maka si ibu atau anggota keluarga lain akan melakukan pengobatan sendiri (self treatment) terlebih dahulu, apakah itu dengan menggunakan obat tradisional ataupun obat moderen. Tindakan pemberian obat ini merupakan tindakan pertama yang paling sering dilakukan dalam upaya mengobati penykit dan merupakan satu tahap dari perilaku mencari penyembuhan atau kesehatan yang dikenal sebagai "health seeking behavior". Jika upaya ini tidak berhasil, barulah dicari upaya lain misalnya membawa ke petugas kesehatan seperti dokter, mantri dan lain-lain.
Kehamilan, persalinan dan kematian ibu.
Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan kesehatan ibu di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang berhubungan dengan persalinan. Menghadapi masalah ini maka pada bulan Mei 1988 dicanangkan program Safe Motherhood yang mempunyai prioritas pada peningkatan pelayanan kesehatan wanita terutama paada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan.
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Pacta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.
Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Pada penelitian yang dilakukan yang dilakukan di RS Hasan Sadikin, Bandung, dan 132 ibu yang meninggal, 69 diantaranya tidak pernah memeriksakan kehamilannya atau baru datang pertama kali pada kehamilan 7 -9 bulan (Wibowo, 1993). Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan
©2004 Digitized by USU digital library 3
dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu, dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek, menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pacta saat melahirkan.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan- pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah pedesaan. Dari data SKRT 1986 terlihat bahwa prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia sebesar 73,7%, dan angka menurun dengan adanya program-program perbaikan gizi menjadi 33% pada tahun 1995. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan darah.
Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Contoh lain di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo, 1993).
Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Sejumlah faktor memandirikan peranan dalam proses ini, mulai dari ada tidaknya faktor resiko kesehatan ibu, pemilihan penolong persalinan, keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan kesehatan, kemampuan penolong persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi keadaan gawat.
Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu. Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan rninyak kelapa untuk memperlancar persalinan), "kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandar dan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak
©2004 Digitized by USU digital library 4
dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan.
lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup. Secara medis, . penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi.
Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).
lmplikasi terhadap kebijakan pembangunan KIA.
Uraian sebelumnya telah memperlihatkan bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Menempatkan petugas kesehatan dan membangun fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. Seperti diketahui ternyata perilaku-perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya.
Pada dasarnya, peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk, mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Memang tidak semua praktek/perilaku masyaiakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis/kesehatan. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis, tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak
©2004 Digitized by USU digital library 5
menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah (change agent) maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan.
Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan, maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Dalam hal melakukan upaya-upaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya, baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Oleh karena itu, penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan, masa kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa.
Kepustakaan :
Central Bureau of Statistics et al 1995 Indonesia DemograQhic and health Survey
Departemen Kesehatan R.I 1994 Profil Kesehatan Indonesia 1994, Pusat Data Kesehatan, Jakarta
Foster, George M dan Barbara G. Anderson 1986 Antropologi Kesehatan, diterjemahkan oleh Meutia F. Swasono dan Prijanti Pakan. Jakarta: UI Press
Iskandar, Meiwita B., et al 1996 Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat, Depok, Pusat Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian, Universitas Indonesia.
Kalangi, Nico S 1994 Kebudayaan dan Kesehatan, Jakarta: Megapoin.
Koentjaraningrat dan A.A Loedin 1985 llmu-ilmu sosial dalam Pembangunan Kesehatan, Jakarta: PT Gramedia.
Raharjo, Yulfita dan Lorraine Comer 1990 "Cultur Attitudes to health and sickness in public Health programs: a demand-creation approach using data from West Aceh, Indonesia",Health Transition: The Cultural. Social and Behavioral determinants of Health, volume 11. Disunting oleh John C. Caldwell, et al., Canberra: Health Transition Centre.
Reddy, P.H. 1990 "Dietary practices during pregnancy, lactation and infaancy : Implications for Health", Health Transition : The Culture. Social and Behavioral determinants of Health, volume II. Disunting oleh John C. Caldwell, et al., Canberra: Health Transition Centre.
Wibowo, Adik 1993 Kesehatan Ibu di Indonesia: Status "Praesens" dan Masalah yang
dihadapi di lapangan. Makalah yang dibawakan pada Seminar " Wanita dan Kesehatan", Pusat Kaajian Wanita FISIP UI, di Jakarta
©2004 Digitized by USU digital library 6

Senin, 14 Desember 2009

Untuk II C APM

Jelaskan perbedaan Antara,
Proses Keperawatan dan Asuhan Keperawatan.

Jelaskan menurut anda.
Sebutkan Nama dan NIM

Pakai Acount Google anda sendiri, tidak memakai Acount orang lain

Jumat, 23 Oktober 2009

Sebutkan nama, NIM dan kelas

Benarkah Florence Naghtingale Perawat Pertama dunia?

Kamis, 22 Oktober 2009

Tugas Sejarah Keperawatan Indonesia

Sebutkan Nama dan NIM serta Kelas.......
Komentar anda tidak akan masuk jika anda tidak memiliki acount Google

KELAS IA dan IB. Dengan sangat menyesal. Terhitung sejak tanggal 22 Oktober 2009, maka tugas dari kelas tersebut dinyatakan diTOLAK.

IB (Sampai Posting ini dibuat, 22/10/09) TIDAK ADA SATU ORANGPUN YANG MEMASUKKAN

IA : Mereka yang diterima tugasnya adalah:
Nim : 09 : 001. 002. 003. 005. 009. 012. 014. 017. 018. 020. 021. 027. 030. 032. 033. 038. 040. 044. 045. 046. 047. 050. 054. 055. 057. 058. 060.

Tugas tersebut menjadi bagian penilaian tambahan (penugasan).

KELAS IC akan direkap terakhir hari sabtu, Insya Allah.

Rabu, 21 Oktober 2009

Florence Nightingale



0.01 sec.
Enlarge picture
Embley Park, now a school, was the family home of Florence Nightingale.
Enlarge picture
The grave of Florence Nightingale in the churchyard of St. Margaret's Church, East Wellow.


Florence Nightingale, OM, RRC (12 May 182013 August 1910), who came to be known as The Lady with the Lamp, was a pioneer of modern nursing, a writer and a noted statistician.[]

Biography

Early life

Florence Nightingale was born into a rich, upper-class well-connected English family at the Villa Colombaia, Florence, Grand Duchy of Tuscany, and was named after the city of her birth.[1]

Her parents were William Edward Nightingale (1794–1875) and Frances "Fanny" Nightingale née Smith (1789–1880). William Nightingale was born William Edward Shore. His mother Mary née Evans was the niece of one Peter Nightingale, under the terms of whose will William Shore not only inherited his estate Lea Hurst in Derbyshire, but also assumed the name and arms of Nightingale. Fanny's father (Florence's maternal grandfather) was the abolitionist Will Smith.

Inspired by what she took as a Christian divine calling, experienced first in 1837 at Embley Park and later throughout her life, Nightingale committed herself to nursing. This demonstrated a passion on her part, and also a rebellion against the expected role for a woman of her status, which was to become a wife and mother. In those days, nursing was a career with a poor reputation, filled mostly by poorer women, "hangers-on" who followed the armies. In fact, nurses were equally likely to function as cooks. Nightingale announced her decision to enter nursing in 1845 evoking intense anger and distress from her family particularly her mother.

She cared for poor and indigent people. In December 1844, in response to a pauper's death in a workhouse infirmary in London that became a public scandal, she became the leading advocate for improved medical care in the infirmaries and immediately engaged the support of Charles Villiers, then president of the Poor Law Board. This led to her active role in the reform of the Poor Laws, extending far beyond the provision of medical care. She was later instrumental in mentoring and then sending Agnes Elizabeth Jones and other Nightingale Probationers to Liverpool Workhouse Infirmary.

In 1846 she visited Kaiserswerth, Germany, and learned more of its pioneering hospital established by Theodor Fliedner and managed by an order of Lutheran deaconesses. She was profoundly impressed by the quality of care and by the commitment and practices of the deaconesses.

Nightingale was courted by politician and poet Richard Monckton Milnes, 1st Baron Houghton, but she rejected him, convinced that marriage would interfere with her ability to follow her calling to nursing. When in Rome in 1847, recovering from a mental breakdown precipitated by a continuing crisis of her relationship with Milnes, she met Sidney Herbert, a brilliant politician who had been Secretary at War (1845–1846), a position he would hold again during the Crimean War. Herbert was already married, but he and Nightingale were immediately attracted to each other and they became lifelong close friends. Herbert was instrumental in facilitating her pioneering work in Crimea and in the field of nursing, and she became a key advisor to him in his political career. In 1851 she rejected Milnes' marriage proposal against her mother's wishes.

Nightingale also had strong and intimate relations with Benjamin Jowett, particularly about the time that she was considering leaving money in her will to establish a Chair in Applied Statistics at the University of Oxford.[2]

Nightingale's career in nursing began in 1851, when she received four months training in Germany as a deaconess of Kaiserswerth. She undertook the training over strenuous family objections concerning the risks and social implications of such activity, and the Roman Catholic foundations of the hospital. While at Kaiserswerth she reported having her most important and intense experience of her divine calling.

On 22 August 1853, Nightingale took a post of superintendent at the Institute for the Care of Sick Gentlewomen in Upper Harley Street, London, a position she held until October 1854. Her father had given her an annual income of £500 (roughly US$50,000/£25,000 in present terms), which allowed her to live comfortably and to pursue her career. James Joseph Sylvester was her mentor.

Crimean War

Florence Nightingale's most famous contribution came during the Crimean War, which became her central focus when reports began to filter back to Britain about the horrific conditions for the wounded. On 21 October 1854, she and a staff of 38 women volunteer nurses, trained by Nightingale and including her aunt Mai Smith,[3] were sent (under the authorization of Sidney Herbert) to Turkey, some 545 km across the Black Sea from Balaklava in the Crimea, where the main British camp was based.

Nightingale arrived early in November 1854 at Selimiye Barracks in Scutari (modern-day Üsküdar in Istanbul). She and her nurses found wounded soldiers being badly cared for by overworked medical staff in the face of official indifference. Medicines were in short supply, hygiene was being neglected, and mass infections were common, many of them fatal. There was no equipment to process food for the patients.

Florence and her compatriots began by thoroughly cleaning the hospital and equipment and reorganizing patient care. However, during her time at Scutari, the death rate did not drop; on the contrary, it began to rise. The death count would be highest of all other hospitals in the region. During her first winter at Scutari, 4077 soldiers died there. Ten times more soldiers died from illnesses such as typhus, typhoid, cholera and dysentery than from battle wounds. Conditions at the temporary barracks hospital were so fatal to the patients because of overcrowding and the hospital's defective sewers and lack of ventilation. A sanitary commission had to be sent out by the British government to Scutari in March 1855, almost six months after Florence Nightingale had arrived, which flushed out the sewers and improved ventilation. Death rates were sharply reduced.

Nightingale continued believing the death rates were due to poor nutrition and supplies and overworking of the soldiers. It was not until after she returned to Britain and began collecting evidence before the Royal Commission on the Health of the Army, that she came to believe that most of the soldiers at the hospital were killed by poor living conditions. This experience would influence her later career, when she advocated sanitary living conditions as of great importance. Consequently, she reduced deaths in the Army during peacetime and turned attention to the sanitary design of hospitals.

The Lady with the Lamp

During the Crimean campaign Florence Nightingale gained the nickname "The Lady with the Lamp", deriving from a phrase in a report in The Times:
She is a ‘ministering angel’ without any exaggeration in these hospitals, and as her slender form glides quietly along each corridor, every poor fellow's face softens with gratitude at the sight of her. When all the medical officers have retired for the night and silence and darkness have settled down upon those miles of prostrate sick, she may be observed alone, with a little lamp in her hand, making her solitary rounds.[4]


The phrase was further popularised by Henry Longfellow's 1857 poem "Santa Filomena":
Lo! in that hour of misery
A lady with a lamp I see
Pass through the glimmering gloom,
And flit from room to room.

Return home

Florence Nightingale returned to Britain a heroine on 7 August 1857, and, according to the BBC, was arguably the most famous Victorian after Queen Victoria herself. Nightingale moved from her family home in Middle Claydon, Buckinghamshire, to the Burlington Hotel in Piccadilly. However, she was stricken by a fever, probably due to a chronic form of Brucellosis ("Crimean fever") that she contracted during the Crimean war.[5] She barred her mother and sister from her room and rarely left it.

In response to an invitation from Queen Victoria – and despite the limitations of confinement to her room – Nightingale played the central role in the establishment of the Royal Commission on the Health of the Army, of which Sidney Herbert became chairman. As a woman, Nightingale could not be appointed to the Royal Commission, but she wrote the Commission's 1,000-plus page report that included detailed statistical reports, and she was instrumental in the implementation of its recommendations. The report of the Royal Commission led to a major overhaul of army military care, and to the establishment of an Army Medical School and of a comprehensive system of army medical records.

Later career

While she was still in Turkey, on 29 November 1855, a public meeting to give recognition to Florence Nightingale for her work in the war led to the establishment of the Nightingale Fund for the training of nurses. There was an outpouring of generous donations. Sidney Herbert served as honorary secretary of the fund, and the Duke of Cambridge was chairman. Nightingale was also considered a pioneer in the concept of medical tourism as well based on her letters from 1856 in which she would write to spas in Turkey detailing the health conditions, physical descriptions, dietary information, and other vitally important details of patients whom she directed there (which was significantly less expensive than Switzerland). She was obviously directing patients of meagre means to affordable treatment.

By 1859 Nightingale had £45,000 at her disposal from the Nightingale Fund to set up the Nightingale Training School at St. Thomas' Hospital on 9 July 1860. (It is now called the Florence Nightingale School of Nursing and Midwifery and is part of King's College London.) The first trained Nightingale nurses began work on 16 May 1865 at the Liverpool Workhouse Infirmary. She also campaigned and raised funds for the Royal Buckinghamshire Hospital in Aylesbury, near her family home.

Nightingale wrote Notes on Nursing, which was published in 1860, a slim 136 page book that served as the cornerstone of the curriculum at the Nightingale School and other nursing schools established. Notes on Nursing also sold well to the general reading public and is considered a classic introduction to nursing. Nightingale would spend the rest of her life promoting the establishment and development of the nursing profession and organizing it into its modern form.

Nightingale's work served as an inspiration for nurses in the American Civil War. The Union government approached her for advice in organizing field medicine. Although her ideas met official resistance, they inspired the volunteer body of United States Sanitary Commission.

In 1869, Nightingale and Elizabeth Blackwell opened the Women's Medical College.

In the 1870s, Nightingale mentored Linda Richards, "America's first trained nurse", and enabled her to return to the USA with adequate training and knowledge to establish quality nursing schools. Linda Richards went on to become a great nursing pioneer in the USA and Japan.

By 1882, Nightingale nurses had a growing and influential presence in the embryonic nursing profession. Some had become matrons at several leading hospitals, including, in London, St Mary's Hospital, Westminster Hospital, St Marylebone Workhouse Infirmary and the Hospital for Incurables at Putney; and throughout Britain, e.g. Royal Victoria Hospital, Netley; Edinburgh Royal Infirmary; Cumberland Infirmary; Liverpool Royal Infirmary as well as at Sydney Hospital, in New South Wales, Australia.

In 1883, Nightingale was awarded the Royal Red Cross by Queen Victoria. In 1907, she became the first woman to be awarded the Order of Merit. In 1908, she was given the Honorary Freedom of the City of London.

By 1896, Florence Nightingale was bedridden. She may have had what is now known as chronic fatigue syndrome. Her birthday is now celebrated as the International CFS Awareness Day. During her bedridden years, she also did pioneering work in the field of hospital planning, and her work propagated quickly across England and the world.

Nightingale was a Christian universalist.[6] On 7 February 1837 – not long before her 17th birthday – something happened that would change her life: "God spoke to me", she wrote, "and called me to His service."

Death

On 13 August 1910, at the age of 90, she died in her room at 10 South Street, Park Lane. The offer of burial in Westminster Abbey was declined by her relatives, and she is buried in the graveyard at St. Margaret Church in East Wellow, Hampshire.[7][8][0]

Contributions

Statistics

Enlarge picture
"Diagram of the causes of mortality in the army in the East" by Florence Nightingale.


Florence Nightingale had exhibited a gift for mathematics from an early age and excelled in the subject under the tutorship of her father. She had a special interest in statistics, a field in which her father, a pioneer in the nascent field of epidemiology, was an expert. She made extensive use of statistical analysis in the compilation, analysis and presentation of statistics on medical care and public health.

Nightingale was a pioneer in the visual presentation of information. Among other things she used the pie chart, which had first been developed by William Playfair in 1801. After the Crimean War, Nightingale used the polar area chart, equivalent to a modern circular histogram or rose diagram, to illustrate seasonal sources of patient mortality in the military field hospital she managed. Nightingale called a compilation of such diagrams a "coxcomb", but later that term has frequently been used for the individual diagrams. She made extensive use of coxcombs to present reports on the nature and magnitude of the conditions of medical care in the Crimean War to Members of Parliament and civil servants who would have been unlikely to read or understand traditional statistical reports.

In her later life Nightingale made a comprehensive statistical study of sanitation in Indian rural life and was the leading figure in the introduction of improved medical care and public health service in India.

In 1858 Nightingale was elected the first female member of the Royal Statistical Society and she later became an honorary member of the American Statistical Association.

Literature and the women's movement

While better known for her contributions in the medical and mathematical fields, Nightingale is also an important link in the study of English feminism. During 1850 and 1852, she was struggling with her self-definition and the expectations of an upper-class marriage from her family. As she sorted out her thoughts, she wrote Suggestions for Thought to Searchers after Religious Truth. The three-volume book has never been printed in its entirety, but a section, called Cassandra, was published by Ray Strachey in 1928. Strachey included it in The Cause, a history of the women's movement. Apparently, the writing served the original purpose of sorting out thoughts; Nightingale left soon after to train at the Institute for deaconesses at Kaiserwerth.

Cassandra protests the over-feminization of women into near helplessness, such as Nightingale saw in her mother and older sister's lethargic lifestyle, despite their education. She rejected their life of thoughtless comfort for the world of social service. The work also reflects her fear of her ideas being ineffective, as were Cassandra's. Cassandra is a virgin-priestess of Apollo who receives a divinely-inspired prophecy, but her prophetic warnings go unheeded. Elaine Showalter called Nightingale's writing "a major text of English feminism, a link between Wollstonecraft and Woolf."[10]

Theology

Suggestions for Thought is also Nightingale's great work of theology, her own theodicee, where she develops her radical heterodox ideas. She was not only a militant feminist but also a radical liberation theologist long before the concept was coined.[11]

Legacy and memory

Enlarge picture
A young Florence Nightingale

Nursing

Florence Nightingale's lasting contribution has been her role in founding the modern nursing profession. She set a shining example for nurses everywhere of compassion, commitment to patient care, and diligent and thoughtful hospital administration.

The work of the Nightingale School of Nursing continues today. The Nightingale building in the School of Nursing and Midwifery at the University of Southampton is named after her. International Nurses Day is celebrated on her birthday each year.

The Florence Nightingale Declaration Campaign,[12] established by nursing leaders throughout the world through the Nightigale Initiative for Global Health (NIGH), aims to build a global grassroots movement to achieve two United Nations Resolutions for adoption by the UN General Assembly of 2008 which will declare: The International Year of the Nurse–2010 (the centennial of Nightingale's death); The UN Decade for a Healthy World–2011 to 2020 (the bicentennial of Nightingale's birth). NIGH also works to rekindle awareness about the important issues highlighted by Florence Nightingale, such as preventive medicine and holistic health. So far, The Florence Nightingale Declaration has been signed by over 13,000 signatories from 78 countries.

During the Vietnam War, Nightingale inspired many US Army nurses, sparking a renewal of interest in her life and work. Her admirers include Country Joe of Country Joe and the Fish, who has assembled an extensive website in her honour.[13]

Three hospitals in Istanbul are named after Nightingale: F. N. Hastanesi in Şişli (the biggest private hospital in Turkey), Metropolitan F.N. Hastanesi in Gayrettepe, and Avrupa F.N. Hastanesi in Mecidiyeköy, all belonging to the Turkish Cardiology Foundation.[14]

The Agostino Gemelli Medical Center[15] in Rome, the first university-based hospital in Italy and one of its most respected medical centres, honoured Nightingale's contribution to the nursing profession by giving the name "Bedside Florence" to a wireless computer system it developed to assist nursing.[16]

There are many foundations named after Florence Nightingale. Most are nursing foundations, but there is also Nightingale Research Foundation in Canada, dedicated to the study and treatment of chronic fatigue syndrome which Nightingale is believed to have had.

There is a psychological effect known as the "Florence Nightingale Effect", whereby nurses and doctors fall in love with their patients.

A bronze plaque, attached to the plinth of the Crimean Memorial in the Haydarpaşa Cemetery, Istanbul and unveiled on Empire Day, 1954 to celebrate the 100th anniversary of her nursing service in that region, bears the inscription:[17]
"To Florence Nightingale, whose work near this Cemetery a century ago relieved much human suffering and laid the foundations for the nursing profession."

Museums

There is a Florence Nightingale Museum in London and another museum devoted to her at her sister's family home, Claydon House, now a property of the National Trust.

The northmost tower of the Selimiye Barracks building is today a museum, and in several of its rooms, relics and reproductions relevant to Florence Nightingale and her nurses are on exhibition.[18]

When she first arrived in Turkey, Nightingale would travel on horseback to make inspections. She then transferred to a mule cart and was reported to have escaped serious injury when the cart was toppled in an accident. Following this episode, she used a solid Russian-built carriage, with a waterproof hood and curtains. The carriage was returned to England after the war and subsequently given to the Nightingale training school for nurses, which she founded at St Thomas's Hospital. The carriage was damaged when the hospital was bombed in the Blitz. It was later restored and transferred to the Army Museum in Aldershot.

Florence Nightingale's voice was saved for posterity in a phonograph recording from 1890 preserved in the British Library Sound Archive.

Other

Several churches in the Anglican Communion commemorate Nightingale with a feast day on their liturgical calendars. So does the Evangelical Lutheran Church in America, which commemorates her as a renewer of society with Clara Maass on 13 August.

The airline KLM has named one of their MD-11 airliners in her memory.[19]

Nightingale Corona, on the surface of Venus is named after her.

The United States Air Force maintains a fleet of 20 McDonnell Douglas C-9A "Nightingale" aeromedical evacuation aircraft.

In the TV series Star Trek Voyager the character Ensign Harry Kim names an alien medical vessel after her.

MC Smith, dedicated nurse historian, credits Nightingale with making the profession "...appealing to the masses."

Logo LENSA Komunika