<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516</id><updated>2011-09-19T09:51:17.882-07:00</updated><category term='tugas Kep Profesional IIC'/><category term='umum'/><category term='Konsep'/><category term='Sistem Urinaria'/><category term='Sistem Reproduksi'/><category term='Final'/><category term='jiwa'/><category term='judul KTI'/><category term='Mid'/><category term='Anak'/><category term='Tugas KDK'/><category term='kep jiwa'/><category term='Kep. Anak'/><category term='Hukum'/><category term='mata'/><category term='Askep Op'/><category term='kep. keluarga'/><category term='Askep Lansia'/><category term='penelitian'/><category term='Askep Keluarga'/><category term='Kep Profesional'/><category term='Sistem Gastrointestinal'/><title type='text'>LENSA ASKEP</title><subtitle type='html'>Selamat Datang Para Mahasiswa Keperawatan dan Juga teman sejawat

Salam Sukses</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-1980844043921622493</id><published>2011-03-08T16:34:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T16:34:53.912-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>Draft RUU Keperawatan</title><content type='html'>Rancangan&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR ……………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;Menimbang:a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan  sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan merupakan bagian integral dari penyelenggaraan upaya kesehatan yang dilakukan oleh perawat berdasarkan kaidah etik, nilai-nilai moral serta standar profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan pada kewenangan yang diberikan kepada perawat karena keahliannya, yang dikembangkan sesuai dengan    kebutuhan kesehatan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan globalisasi. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;e. bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan dan penyelesaian masalah yang timbul dalam penyelenggaraan praktik keperawatan, perlu keterlibatan organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. bahwa untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima pelayanan kesehatan dan perawat diperlukan pengaturan mengenai penyelenggaraan praktik keperawatan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.  bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e dan huruf f, perlu ditetapkan Undang-Undang tentang Keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat 1.  Undang-Undang Dasar 1945; Pasal 20 dan pasal 21 ayat (1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang No. 23, tahun 1992 tentang kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:UNDANG-UNDANG TENTANG KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. &lt;br /&gt;(2) Praktik keperawatan adalah tindakan perawat melalui kolaborasi dengan klien dan atau tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan yang dilandasi dengan substansi keilmuan khusus, pengambilan keputusan dan keterampilan perawat berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip ilmu biologis, psikolologi, sosial, kultural dan spiritual.&lt;br /&gt;(3) Asuhan keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien di sarana pelayanan kesehatan dan tatanan pelayanan lainnya, dengan menggunakan pendekatan ilmiah keperawatan berdasarkan kode etik dan standar praktik keperawatan.&lt;br /&gt;(4) Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(5) Perawat terdiri dari perawat vokasional, perawat professional dan perawat profesinoal spesialis&lt;br /&gt;(6) Perawat vokasional  adalah seseorang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik dengan batasan tertentu dibawah supervisi langsung maupun tidak langsung oleh Perawat Profesioal dengan sebutan Lisenced Vocasional Nurse (LVN)&lt;br /&gt;(7) Perawat professional adalah tenaga professional yang  mandiri, bekerja secara otonom dan berkolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan program pendidikan profesi keperawatan, telah lulus uji kompetensi perawat profesional yang dilakukan oleh konsil dengan sebutan Registered Nurse (RN) &lt;br /&gt;(8) Perawat Profesional Spesialis adalah seseorang perawat yang disiapkan diatas level perawat profesional dan mempunyai kewenangan sebagai spesialis atau kewenangan yang diperluas dan telah lulus uji kompetensi perawat profesional spesialis. &lt;br /&gt;(9) Konsil adalah Konsil Keperawatan Indonesia yang merupakan suatu badan otonom, mandiri, non struktural yang bersifat independen. &lt;br /&gt;(10) Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang perawat untuk menjalankan praktik keperawatan di seluruh Indonesia setelah lulus uji. &lt;br /&gt;(11) Registrasi adalah pencatatan resmi oleh konsil terhadap perawat yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempuyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk melaksanakan profesinya.&lt;br /&gt;(12) Registrasi ulang adalah pencatatan ulang terhadap perawat yang telah diregistrasi setelah memenuhi persyaratan yang berlaku.&lt;br /&gt;(13) Surat Izin Perawat adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat yang akan menjalankan praktik keperawatan setelah memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;(14) Surat Ijin Perawat Vokasional (SIPV) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat vokasional yang telah memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;(15) Surat Ijin Perawat Profesional (SIPP) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat profesional yang telah memenuhi persyaratan &lt;br /&gt;(16) Sarana pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan praktik keperawatan secara mandiri, berkelompok atau bersama profesi kesehatan lain.&lt;br /&gt;(17) Klien adalah orang yang membutuhkan bantuan perawat karena masalah kesehatan aktual atau potensial baik secara langsung maupun tidak langsung&lt;br /&gt;(18) Organisasi profesi adalah Persatuan Perawat Nasional Indonesia.&lt;br /&gt;(19) Kolegium keperawatan adalah kelompok perawat professional  dan perawat profesional spesialis sesuai bidang keilmuan keperawatan yang dibentuk oleh organisasi profesi keperawatan.&lt;br /&gt;(20) Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kesehatan.&lt;br /&gt;(21) Surat tanda registrasi Perawat dalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan Indonesia kepada perawat yang telah diregistrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASAS DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik keperawatan dilaksanakan  berazaskan Pancasila dan berlandaskan pada nilai ilmiah, etika dan etiket, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan dan perlindungan serta keselamatan penerima dan pemberi  pelayanan keperawatan.&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk:&lt;br /&gt;a. memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada klien dan perawat. &lt;br /&gt;b. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LINGKUP PRAKTIK KEPERAWATAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup praktik keperawatan adalah : &lt;br /&gt;a. Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks.&lt;br /&gt;b. Memberikan tindakan keperawatan langsung, terapi komplementer, penyuluhan kesehatan, nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan klien.&lt;br /&gt;c. Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan dan kunjungan rumah.&lt;br /&gt;d. Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal. &lt;br /&gt;e. Melaksanakan program pengobatan dan atau tindakan medik secara tertulis dari dokter. &lt;br /&gt;f. Melaksanakan Program Pemerintah dalam bidang kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KONSIL KEPERAWATAN INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Nama dan Kedudukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam rangka mencapai tujuan yang dimaksud pada Bab II pasal 3, dibentuk Konsil Keperawatan Indonesia yang selanjutnya dalam undang-undang ini disebut Konsil.&lt;br /&gt;(2) Konsil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsil berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Fungsi, Tugas dan Wewenang Konsil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsil mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, pembinaan serta penetapan kompetensi perawat yang menjalankan praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan praktik keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Konsil mempunyai tugas:&lt;br /&gt;a. Melakukan  uji kompetensi dan registrasi perawat; &lt;br /&gt;b. Mengesahkan standar pendidikan perawat &lt;br /&gt;c. Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktik perawat untuk melindungi masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Standar pendidikan profesi keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b di usulkan oleh organisasi profesi dengan melibatkan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 Konsil Keperawatan Indonesia mempunyai wewenang :&lt;br /&gt;a. Mengesahkan standar kompetensi perawat dan standar praktik Perawat yang dibuat oleh organisasi profesi;&lt;br /&gt;b. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi perawat ;&lt;br /&gt;c. Menetapkan seorang perawat kompeten atau tidak melalui mekanisme uji kompetensi;&lt;br /&gt;d. Menetapkan ada tidaknya kesalahan disiplin yang dilakukan perawat;&lt;br /&gt;e. Menetapkan sanksi disiplin terhadap kesalahan disiplin dalam praktik yang dilakukan perawat; dan&lt;br /&gt;f. Menetapkan penyelenggaraan program pendidikan profesi keperawatan berdasarkan rekomendasi Organisasi Profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang Konsil serta pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Konsil Keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Susunan Organisasi dan Keanggotaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Susunan peimpinan  Konsil terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Ketua merangkap anggota&lt;br /&gt;b. Wakil ketua merangkap anggota &lt;br /&gt;c. Ketua- ketua Komite merangkap anggota.&lt;br /&gt;(2) Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas :&lt;br /&gt;a. Komite uji kompetensi dan registrasi&lt;br /&gt;b. Komite standar pendidikan profesi&lt;br /&gt;c. Komite praktik keperawatan&lt;br /&gt;d. Komite disiplin keperawatan&lt;br /&gt;(3) Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing-masing dipimpin oleh 1 (satu) orang Ketua Komite merangkap anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;(1) Ketua konsil keperawatan Indonesia dan ketua komite adalah perawat dan dipilih oleh dan dari anggota konsil keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan ketua konsil dan ketua Komite diatur dalam peraturan konsil keperawatan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;(1) Komite Uji Kompetensi dan Registrasi mempunyai tugas untuk melakukan uji kompetensi dan proses registrasi keperawatan.&lt;br /&gt;(2) Komite standar pendidikan profesi mempunyai tugas menyusun standar pendidikan profesi bersama dengan organisasi profesi dan asosiasi institusi pendidikan keperawatan . &lt;br /&gt;(3) Komite Praktik Keperawatan mempunyai tugas untuk melakukan pemantauan mutu praktik Keperawatan.&lt;br /&gt;(4) Komite Disiplin Keperawatan mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan kepada para perawat, menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan perawat dalam penerapan praktik keperawatan dan memberikan masukan kepada Ketua Konsil.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja komite-komite diatur dengan Peraturan Konsil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Keanggotaan Konsil terdiri dari unsur-unsur wakil Pemerintah, organisasi profesi, institusi pendidikan, pelayanan, dan wakil masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Jumlah anggota Konsil 21 (dua puluh satu) orang yang terdiri atas unsur-unsur yang berasal dari:&lt;br /&gt;a. Anggota yang ditunjuk adalah 12  ( dua belas) orang terdiri dari:&lt;br /&gt;- Persatuan Perawat Nasional Indonesia 3 (tiga) orang;&lt;br /&gt;- Kolegium keperawatan 2 (dua) orang;&lt;br /&gt;- Asosiasi institusi pendidikan keperawatan 2 (dua) orang;&lt;br /&gt;- Asosiasi rumah sakit 1 (satu) orang; &lt;br /&gt;- Asosiasi institusi pelayanan kesehatan masyarakat 1 (satu) orang;&lt;br /&gt;- Tokoh masyarakat 1 (satu) orang;&lt;br /&gt;- Departemen Kesehatan 1 (satu) orang;&lt;br /&gt;- Departemen pendidikan Nasional 1 (satu ) orang&lt;br /&gt;b. Anggota yang dipilih adalah 9 (sembilan) perawat dari 3 (tiga) wilayah utama (barat, tengah, timur) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keanggotaan Konsil ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri dengan rekomendasi organisasi profesi&lt;br /&gt;2. Menteri dalam mengusulkan keanggotaan Konsil harus berdasarkan usulan dari organisasi profesi dan asosiasi sebagaimana dimaksud pada pasal 14 ayat (2).&lt;br /&gt;3. Ketentuan mengenai tata cara pengangkatan keanggotaan Konsil diatur dengan Peraturan Presiden. &lt;br /&gt;4. Masa bakti satu periode keanggotaan Konsil adalah 5 (lima) tahun&lt;br /&gt;5. dan dapat diangkat kembali untuk masa bakti 1 (satu) periode berikutnya, dengan memperhatikan sistem manajemen secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Anggota Konsil sebelum memangku jabatan terlebih dahulu harus mengangkat sumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Sumpah /janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt; Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya, untuk melaksanakan tugas ini, langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apapun juga, tidak memberikan atau menjanjikan sesuatu apapun kepada siapapun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam tugas ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, dalam menjalankan tugas ini, senantiasa menjunjung tinggi ilmu keperawatan dan mempertahankan serta meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan tetap akan menjaga rahasia kecuali jika diperlukan untuk kepentingan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, akan setia, taat kepada Negara Republik Indonesia, mempertahankan, mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, senantiasa akan menjalankan tugas dan wewenang saya ini dengan sungguh-sungguh, saksama, obyektif, jujur, berani, adil, tidak membeda-bedakan jabatan, suku, agama, ras, jender, dan golongan tertentu dan akan melaksanakan kewajiban saya dengan sebaik-baiknya serta bertanggung jawab sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, senantiasa akan menolak atau tidak menerima atau tidak mau dipengaruhi oleh campur tangan siapapun juga dan saya akan tetap teguh melaksanakan tugas dan wewenang saya yang diamanatkan Undang-Undang kepada saya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota Konsil :&lt;br /&gt;a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia;&lt;br /&gt;b. Warga Negara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;c. Sehat rohani dan jasmani;&lt;br /&gt;d. Memiliki kredibilitas baik di masyarakat;&lt;br /&gt;e. Berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan setinggi-tingginya 65 (enam puluh lima) tahun pada waktu menjadi anggota Konsil Keperawatan Indonesia;&lt;br /&gt;f. Mempunyai pengalaman dalam praktik keperawatan minimal 5 tahun dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat, kecuali untuk non perawat;&lt;br /&gt;g. Cakap, jujur, memiliki moral, etika dan integritas yang tinggi serta memiliki reputasi yang baik; dan &lt;br /&gt;h. Melepaskan jabatan struktural dan/atau jabatan lainnya pada saat diangkat dan selama menjadi anggota Konsil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asal 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Keanggotaan Konsil berakhir apabila :&lt;br /&gt;a. Berakhir masa jabatan sebagai anggota;&lt;br /&gt;b. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri;&lt;br /&gt;c. Meninggal dunia;&lt;br /&gt;d. Bertempat tinggal tetap di luar wilayah Republik Indonesia;&lt;br /&gt;e. Ketidakmampuan melakukan tugas secara terus-menerus selama 3 (tiga) bulan;&lt;br /&gt;f. Dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam hal anggota Konsil menjadi tersangka tindak pidana kejahatan, diberhentikan sementara dari jabatannya.&lt;br /&gt;(3) Pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Ketua Konsil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Konsil dibantu sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris konsil&lt;br /&gt;(2) Sekretaris diangkat dan diberhentikan oleh Menteri&lt;br /&gt;(3) Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan anggota konsil &lt;br /&gt;(4) Dalam menjalankan tugasnya sekretaris bertanggung jawab kepada pimpinan Konsil Keperawatan Indonesia&lt;br /&gt;(5) Ketentuan fungsi dan tugas sekretaris ditetapkan oleh Ketua Konsil Keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;Tata Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap keputusan Konsil yang bersifat mengatur  diputuskan oleh rapat  pleno anggota.&lt;br /&gt;(2) Rapat pleno Konsil dianggap sah jika dihadiri oleh paling sedikit setengah dari jumlah anggota ditambah satu.&lt;br /&gt;(3) Keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mufakat.&lt;br /&gt;(4) Dalam hal tidak terdapat kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), maka dapat dilakukan pemungutan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Konsil melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas anggota dan pegawai konsil agar pelaksanaan tugas dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Pembiayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Konsil dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara &lt;br /&gt;(2) Pembiayaan Konsil Keperawatan Indonesia ditetapkan oleh Ketua Konsil Keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;STANDAR PENDIDIKAN PROFESI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Standar pendidikan profesi keperawatan disusun oleh organisasi profesi keperawatan dengan degan melibatkan asosiasi institusi pendidikan keperawatan dan disahkan oleh Konsil Keperawatan Indonesia&lt;br /&gt;(2) Dalam rangka memperlancar penyusunan standar pendidikan profesi keperawatan, organisasi profesi dapat membentuk Kolegium Keperawatan&lt;br /&gt;(3) Standar pendidikan profesi keperawatan dimaksud pada ayat (1):&lt;br /&gt;a. untuk pendidikan profesi Ners disusun oleh Kolegium Ners generalis  dengan melibatkan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.&lt;br /&gt;b. untuk pendidikan profesi Ners Spesialis disusun oleh Kolegium Ners Spesialis dengan melibatkan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPERAWATAN BERKELANJUTAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dan pelatihan keperawatan berkelanjutan dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi perawat yang berpraktik dan dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan keperawatan berkelanjutan yang ditetapkan oleh organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap perawat yang berpraktik wajib meningkatkan kompetensinya melalui pendidikan dan pelatihan keperawatan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi. &lt;br /&gt;(2) Pendidikan dan pelatihan keperawatan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk program sertifikasi yang dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan berkelanjutan perawat yang ditetapkan oleh organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;REGISTRASI dan LISENSI PERAWAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap perawat yang akan melakukan praktik keperawatan di Indonesia harus memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang diterbitkan Konsil melalui mekanisme uji kompetensi oleh konsil.&lt;br /&gt;(2) Surat Tanda Registrasi Perawat sebagaimana ayat (1) terdiri atas 2 (dua) kategori:&lt;br /&gt;a. untuk perawat vokasional, Surat Tanda Registrasi Perawat  disebut dengan Lisenced Vocasional Nurse (LVN)  &lt;br /&gt;b. untuk perawat profesional, Surat Tanda Registrasi Perawat  disebut dengan Registered Nurse (RN) &lt;br /&gt;(3) Untuk melakukan registrasi awal, perawat harus memenuhi persyaratan :&lt;br /&gt;a. memiliki ijazah perawat Diploma atau SPK untuk Lisenced Vocasional  Nurse (LVN)   &lt;br /&gt;b. memiliki ijazah Ners, atau Ners Spesialis untuk Registered Nurse (RN) &lt;br /&gt;c. lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh konsil&lt;br /&gt;d. Rekomendasi Organisasi Profesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam menjalankan praktik keperawatan di Indonesia, lisensi praktik perawat diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang disebut dengan Surat Ijin Perawat yang terdiri dari Surat Ijin Perawat Vokasional (SIPV) atau Surat Ijin Perawat Profesional (SIPP)&lt;br /&gt;(2) Perawat vokasional yang telah memenuhi persyaratan LVN berhak memperoleh SIPV  dan dapat melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan bersama.&lt;br /&gt;(3) Perawat profesional yang telah memenuhi persyaratan RN berhak memperoleh SIPP dan dapat melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan dan praktik mandiri.&lt;br /&gt;(4) Lisenced vocasional Nurse (LVN) dengan latar belakang Diploma III Keperawatan dan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di sarana pelayanan kesehatan dapat mengikuti uji kompetensi Registered Nurse(RN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Syarat untuk memperoleh SIPV :&lt;br /&gt;a. Memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang disebut dengan Lisenced Vocasional Nurse (LVN) &lt;br /&gt;b. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan&lt;br /&gt;c. Melampirkan surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan&lt;br /&gt; (2) Syarat untuk memperoleh SIPP :&lt;br /&gt;a. Memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang disebut dengan Registered Nurse(RN)&lt;br /&gt;b. Tempat praktik memenuhi persayaratan untuk praktek mandiri&lt;br /&gt;c. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan&lt;br /&gt;d. Melampirkan surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan&lt;br /&gt; (3) SIPV dan SIPP masih tetap berlaku sepanjang:&lt;br /&gt;a.  Surat tanda Regstrasi Perawat masih berlaku&lt;br /&gt;b. Tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam SIPP&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tempat praktik untuk memperoleh SIPP diatur dalam peraturan Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Perawat yang teregistrasi berhak menggunakan sebutan RN (Register Nurse) di belakang nama, khusus untuk perawat profesional, atau LVN (Lisence Vocasional Nurse) untuk perawat vokasional.&lt;br /&gt;(2) Sebutan RN dan LVN ditetapkan oleh Konsil Keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Surat Tanda Registrasi Perawat berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang setiap 5 (lima) tahun sekali.&lt;br /&gt;(2) Registrasi ulang untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Perawat  dilakukan dengan persyaratan sebagaimana dimaksud pada pasal 26 ayat (3), ditambah dengan angka kredit pendidikan berlanjut yang ditetapkan Organisasi Profesi.&lt;br /&gt;(3) Surat Ijin Perawat hanya diberikan paling banyak di 2 (dua) tempat pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Perawat Asing yang akan melaksanakan praktik keperawatan di Indonesia harus dilakukan adaptasi dan evaluasi sebelum di registrasi.&lt;br /&gt;(2) Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada sarana pendidikan milik pemerintah sesuai dengan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan mengenai Adaptasi selanjutnya diatur oleh Peraturan Menteri&lt;br /&gt;(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:&lt;br /&gt;a. keabsahan ijazah;&lt;br /&gt;b. registrasi perawat dari negera asal &lt;br /&gt;c. kemampuan untuk melakukan praktik keperawatan yang dinyatakan dengan surat keterangan telah mengikuti program adaptasi dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang dikeluarkan oleh konsil&lt;br /&gt;d. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental; dan&lt;br /&gt;e. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan kode etik keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;(5) Perawat asing selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga harus melengkapi surat izin kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kemampuan berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;(6) Perawat asing yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) dapat diregistrasi oleh konsil dan selanjutnya dapat diberikan Surat Ijin Perawat oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan kualifikasi perawat vokasional atau Profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Surat Ijin Perawat vokasional sementara atau Surat Ijin Perawat Profesional sementara dapat diberikan kepada perawat warga negara asing yang melakukan kegiatan dalam rangka  pendidikan, pelatihan, penelitian, pelayanan keperawatan yang bersifat sementara di Indonesia.&lt;br /&gt;(2) Surat Ijin Perawat vokasional semetara atau Surat Ijin Perawat Profesional sementara sebagai mana dimaksud ayat (1) berlaku selama 1 ( satu) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 ( satu) tahun berikutnya.&lt;br /&gt;(3) Surat Ijin Perawat vokasional sementara atau Surat Ijin Perawat Profesional sementara dapat diberikan apabila telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal 31.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Surat Ijin Perawat Vokasional bersyarat atau Surat Ijin Perawat Profesional bersyarat diberikan kepada peserta program pendidikan keperawatan warga negara asing yang mengikuti pendidikan dan  pelatihan di Indonesia.&lt;br /&gt;(2) Perawat warga negara asing yang akan memberikan pendidikan dan pelatihan dalam rangka alih ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan untuk waktu tertentu, tidak memerlukan SIPP bersyarat.&lt;br /&gt;(3) Perawat warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapat persetujuan dari Konsil.&lt;br /&gt;(4) Surat Ijin Perawat bersyarat dan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) diberikan melalui program adaptasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIPV atau SIPP tidak berlaku karena:&lt;br /&gt;a. dicabut atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;b. habis masa berlakunya dan yang bersangkutan tidak mendaftar ulang;&lt;br /&gt;c. atas permintaan yang bersangkutan;&lt;br /&gt;d. yang bersangkutan meninggal dunia; atau&lt;br /&gt;e. dicabut oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Pejabat yang berwenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara registrasi, registrasi ulang, registrasi sementara, dan registrasi bersyarat diatur dengan Peraturan Konsil Keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik keperawatan dilakukankan berdasarkan pada kesepakatan antara perawat dengan klien dalam upaya untuk peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan, kuratif, dan pemulihan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat yang telah memililki SIPV atau SIPP berwenang untuk:&lt;br /&gt;a. melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan;&lt;br /&gt;b. tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada huruf a meliputi: intervensi/tritmen keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan; &lt;br /&gt;c. dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi;&lt;br /&gt;d. melaksanakan intervensi keperawatan seperti yang tercantum dalam pasal 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat yang telah memiliki SIPV berwenang untuk :&lt;br /&gt;a. melakukan tindakan keperawatan dibawah pengawasan perawat yang memiliki SIPP &lt;br /&gt;b. melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 huruf a harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam keadaan darurat yang mengancam kehidupan atau nyawa klien dan atau pasien, perawat dapat melakukan tindakan diluar kewenangan.&lt;br /&gt;(2) Dalam keadaan luar biasa/bencana, perawat dapat melakukan tindakan diluar kewenangan untuk membantu mengatasi keadaan luar biasa atau bencana tersebut.&lt;br /&gt;(3) Perawat yang bertugas di daerah yang sulit terjangkau dapat melakukan tindakan diluar kewenangannya sebagai perawat.&lt;br /&gt;(4)  Ketentuan mengenai daerah yang sulit terjangkau ditetapkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah melalui peraturan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Praktik keperawatan dilakukan oleh perawat profesional (RN) dan perawat vokasional (LVN).&lt;br /&gt;(2) LVN dalam melaksanakan tindakan keperawatan dibawah pengawasan RN.&lt;br /&gt;(3) Perawat dapat mendelegasikan dan atau menyerahkan tugas kepada perawat lain yang setara kompetensi dan pengalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mempekerjakan perawat yang tidak memiliki SIPV atau SIPP untuk melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Hak Klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dalam menerima pelayanan pada praktik keperawatan, mempunyai hak:&lt;br /&gt;a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 38;&lt;br /&gt;b. meminta pendapat perawat lain;&lt;br /&gt;c. mendapatkan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar&lt;br /&gt;d. menolak tindakan keperawatan; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Kewajiban Klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dalam menerima pelayanan pada praktik keperawatan, mempunyai kewajiban:&lt;br /&gt;a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;&lt;br /&gt;b. mematuhi nasihat dan petunjuk perawat;&lt;br /&gt;c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan&lt;br /&gt;d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Pengungkapan Rahasia Klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungkapan rahasia klien hanya dapat dilakukan atas dasar:&lt;br /&gt;a. Persetujuan klien &lt;br /&gt;b. Perintah hakim pada sidang pengadilan&lt;br /&gt;c. Ketentuan perundangan yang berlaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;Hak Perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat mempunyai hak :&lt;br /&gt;a. Memperoleh perlindungan hukum dan profesi sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan Standar Operasional Prosedur (SOP);&lt;br /&gt;b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan /atau keluarganya;&lt;br /&gt;c. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan otonomi profesi;&lt;br /&gt;d. Memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan dedikasi &lt;br /&gt;e. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya;&lt;br /&gt;f. Menerima imbalan jasa profesi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;Kewajiban Perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat mempunyai kewajiban :&lt;br /&gt;a. Memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan SOP &lt;br /&gt;b. Merujuk klien dan atau pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau tindakan;&lt;br /&gt;c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien dan atau pasien kecuali untuk kepentingan hukum;&lt;br /&gt;d. Menghormati hak-hak klien dan atau pasien dan profesi lain sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku;&lt;br /&gt;e. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan untuk menyelamatkan iwa &lt;br /&gt;f. Menambah dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan keperawatan dalam upaya peningkatan profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;Praktik Mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Praktik mandiri dapat dilakukan secara perorangan dan atau berkelompok&lt;br /&gt;(2) Perawat yang melakukan praktik mandiri mempunyai kewenangan sesuai dengan pasal 4 huruf a, b, c, d, e, dan f. &lt;br /&gt;(3) Kegiatan praktik mandiri meliputi:&lt;br /&gt;a. intervensi mandiri keperawatan, seperti terapi modalitas/komplementer, konseling, perawatan kebugaran, perawatan dirumah atau dalam bentuk lain sesuai dengan peraturan yang berlaku&lt;br /&gt;b. pengobatan dan tindakan medik dasar dengan instruksi atau pengawasan dokter dan protokol dari Ikatan Dokter Indonesia, &lt;br /&gt;(4) Perawat dalam melakukan praktik mandiri sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan:&lt;br /&gt;a. Memiliki tempat praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan;&lt;br /&gt;b. Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi untuk melakukan asuhan keperawatan &lt;br /&gt;(5) Persyaratan perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sesuai dengan standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi.&lt;br /&gt;(6) Perawat yang telah mempunyai SIPP dan menyelenggarakan praktik mandiri wajib memasang papan nama praktik keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;PEMBINAAN, PENGEMBANGAN DAN PENGAWASAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, Konsil Keperawatan, dan Organisasi Profesi Perawat membina, mengembangkan dan mengawasi praktik keperawatan sesuai dengan fungsi serta tugas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pembinaan dan pengembangan perawat meliputi pembinaan profesi dan karir&lt;br /&gt;(2) Pembinaan dan pengembangan profesi perawat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kompetensi profesional dan kepribadian&lt;br /&gt;(3) Pembinaan dan pengembangan profesi perawat dilakukan melalui Jenjang Karir Perawat. &lt;br /&gt;(4) Pembinaan dan pengembangan karir perawat sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat /Peringkat dan promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pemerintah, konsil dan organisasi profesi membina serta mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi perawat pada institusi baik pemerintah maupun swasta;&lt;br /&gt;(2) Pemerintah memberikan anggaran untuk meningkatkan profesionalisme perawat pada institusi pelayanan pemerintah;&lt;br /&gt;(3) Pemerintah menetapkan kebijakan anggaran untuk meningkatkan profesionalisme perawat pada institusi pelayanan swasta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan, pengembangan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50, diarahkan untuk:&lt;br /&gt;a. Melindungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan perawat.&lt;br /&gt;b. Memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan perawat&lt;br /&gt;c. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat;&lt;br /&gt;d. Melindungi perawat terhadap keselamatan dan risiko kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat yang telah memiliki SIPV atau SIPP.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka pembinaan dan pengawasan perawat yang menyelenggarakan praktik keperawatan dapat dilakukan supervisi dan audit sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;Sanksi Administratif dan Disiplin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Perawat yang melanggar ketentuan yang diatur dalam pasal 37 dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 1 (satu) tahun&lt;br /&gt;(2) Perawat yang dinyatakan melanggar disiplin Profesi dikenakan sanksi administrasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Pemberian Peringatan Tertulis&lt;br /&gt;b. Kewajiban mengikuti Pendidikan atau Pelatihan pada Institusi Pendidikan Keperawatan.&lt;br /&gt;c. Rekomendasi Pencabutan Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Perawat&lt;br /&gt;(3) Pencabutan Surat Izin Perawat sebagaimana dimaksud ayat (2) c dapat berupa:&lt;br /&gt;a. Pelanggaran ringan dikenakan sanksi pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 6 (enam) bulan&lt;br /&gt;b. Pelanggaran sedang dikenakan sanksi pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 1 (satu) tahun&lt;br /&gt;c. Pelanggaran berat dikenakan sanksi pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 3 (tiga) tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Sanksi Administratif terhadap pelanggaran disiplin sebagaimana dimaksud ayat (3) dilakukan oleh Kepala Dinas Kab/Kota atau Pejabat yang berwenang setelah dilakukan penelitian dan usul dari Komite Disiplin Keperawatan Konsil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;Sanksi Pidana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat yang telah memiliki SIPV atau SIPP dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp. 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institusi pelayanan kesehatan, organisasi, perorangan yang dengan sengaja mempekerjakan perawat yang tidak memiliki SIPV atau SIPP sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat yang dengan sengaja:&lt;br /&gt;(1). tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud pada pasal 48 ayat (4);&lt;br /&gt;(2). tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 huruf a sampai dengan huruf f&lt;br /&gt;(3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan sanksi pidana harus didasarkan pada motif pelanggaran dan berat ringannya risiko yang ditimbulkan sebagai akibat pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). Pada saat diundangkannya Undang-Undang ini semua peraturan perundang-undangan yang merupakan pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang berkaitan dengan pelaksanaan praktik keperawatan, masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti berdasarkan Undang-undang ini.&lt;br /&gt;(2). Pada saat diundangkannya Undang-Undang ini, ijin praktik yang diberikan sesuai KepMenKes Nomor 1239 Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan, masih tetap berlaku sampai berakhirnya izin praktik tersebut sesuai ketentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan telah diberlakukannya Undang Undang Praktik Keperawatan, sebelum terbentuknya Konsil Keperawatan Indonesia maka dalam kegiatan perijinan dilaksanakan sesuai ketentuan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XI&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsil Keperawatan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) harus dibentuk paling lama 6 (enam) bulan sejak Undang-undang ini diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 61&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku 1 (satu) tahun sejak tanggal diundangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal …………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada Tanggal ……………….&lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. HATTA RAJASA&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ……………&lt;br /&gt;NOMOR ………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;Rancangan&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR ……………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PRAKTIK KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat (1) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2) ;  &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (4) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (5) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (6) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (7) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (8) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (9) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (10) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (11) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (12) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (13) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (14) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (15) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (16) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (17) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (18) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (19) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (20) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (21) ; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASAS DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan;&lt;br /&gt;a. nilai ilmiah adalah bahwa praktik keperawatan harus didasarkan pada ilmu pengetahuan dan tehnologi yang diperoleh baik melalui penelitian, pendidikan maupun pengalaman praktik.&lt;br /&gt;b. Nilai moral (Etika dan etiket) adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan harus mengacu pada prinsip-prinsip moral antara lain beneficience, nonmaleficience, veracity, justice, non-diskriminatif dan otonomi.&lt;br /&gt;c. Manfaat adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.&lt;br /&gt;d. Keadilan adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan harus mampu memberikan pelayanan yang dan tidak diskriminatif, merata, terjangkau dan bermutu dalam konteks pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;e. Kemanusiaan adalah bahwa dalam penyelenggaraan praktik keperawatan memberikan perlakuan yang memenuhi hak azazi manusia sebagai penerima pelayanan yaitu hak memperoleh pelayanan yang aman, hak untuk mendapatkan informasi, hak untuk didengar serta hak untuk memilih. &lt;br /&gt;f. Keseimbangan adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan atas keseimbangan antara hak dan kewajiban penerima dan pemberi pelayanan.&lt;br /&gt;g. Perlindungan dan keselamatan pasien adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan dilakukan dengan kehati-hatian sesuai dengan standard praktik keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LINGKUP PRAKTIK KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 ; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a ;&lt;br /&gt;Asuhan keperawatan diberikan akibat kebutuhan dasar yang  tidak terpenuhi, akibat kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan untuk berfungsi optimal, dan kurangnya  kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf b ; &lt;br /&gt;cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c ; &lt;br /&gt;cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf d ;&lt;br /&gt;Pegobatan adalah pemberian obat-obatan (kecuali obat-obat yang berlabel merah &lt;br /&gt;tidak termasuk obat-obat yang masuk dalam DOA /Daftar obat Apotik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan medik terbatas yang dimaksud adalah tindakan medik termasuk pengobatan dalam rangka penyembuhan dan pemulihan penyakit-penyakit ringan yang biasa timbul dimasyarakat disuatu wilayah (common illness) yang dilakukan oleh perawat professional yang kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf e ; &lt;br /&gt;cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf f :&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KONSIL KEPERAWATAN INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Nama dan Kedudukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Fungsi, Tugas dan Wewenang Konsil&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2) ; &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan standar pendidikan profesi keperawatan adalah pendidikan profesi yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sistim pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan standar pendidikan profesi keperawatan dilakukan oleh organisasi profesi termasuk kolegium dengan melibatkan asosiasi pendidikan keperawatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan asosiasi pendidikan keperawatan adalah Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Susunan Organisasi dan Keanggotaan&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13;&lt;br /&gt;Ayat (1) ; &lt;br /&gt;Uji kompetensi adalah suatu proses penilaian terhadap perawat yang mencakup aspek  pengetahuan, keterampilan serta sikap kerja  minimal yang harus dimiliki  seseorang sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14 ; &lt;br /&gt;Ayat (1); &lt;br /&gt;cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2); &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan anggota konsil yang dipilih sebagaimana huruf  (b) adalah pemilihan melalui mekanisme pencalonan  dari 3 wilayah, masing-masing 3 orang kemudian dilakukan  pemilihan secara serempak di tiga wilayah utama yaitu; barat meliputi pulau sumatera dan Jawa. Wilayah tengah meliputi Kalimantan, Sulawesi, Bali dan NTB. Wilayah timur meliputi  NTT, Kepulauan Maluku dan Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;Tata Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Pembiayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;STANDAR PENDIDIKAN PROFESI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPERAWATAN BERKELANJUTAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;REGISTRASI dan LISENSI PERAWAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;Ayat (1);&lt;br /&gt; Cukup jelas &lt;br /&gt;Ayat (2); &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3); &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1);&lt;br /&gt; Cukup jelas &lt;br /&gt;Ayat (2); &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3); &lt;br /&gt;yang dimaksud dengan persetujuan konsil adalah surat keterangan yang dikeluarkn oleh konsil keperawatan indonesia untuk perawat asing yang melaksanakan tugas di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a, b, c, d ; cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf e ; &lt;br /&gt;Pencabutan SIPP oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota karena perawat dinyatakan melanggar ketentuan administratife atau telah dinyatakan bersalah secara pidana atau perdata oleh pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1); &lt;br /&gt;Tindakan diluar kewenangan dalam keadaan darurat yang dimaksud adalah ditujukan kepada penyelamatan jiwa pasien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat(2); &lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3);  &lt;br /&gt;Perawat yang bertugas didaerah sulit terjangkau adalah dalam rangka membantu pemerintah agar masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1);  &lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2); &lt;br /&gt;Pengawasan yang dilakukan oleh perawat professional kepada perawat vokasional adalah dimaksudkan agar praktik keperawatan berjalan dengan aman sesuai standar profesi dan dalam rangka melindungi masyarakat memperoleh pelayanan keperawatan yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3);   &lt;br /&gt;Pendelegasian kepada perawat yang setara kemampuan dan pengalamanya dimaksudkan agar praktik keperawatan yang diberikan berjalan dengan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41; &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;PEMBINAAN, PENGEMBANGAN DAN PENGAWASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 55&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB XI&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 61 &lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBAR NEGARA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;TAHUN 2009 NOMOR……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANCANGAN&lt;br /&gt;UNDANG UNDANG KEPERAWATAN&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                                                                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA&lt;br /&gt;Jl. Jaya Mandala Raya No. 15 Komplek Patra Kuningan Jakarta Selatan&lt;br /&gt;Telpon : 021-8315069, faks : 021-8315070&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-1980844043921622493?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/1980844043921622493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=1980844043921622493' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1980844043921622493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1980844043921622493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2011/03/draft-ruu-keperawatan.html' title='Draft RUU Keperawatan'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-7510634193510301954</id><published>2011-01-17T18:52:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T19:11:18.774-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Final'/><title type='text'>Proses Keperawatan Keluarga*</title><content type='html'>Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerja sama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga. &lt;br /&gt;Tahap-tahap dalam proses keperawatan saling bergantungan satu sama lainnya dan bersifat dinamis, dan disusun secara sistematis untuk menggambarkan perkembangan dari tahap yang satu ke tahap yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahapan dari proses keperawatan keluarga meliputi :&lt;br /&gt;1.Pengkajian keluarga dan individu di dalam keluarga Yang termasuk pada pengkajian keluarga adalah :&lt;br /&gt;           a. Mengidentifikasi data demografi dan sosiokultural&lt;br /&gt;           b. Data lingkungan &lt;br /&gt;           c. Struktur dan fungsi keluarga&lt;br /&gt;           d. Stress dan strategi koping yang digunakan keluarga&lt;br /&gt;           e. Perkembangan keluarga&lt;br /&gt;           Sedangkan yang termasuk pada pengkajian terhadap individu sebagai anggota keluarga adalah     pengkajian :&lt;br /&gt;          a. Fisik&lt;br /&gt;          b. Mental&lt;br /&gt;          c. Emosi&lt;br /&gt;          d. Sosial&lt;br /&gt;          e. Spiritual&lt;br /&gt;2.Perumusan diagnosis keperawatan&lt;br /&gt;3.Penyusunan perencanaan&lt;br /&gt;  Perencanaan disusun dengan berdasarkan prioritas, menetapkan tujuan, identifikasi sumber daya keluarga, dan menyeleksi intervensi keperawatan.&lt;br /&gt;4.Pelaksanaan asuhan keperawtan&lt;br /&gt;  Perencanaan yang sudah disusun dilaksanakan dengan memobilisasi sumber-sumber daya yang ada di keluarga, masyarakat dan pemerintah.&lt;br /&gt;5.Evaluasi&lt;br /&gt;  Pada tahapan evaluasi, perawat melakukan penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prinsip Pemberian Asuhan Keperawatan pada Keluarga&lt;br /&gt;1.Bekerjasama dengan keluarga secara kolektif&lt;br /&gt;2.Mulai sesuai dengan kemauan keluarga&lt;br /&gt;3.Sesuaikan NCP dengan tahap perkembangan keluarga&lt;br /&gt;4.Terima dan akui struktur keluarga&lt;br /&gt;5.Penekanan pada kemampuan keluarga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep&lt;br /&gt;Tahap Pengkajian (Assessment)&lt;br /&gt;  Pengkajian adalah suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi secara terus-menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya.&lt;br /&gt;  Pengkajian dapat juga diartikan sebagai tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan sistem yang terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasinya (Effendy, 1998).&lt;br /&gt;  Dasar pemikiran dari pengkajian adalah suatu perbandingan, suatu ukuran atau suatu penilaian mengenai keadaan keluarga dengan menggunakan norma-norma yang diambil dari kepercayaan, nilai-nilai, prinsip-prinsip, aturan-aturan dan harapan-harapan, teori, konsep yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga.&lt;br /&gt;Sumber informasi dari tahap pengkajian dapat menggunakan metode :&lt;br /&gt;1.Wawancara&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal-hal yang perlu diketahui, baik aspek fisik, mental, sosial-budaya, ekonomi, kebiasaan, lingkungan, dsb.&lt;br /&gt;2.Observasi-pengamatan &lt;br /&gt;Pengamatan terhadap hal-hal yang tidak perlu ditanyakan, karena sudah dianggap cukup melalui pengamatan saja. Misalnya : yang berkaitan dengan lingkungan fisik (ventilasi, penerangan, kebersihan, dsb).&lt;br /&gt;3.Pemeriksaan fisik dari anggota keluarga (head to toe)&lt;br /&gt;Dilakukan terhadap anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dan keperawatan, berkaitan dengan keadaan fisik. Misalnya : kehamilan, kelainan organ tubuh, dan tanda-tanda penyakit.&lt;br /&gt;4.Data sekunder (studi dokumentasi)&lt;br /&gt;Contoh : hasil laboratorium, hasil rontgen, pap smear, dll. Studi yang berkaitan dengan perkembangan kesehatan anak, diantaranya KMS, kartu keluarga dan catatan-catatan kesehatan lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah :&lt;br /&gt;1.Data umum : &lt;br /&gt;Nama kepala keluarga (KK), alamat dan telpon, pekerjaan kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga dan komposisi keluarga. Selain itu, perlu dikaji pula tentang :&lt;br /&gt;a.Tipe  keluarga : &lt;br /&gt;menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut&lt;br /&gt;b.Suku bangsa : &lt;br /&gt;mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut, serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.&lt;br /&gt;c.Agama : &lt;br /&gt;mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.&lt;br /&gt;d.Status sosial ekonomi keluarga : &lt;br /&gt;status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu, status sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.&lt;br /&gt;e.Aktivitas rekreasi keluarga &lt;br /&gt;Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.Riwayat dan tahap perkembangan keluarga  &lt;br /&gt;a.Tahap perkembangan keluarga saat ini :&lt;br /&gt;Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti. Misalnya : keluarga Bpk. A mempunyai 2 orang anak, anak pertama berusia 8 tahun dan anak kedua berusia 5 tahun, maka keluarga Bpk. A berada pada tahapan perkembangan keluarga dengan usia anak sekolah.&lt;br /&gt;b.Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi&lt;br /&gt;Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga, serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi. Misalnya : keluarga tengah baya, yang seharusnya sudah mampu mendirikan keluarga sendiri, tetapi belum mempunyai rumah sendiri sehingga beberapa tugas tidak terpenuhi.&lt;br /&gt;c.Riwayat keluarga inti&lt;br /&gt;Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit (status imuniasi), sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga, serta pengalaman-pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;d.Riwayat keluarga sebelumnya&lt;br /&gt;Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.Pengkajian Lingkungan&lt;br /&gt;     a. Karakteristik rumah&lt;br /&gt;     b. Karakteristik tetangga dan komunitas setempat&lt;br /&gt;     c. Mobilitas geografis keluarga&lt;br /&gt;     d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat&lt;br /&gt;     e. Sistem pendukung keluarga&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.Struktur keluarga&lt;br /&gt;    a. Pola komunikasi keluarga&lt;br /&gt;    b. Struktur kekuatan keluarga&lt;br /&gt;    c. Struktur peran&lt;br /&gt;    d. Nilai atau norma keluarga&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5.Fungsi keluarga&lt;br /&gt;a.Fungsi afektif&lt;br /&gt;Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.&lt;br /&gt;b.Fungsi sosialisasi&lt;br /&gt;Hal yang perlu dikaji adalah bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.&lt;br /&gt;c.Fungsi perawatan kesehatan &lt;br /&gt;Menjelaskan sejauhmana keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauhmana pengetahuan keluarga mengenai sehat-sakit. Kesanggupan keluarga di dalam melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan keluarga melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan, melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat.&lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu dikaji sejauhmana keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga adalah :&lt;br /&gt;1)Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga mengetahui fakta-fakta dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda-gejala, faktor penyebab dan yang mempengaruhinya, serta persepsi keluarga terhadap masalah.&lt;br /&gt;2)Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat, hal yang perlu dikaji adalah :&lt;br /&gt;- Sejauhmana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah&lt;br /&gt;- Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga&lt;br /&gt;- Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami&lt;br /&gt;- Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari tindakan penyakit&lt;br /&gt;- Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada&lt;br /&gt;- Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan&lt;br /&gt;- Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah&lt;br /&gt;3)Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Yang perlu dikaji adalah :&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya (sifat, penyebaran, komplikasi, prognosa, dan cara perawatannya)&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan &lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, sumber keuangan/finansial, fasilitas fisik, psikososial)&lt;br /&gt;- Bagaimana sikap keluarga terhadap yang sakit&lt;br /&gt;4)Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat. Hal yang perlu dikaji adalah :&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui sumber-sumber keluarga yang dimiliki&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga melihat keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui pentingnya hygiene sanitasi&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengatahui upaya pencegahan penyakit&lt;br /&gt;- Sejauhmana sikap/pandangan keluarga terhadap hygiene sanitasi&lt;br /&gt;- Sejauhmana kekompakan antar anggota keluarga&lt;br /&gt;5)Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan di masyarakat. Hal yang perlu dikaji adalah :&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan&lt;br /&gt;- Sejauhmana keluarga memahami keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan&lt;br /&gt;- Sejauhmana tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas kesehatan&lt;br /&gt;- Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang baik terhadap petugas kesehatan&lt;br /&gt;- Apakah fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga &lt;br /&gt;d.Fungsi reproduksi&lt;br /&gt;Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah berapa jumlah anak, bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga dan metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga.&lt;br /&gt;e.Fungsi ekonomi&lt;br /&gt;Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, serta sejauhmana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6.Stress dan koping keluarga&lt;br /&gt;a.Stressor jangka pendek dan panjang&lt;br /&gt;- Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu + 6 bulan&lt;br /&gt;- Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan&lt;br /&gt;b.Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor&lt;br /&gt;Hal yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga berespon terhadap situasi/stressor.&lt;br /&gt;c.Strategi koping yang digunakan&lt;br /&gt;Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.&lt;br /&gt;d.Strategi adaptasi disfungsional&lt;br /&gt;Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7.Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8.Harapan keluarga&lt;br /&gt;Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep&lt;br /&gt;Analisis Data&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan keluarga disusun berdasarkan jenis diagnosa seperti :&lt;br /&gt;Diagnosa Sehat/Wellness&lt;br /&gt;Diagnosa Ancaman (Risiko)&lt;br /&gt;Diagnosa Nyata/gangguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Sehat/Wellness&lt;br /&gt;Belum ada data yang mall adaptif, perumusan diagnosa P&lt;br /&gt;Contoh : Potensial peningkatan kemampuan keluarga Tn B dalam meningkatkan kesehatan reproduski pada ibu U&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Ancaman (resiko)&lt;br /&gt;Belum terdapat paparan masalah namun sudah ada data maladaptif yang kemungkinan timbulnya gangguan.&lt;br /&gt;Contoh : Resiko berduka disfungsional keluarga Tn Z berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengambil keputusan dalam menghadapi stressor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Aktual (nyata)&lt;br /&gt;Masalah sudah terjadi dan menimbulkan gangguan&lt;br /&gt;Contoh : &lt;br /&gt;Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (Higienis Lingkungan) keluarga Tn A b/d Ketidak mampuan keluarga dalam merekayasa lingkungan sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep&lt;br /&gt;Daftar Diagnosa Keperawatan Keluarga Berdasarkan NANDA 1995&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah lingkungan&lt;br /&gt;DKK pada masalah struktur komunikasi&lt;br /&gt;DKKpada masalah struktur peran&lt;br /&gt;DKK pada masalah fungsi afektif&lt;br /&gt;DKK pada masalah fungsi sosial&lt;br /&gt;DKK pada msalah fungsi per. Keluarga&lt;br /&gt;DKK pada masalah koping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK pada masalah lingkungan&lt;br /&gt;Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (Higienis lingkungan)&lt;br /&gt;Resiko terhadap cedera&lt;br /&gt;Resiko terjadi infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK Kep keluarga pada mas. Struktur komunikasi&lt;br /&gt;Komunikasi keluarga disfungsional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK pada masalah struktur peran&lt;br /&gt;Berduka dan diantisipasi&lt;br /&gt;Berduka disfungsional&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;Perubahan dalam proses keluarga&lt;br /&gt;Potensial peningkatan menjadi ortu&lt;br /&gt;Perubahan menjadi Ortu&lt;br /&gt;Perubahan penampilan peran&lt;br /&gt;Gangguan Citra tubuh&lt;br /&gt;Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK pada masalah fungsi afektif&lt;br /&gt;Perubahan proses keluarga&lt;br /&gt;Perubahan menjadi ortu&lt;br /&gt;Resiko terhadap tindakan kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK pada masalah fungsi sosial&lt;br /&gt;Perubahan proses keluarga&lt;br /&gt;Prilaku mencari bantuan kesehatan&lt;br /&gt;Knflik peran ortu&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;Kerusakan interaksi sosial&lt;br /&gt;Resiko terhadap tindakan kekerasan&lt;br /&gt;Ketidak patuhan&lt;br /&gt;Gangguan identitas pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK pada mas. Fungsi per. kesehatan&lt;br /&gt;Perubahan pemeliharaan kes&lt;br /&gt;Potensial peningkatan pemeliharaan kes&lt;br /&gt;Prilaku mencari pertolongan kes.&lt;br /&gt;Resiko penularan penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKK pada masalah koping&lt;br /&gt;Potensial peningkatan koping keluarga&lt;br /&gt;Koping keluarga tidak efektif, menurun&lt;br /&gt;Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan&lt;br /&gt;Resiko tterhadap tindakan kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep&lt;br /&gt;Etiologi Dx Kep Keluarga adalah&lt;br /&gt;(INGAT 5 Fungsi Perawatan Keluarga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sifat masalah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;skala : Skor&lt;br /&gt;- tidak/kurang sehat  : 3&lt;br /&gt;- ancaman             : 2&lt;br /&gt;- keadaan sejahtera   : 1&lt;br /&gt;                                 BOBOT : 1&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kemungk. mas dapat diubah : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- mudah               : 2&lt;br /&gt;- sebagian            : 1 &lt;br /&gt;- tidak dapat         : 0&lt;br /&gt;                                 BOBOT : 2&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Potensi mas. U/ dicegah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- tinggi              : 3&lt;br /&gt;- cukup               : 2&lt;br /&gt;- rendah              : 1&lt;br /&gt;                                 BOBOT : 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menonjolnya masalah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- berat, segera                               : 2&lt;br /&gt;- ada masalah tapi tak perlu segera ditangani : 1&lt;br /&gt;- masalah tak dirasakan                       : 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                 BOBOT : 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMUS SKOR/ANGKA TERTINGGI KALI BOBOT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-7510634193510301954?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/7510634193510301954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=7510634193510301954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7510634193510301954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7510634193510301954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2011/01/proses-keperawatan-keluarga.html' title='Proses Keperawatan Keluarga*'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-5499694197375017686</id><published>2010-12-22T06:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T07:01:50.636-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mid'/><title type='text'>Konsep Keperawatan Keluarga</title><content type='html'>A. Unit Keluarga menjadi Fokus Sentral dari Perawatan &lt;br /&gt;Salah satu aspek terpenting dari perawatan adalah penekanannya pada unit keluarga. Keluarga, bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien atau resipien keperawatan. Secara empiris, kami menyadari bahwa kesehatan para anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga, mempunyai hubungan yang sangat erat.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Unit dasar ini memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perkembangan seorang individu yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya kehidupan individu tersebut. Keluarga memiliki pengaruh yang penting sekali terhadap pembentukan identitas seorang individu dan perasaan harga diri. Prioritas tertinggi keluarga biasanya adalah kesejahteraan anggota keluarganya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Minuchin (1977), seorang ahli terapi keluarga ternama, membuat ringkasan dengan begitu indah tentang peran ganda yang dimainkan oleh keluarga:&lt;br /&gt;Keluarga merupakan matriks dari perasaan beridentitas dari anggota-anggotanya, merasa memiliki dan berbeda. Tugas utamanya adalah memelihara pertumbuhan psikososial anggota-anggotanya dan kesejahteraan selama hidupnya secara umum…. Keluarga juga membentuk unit sosial yang paling kecil yang mentransmisikan tuntutan-tuntutan dan nilai-nilai dari suatu masyarakat dan dengan demikian melestarikannya. Keluarga harus beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sementara keluarga juga membantu perkembangan dan pertumbuhan anggota sementara itu semua tetap menjaga kontinuitas secara cukup untuk memenuhi fungsinya sebagai kelompok referensi dari individu (Friedman, 1998)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa alasan mengapa unit keluarga harus menjadi fokus sentral dari perawatan : &lt;br /&gt;1. Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan keluarganya, bahwa peran dari keluarga sangat penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga secara individu, mulai dari strategi-strategi hingga fase rehabilitasi. Mengkaji/menilai dan memberikan perawatan kesehatan merupakan hal yang penting dalam membantu setiap anggota kelompok untuk mencapai suatu keadaan sehat (wellness) hingga tingkat optimum. &lt;br /&gt;2. Melalui perawatan kesehatan keluarga yang berfokus pada peningkatan perawatan diri (self-care), pendidikan kesehatan dan konseling keluarga serta upaya-upaya yang berarti yang dapat mengurangi risiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan. Tujuannya adalah mengangkat derajat kesehatan keluarga secara menyeluruh, yang mana secara tidak langsung mengangkat derajat kesehatan dari setiap anggota keluarga. &lt;br /&gt;3. Mengingat keluarga merupakan sistem pendukung yang vital bagi individu-individu, sumber dari kebutuhan-kebutuhan ini perlu dinilai dan disatukan ke dalam perencanaan tindakan bagi individu-individu (Friedman, 1998). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Definisi-definisi Keluarga &lt;br /&gt;Definisi keluarga sangat bermacam-macam tergantung dari dimensi (sudut pandang) mana seseorang membuat definisi, perbedaan ini dapat terjadi karena dilihat dari dimensi sosial, interaksional, formalitas, tradisional atau yang lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Definisi yang berorientasi pada formalitas atau legalitas “Keluarga berkumpulnya dua orang atau lebih dan saling berinteraksi yang ada suatu ikatan perkawinan ataupun adopsi”.&lt;br /&gt;Definisi  keluarga dikemukakan oleh beberapa  ahli :&lt;br /&gt;a. Reisner (1980)&lt;br /&gt;Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek dan nenek.&lt;br /&gt;b. Logan’s (1979)&lt;br /&gt;Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan sebuah kumpulan beberapa komponen yang saling berinteraksi satu sama lain.&lt;br /&gt;c. Gillis (1983)&lt;br /&gt;Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang kompleks dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai arti sebagaimana unit individu.&lt;br /&gt;d. Duvall&lt;br /&gt;Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.&lt;br /&gt;e. Bailon dan Maglaya&lt;br /&gt;Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.&lt;br /&gt;f. Johnson’s (1992)&lt;br /&gt;Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam  satu atap, yang mempunyai ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan orang yang lainnya.&lt;br /&gt;g. Lancester dan Stanhope (1992)&lt;br /&gt;Dua atau lebih individu yang berasal dari kelompok keluarga yang sama atau yang berbeda dan saling menikutsertakan dalam kehidupan yang terus menerus, biasanya bertempat tinggal dalam satu rumah, mempunyai ikatan emosional dan adanya pembagian tugas antara satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;h. Jonasik  and Green (1992)&lt;br /&gt;Keluarga adalah sebuah sistem yang saling tergantung, yang mempunyai dua sifat (keanggotaan dalam keluarga dan berinteraksi dengan anggota yang lainnya).&lt;br /&gt;i. Bentler et. Al (1989)&lt;br /&gt;Keluarga adalah sebuah kelompok sosial yang unik yang mempunyai kebersamaan seperti pertalian darah/ikatan keluarga, emosional, memberikan perhatian/asuhan, tujuan orientasi kepentingan dan memberikan asuhan untuk berkembang.&lt;br /&gt;j. National Center  for Statistic (1990)&lt;br /&gt;Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, atau adopsi dan tinggal bersama dalam satu rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Spradley dan Allender  (1996)&lt;br /&gt;Satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.&lt;br /&gt;l. BKKBN (1992)&lt;br /&gt;Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. Burgess dkk. (1963)membuat definisi yang berorientasi pada tradisi dan digunakan sebagai referensi secara luas : &lt;br /&gt;1. Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah dan ikatan adopsi. &lt;br /&gt;2. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga sebagai rumah mereka. &lt;br /&gt;3. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran-peran sosial seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki dan perempuan, saudara dan saudari. &lt;br /&gt;4. Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri (Friedman, 1998). &lt;br /&gt;n. Whall (1986) dalam analisis konsep tentang keluarga sebagai unit yang perlu dirawat, ia mendefinisikan keluarga sebagai kelompok yang mengidentifikasikan diri dengan anggotanya yang terdiri dari dua individu atau lebih yang asosiasinya dicirikan oleh istilah-istilah khusus, yang boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi yang berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah keluarga. &lt;br /&gt;o. Family Service America (1984) mendefinisikan keluarga dalam suatu cara yang komprehensif, yaitu sebagai ”dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan keintiman”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam menyatukan kedua gagasan sentra dari definisi-definisi diatas, keluarga menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Hariyanto, 2005).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Taylor, 1979 memberikan pengertian secara sederhana keluarga dipandang sebagai sebuah sistem sosial, The family is comprised of a network of a continually evolving interpersonal unions (structure). It is linked of bonds of closeness, security, identity, support and sharing (bonding), and is demarcated by genetic heritage, legal sanction, and interpersonal alliance (boundaries). The family is perpetuated to fill individual biologic, economic, psychologic and social needs (function).    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Definisi-definisi tambahan tentang keluarga berikut ini mengkonotasikan tipe-tipe keluarga secara umum yang dikemukakan untuk mempermudah pemahaman terhadap literatur tentang keluarga: &lt;br /&gt;· Keluarga inti (konjugal) yaitu keluarga yang menikah, sebagai orang tua atau pemberi nafkah. Keluarga inti terdiri dari suami, istri dan anak-anak kandung mereka, anak adopsi atau keduanya. &lt;br /&gt;· Keluarga orientasi (keluarga asal) yaitu unit keluarga yang didalamnya seseorang dilahirkan. &lt;br /&gt;· Keluarga besar yaitu keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan (oleh darah), yang paling lazim menjadi anggota keluarga orientasi yaitu salah satu teman keluarga inti. Berikut ini termasuk sanak keluarga, kakek/nenek, tante, paman dan sepupu (Hariyanto, 2005). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü Tipe-tipe keluarga&lt;br /&gt;ü Struktur dan fungsi keluarga&lt;br /&gt;ü Tumbuh kembang keluarga&lt;br /&gt;ü Tugas perkembangan keluarga&lt;br /&gt;ü Keperawatan kesehatan keluarga&lt;br /&gt;ü Tugas kesehatan keluarga&lt;br /&gt;ü Peran perawat keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Keluarga merupakan bagian terkecil dalam masyarakat. Dalam keperawatan, keluarga merupakan salah satu sasaran asuhan keperawatan. Keluarga memegang peranan penting dalam promosi kesehatan dan pencegahan terhadap penyakit pada anggota keluarganya. Nilai yang dianut keluarga dan latar belakang  etnik/kultur yang berasal dari nenek moyang akan mempengaruhi interpretasi keluarga terhadap suatu  penyakit. Masalah kesehatan  dan adanya krisis perkembangan dalam suatu keluarga dapat mempengaruhi anggota keluarga yang lain karena keluarga merupakan satu kesatuan (unit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah-istilah dalam keluarga:&lt;br /&gt;· Keluarga Sejahtera&lt;br /&gt;Keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada TYME, memiliki hubungan serasi, selaras, dan seimbang  antar  anggota  dan  antar keluarga dengan  masyarakat dan lingkungan.&lt;br /&gt;· Keluarga Berencana&lt;br /&gt;Upaya peningkatan kepedulian dan peran serta  masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan  kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan  keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.&lt;br /&gt;· Kualitas keluarga&lt;br /&gt;Kondisi keluarga yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya, kemandirian keluarga, dan mental spiritual serta nilai-nilai agama yang merupakan dasar untuk mencapai keluarga sejahtera.&lt;br /&gt;· Kemandirian keluarga&lt;br /&gt;Sikap mental dalam hal berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat dalam pembangunan, mendewasakan usia  perkawinanan, membina dan meningkatkan ketahanan keluarga, mengatur kelahiran dan mengembangkan kualitas dan keejahteraan keluarga, berdasarkan kesadaran dan tanggungjawab.&lt;br /&gt;· Ketahanan Keluarga&lt;br /&gt;Kondisi dinamik sebuah keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta  mengandung  kemampuan  fisik-material dan psikis-mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri  dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.&lt;br /&gt;· NKKBS  (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera)&lt;br /&gt;Suatu nilai yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang membudaya dalam diri pribadi, keluarga, dan masyarakat, yang berorientasi kepada kehidupan sejahtera dengan jumlah anak ideal untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kantor Menteri Negara Kependudukan/BKKBN (1996), tahapan keluarga sejahtera terdiri dari:&lt;br /&gt;· Prasejahtera&lt;br /&gt;Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal atau belum seluruhnya terpenuhi seperti:spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB&lt;br /&gt;· Sejahtera I&lt;br /&gt;Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.&lt;br /&gt;· Sejahtera II&lt;br /&gt;Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan kebutuhan sosial  psikologisnya tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan, seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi&lt;br /&gt;· Sejahtera III&lt;br /&gt;Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat atau kepedulian sosialnya belum terpenuhi seperti sumbangan materi, dan berperan aktif dalam kegiatan masyarakat&lt;br /&gt;· Sejahtera III plus&lt;br /&gt;Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan,  dan telah dapat memberikan sumbangan yang teratur  dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan atau memiliki kepedulian sosial yang tinggi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian tentang keluarga, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah:&lt;br /&gt;· Terdiri dari dua orang atau lebih yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan, adopsi&lt;br /&gt;· Biasanya anggota keluarga tinggal bersama atau jika terpisah tetap memperhatikan satu sama lain&lt;br /&gt;· Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sendiri-sendiri&lt;br /&gt;· Mempunyai tujuan (menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri keluarga menurut Stanhope dan Lancaster (1995):&lt;br /&gt;· Diikat dalam suatu tali perkawinan&lt;br /&gt;· Ada hubungan darah&lt;br /&gt;· Ada ikata batin&lt;br /&gt;· Ada tanggung jawab masing-masing anggota&lt;br /&gt;· Ada pengambilan keputusan&lt;br /&gt;· Kerjasama diantara anggota keluarga&lt;br /&gt;· Komunikasi interaksi  antar anggota keluarga&lt;br /&gt;· Tinggal dalam satu rumah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Tipe/Bentuk Keluarga&lt;br /&gt;Keluarga merupakan salah satu bagian  dari bidang garap dunia keperawatan, oleh karena itu supaya perawat bisa memberikan asuhan keperawatan dengan tepat, perawat harus memahami tipe keluarga yang ada..&lt;br /&gt;A. Tradisional  &lt;br /&gt;· The Nuclear family  (keluarga inti)&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari  suami, istri dan anak&lt;br /&gt;· The dyadic family&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah.&lt;br /&gt;· Keluarga usila&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua dengan anak yang sudah memisahkan diri.&lt;br /&gt;· The childless family&lt;br /&gt;Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan  anak terlambat waktunya yang disebabkan  karena mengejar karier/pendidikan yang terjadi pada wanita.&lt;br /&gt;· The extended family&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah, seperti nuclear family disertai: paman, tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan&lt;br /&gt;· The single parent family&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses  perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hokum pernikahan)&lt;br /&gt;· Commuter family&lt;br /&gt;Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja di luar kota bisa berkumpul  pada anggota keluarga pad saat ”weekend”&lt;br /&gt;· Multigenerational family&lt;br /&gt;Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.&lt;br /&gt;· Kin-network family&lt;br /&gt;Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama (contoh: dapur, kamar mandi, televisi, telepon,dll)&lt;br /&gt;· Blended family&lt;br /&gt;Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan  anak  dari perkawinan sebelumnya.&lt;br /&gt;· The single adult living alone/single adult family&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan  (perceraian atau ditinggal mati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Non-Tradisional&lt;br /&gt;· The unmarried teenage mother&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah&lt;br /&gt;· The stepparent family&lt;br /&gt;Keluarga dengan orang tua tiri&lt;br /&gt;· Commune family&lt;br /&gt;Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan  melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.&lt;br /&gt;· The nonmarital heterosexsual cohabiting family&lt;br /&gt;Keluarga yan hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan&lt;br /&gt;· Gay and lesbian families&lt;br /&gt;Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana ”marital pathners”&lt;br /&gt;· Cohabitating couple&lt;br /&gt;Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan pernikahan karena beberapa alasan tertentu&lt;br /&gt;· Group-marriage family&lt;br /&gt;Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexsual dan membesarkan anak.&lt;br /&gt;· Group network family&lt;br /&gt;Keluarga inti yang dibatasi oleh set  aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan  barang-barang rumah  tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan  anaknya&lt;br /&gt;· Foster family&lt;br /&gt;Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang  aslinya.&lt;br /&gt;· Homeless family&lt;br /&gt;Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.&lt;br /&gt;· Gang &lt;br /&gt;Sebuah bentuk keluarga yang destruktif  dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;3. Struktur dan Fungsi  Keluarga&lt;br /&gt;A. Struktur Keluarga&lt;br /&gt;Struktur dan fungsi  merupakan hal yang berhubungan erat dan terus  menerus  berinteraksi satu sama lain. Struktur didasarkan pada organisasi, yaitu perilaku anggota keluarga dan pola hubungan dalam keluarga. Hubungan yang  ada dapat bersifat kompleks, misalnya seorang wanita bisa sebagai istri, sebagai ibu, sebagai menantu, dll yang semua itu mempunyai kebutuhan, peran dan harapan yang berbeda. Pola hubungan itu akan membentuk kekuatan dan struktur peran dalam keluarga. Struktur keluarga dapat diperluas dan dipersempit tergantung dari kemampuan dari keluarga tersebut untuk merespon stressor yang ada dalam keluarga. Struktur keluarga yang sangat kaku atau sangat  fleksibel dapat mengganggu atau merusak fungsi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi keluarga yang berhubungan dengan struktur:&lt;br /&gt;a. Struktur egalisasi : masing-masing keluarga mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat (demokrasi)&lt;br /&gt;b. Struktur yang hangat, menerima dan toleransi&lt;br /&gt;c. Struktur yang terbuka, dan anggota yang terbuka mendorong kejujuran dan kebenaran (honesty and authenticity)&lt;br /&gt;d. Struktur yang kaku : suka melawan dan tergantung pada peraturan&lt;br /&gt;e. Struktur yang bebas : tidak adanya aturan yang memaksakan (permisivenes)&lt;br /&gt;f. Struktur yang kasar : abuse (menyiksa, kejam dan kasar)&lt;br /&gt;g. Suasana emosi yang dingin (isolasi, sukar berteman)&lt;br /&gt;h. Disorganisasi keluarga (disfungsi individu, stress emosional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Friedman (1988) struktur keluarga terdiri atas:&lt;br /&gt;a.Pola dan Proses Komunikasi &lt;br /&gt; Komunikasi dalam keluarga ada yang berfungsi dan ada yang tidak, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang ada dalam komponen komunikasi seperti : sender, chanel-media, massage, environtment dan reciever.&lt;br /&gt; Komunikasi dalam keluarga yang berfungsi adalah: &lt;br /&gt; 1). Karakteristik pengirim yang berfungsi&lt;br /&gt;· Yakin ketika menyampaikan pendapat&lt;br /&gt;· Jelas dan berkualitas&lt;br /&gt;· Meminta feedback&lt;br /&gt;· Menerima feedback&lt;br /&gt; 2). Pengirim yang tidak berfungsi&lt;br /&gt;· Lebih menonjolkan asumsi (perkiraan tanpa menggunakan dasar/data yang obyektif)&lt;br /&gt;· Ekspresi yang tidak jelas (contoh: marah yang tidak diikuti ekspresi wajahnya)&lt;br /&gt;· Jugmental exspressions, yaitu ucapan yang memutuskan/menyatakan sesuatu yang tidak didasari pertimbangan yang matang. Contoh ucapan salah benar, baik/buruk, normal/tidak normal, misal: ”kamu ini kurang ajar...”, ”kamu wajib...”&lt;br /&gt;· Tidak mampu mengemukakan kebutuhan&lt;br /&gt;· Komunikasi yang tidak sesuai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3). Karakteristik penerima yang berfungsi&lt;br /&gt;· Mendengar&lt;br /&gt;· Feedback (klarifikasi, menghubungkan dengan pengalaman)&lt;br /&gt;· Memvalidasi &lt;br /&gt; 4). Penerima yang tidak berfungsi&lt;br /&gt;· Tidak bisa mendengar dengan jelas/gagal mendengar&lt;br /&gt;· Diskualifikasi, contoh : ”iya..... namun....”&lt;br /&gt;· Offensive (menyerang bersifat negatif)&lt;br /&gt;· Kurang mengeksplorasi (miskomunikasi)&lt;br /&gt;· Kurang memvalidasi&lt;br /&gt; 5). Pola komunikasi di dalam keluarga yang berfungsi&lt;br /&gt;· Menggunakan emosional : marah, tersinggung, sedih, gembira&lt;br /&gt;· Komunikasi terbuka dan jujur&lt;br /&gt;· Hirarki kekuatan dan peraturan keluarga&lt;br /&gt;· Konflik keluarga dan penyelesaiannya&lt;br /&gt; 6). Pola komunikasi di dalam keluarga yang tidak berfungsi&lt;br /&gt;· Fokus pembicaraan hanya pada sesorang (tertentu)&lt;br /&gt;· Semua menyetujui (total agreement) tanpa adanya diskusi&lt;br /&gt;· Kurang empati&lt;br /&gt;· Selalu mengulang isu dan pendapat sendiri&lt;br /&gt;· Tidak mampu memfokuskan pada satu isu&lt;br /&gt;· Komunikasi tertutup&lt;br /&gt;· Bersifat negatif&lt;br /&gt;· Mengembangkan gosip&lt;br /&gt;b. Struktur peran&lt;br /&gt;Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi  individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai istri/suami  atau anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Perilaku peran&lt;br /&gt;Peranan  ayah : pencari nafkah, pelindung dan pemberi rasa aman, kepala keluarga, sebaagai anggota dari kelompok  sosialnya  serta sebagai  anggota masyarakat  dari  lingkungannya.&lt;br /&gt;Peranan ibu :  mengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik  anak-naknya, pelindung dan sebagai salah satu anggota kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai  anggota  masyarakat dari  lingkungannya,  serta bisa berperan sebagai pencari nafkah  tambahan dalam keluarga.&lt;br /&gt;Peranan anak : melaksanakan peranan psiko sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Struktur kekuatan&lt;br /&gt;Kekuatan merupakan kemampuan (potensial atau aktual) dari individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain ke arah positif.&lt;br /&gt;Tipe struktur kekuatan:&lt;br /&gt;· Legitimate power/authority (hak untuk mengontrol, seperti orang tua terhadap anak)&lt;br /&gt;· Referent power (seseorang yang ditiru)&lt;br /&gt;· Resource or expert  power (pendapat ahli)&lt;br /&gt;· Reward power (pengaruh kekuatan karena adanya harapan yang akan diterima)&lt;br /&gt;· Coercive power (pengaruh yang dipaksakan sesuai keinginannya)&lt;br /&gt;· Informational power (pengaruh yang dilalui melalui proses persuasi)&lt;br /&gt;· Affective power  (pengaruh yang diberikan melalui manipulasi dengan cinta kasih misalnya hubungan seksual)&lt;br /&gt;Hasil dari kekuatan tersebut  yang  akan mendasari suatu proses dalam pengambilan keputusan dalam keluarga seperti::&lt;br /&gt;· Konsensus&lt;br /&gt;· Tawar menawar atau akomodasi&lt;br /&gt;· Kompromi atau de facto&lt;br /&gt;· Paksaan&lt;br /&gt;d. Nilai-nilai keluarga&lt;br /&gt;Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak, mempersatukan  anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Fungsi Keluarga&lt;br /&gt;Friedman (1992) menggambarkan fungsi sebagai  apa yang dilakukan keluarga. Fungsi keluarga berfokus pada proses yang digunakan oleh keluarga untuk  mencapai tujuan keluarga tersebut. Proses ini termasuk komunikasi diantara anggota keluarga, penetapan tujuan, resolusi konflik, pemberian makanan, dan penggunaan sumber dari internal  maupun eksternal&lt;br /&gt;Tujuan reproduksi, seksual, ekonomi dan pendidikan dalam keluarga memerlukan dukungan secara psikologi  antar  anggota keluarga, apabila dukungan tersebut  tidak  didapatkan maka akan menimbulkan konsekuensi emosional seperti marah, depresi dan perilaku yang menyimpang&lt;br /&gt;Tujuan yang ada dalam keluarga akan lebih mudah dicapai  apabila terjadi komunikasi yang jelas  dan secara langsung. Komunikasi tersebut  akan  mempermudah menyelesaikan konflik dan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Fungsi keluarga menurut Friedman (1992) adalah:&lt;br /&gt;· Fungsi  afektif dan koping&lt;br /&gt;Keluarga memberikan kenyamanan emosional  anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan mempertahankan saat terjadi stress.&lt;br /&gt;· Fungsi sosialisasi&lt;br /&gt;Keluarga sebagai guru, menanamkan kepercayaan, nilai, sikap, dan mekanisme koping, memberikan feedback, dan memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;· Fungsi reproduksi&lt;br /&gt;Keluarga melahirkan anak, menumbuh-kembangkan anak  dan meneruskan keturunan.&lt;br /&gt;· Fungsi ekonomi&lt;br /&gt;Keluarga memberikan finansial untuk  anggota keluarganya dan kepentingan di masyarakat&lt;br /&gt;· Fungsi fisik&lt;br /&gt;Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Fungsi  keluarga  menurut  Allender (1998):&lt;br /&gt;· Affection&lt;br /&gt;1). Menciptakan suasana persaudaraan/menjaga perasaan&lt;br /&gt;2). Mengembangkan kehidupan seksual dan kebutuhan seksual&lt;br /&gt;3). Menambah  anggota baru&lt;br /&gt;· Security  and acceptance&lt;br /&gt;1). Mempertahankan kebutuhan fisik&lt;br /&gt;2). Menerima individu sebagai  anggota&lt;br /&gt;· Identity and satisfaction&lt;br /&gt;1). Mempertahankan motivasi&lt;br /&gt;2). Mengembangkan peran dan self image&lt;br /&gt;3). Mengidentifikasi tingkat sosial dan  kepuasan  aktivitas&lt;br /&gt;· Affiliation and companionship&lt;br /&gt;1). Mengembangkan pola komunikasi&lt;br /&gt;2). Mempertahankan hubungan yang harmonis&lt;br /&gt;· Socialization&lt;br /&gt;1). Mengenal kultur (nilai dan perilaku)&lt;br /&gt;2). Aturan/pedoman hubungan internal dan eksternal&lt;br /&gt;3). Melepas  anggota&lt;br /&gt;· Controls&lt;br /&gt;1). Mempertahankan kontrol sosial&lt;br /&gt;2). Adanya pembagian kerja&lt;br /&gt;3). Penempatan dan menggunakan sumber daya yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Fungsi keluarga menurut BKKBN (1992):&lt;br /&gt;· Fungsi keagamaan  : memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.&lt;br /&gt;· Fungsi sosial budaya : membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat  perkembangan  anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.&lt;br /&gt;· Fungsi cinta kasih : memberikan kasih sayang dan rasa  aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga&lt;br /&gt;· Fungsi melindungi : melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman&lt;br /&gt;· Fungsi reproduksi : meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memelihara dan merawat  anggota keluarga&lt;br /&gt;· Fungsi sosialisasi dan pendidikan : mendidik  anak sesuai dengan tingkat  perkembangannya, menyekolahkan anak, bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik&lt;br /&gt;· Fungsi ekonomi : mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,  pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa datang&lt;br /&gt;· Fungsi pembinaan lingkungan&lt;br /&gt;Fungsi keluarga dengan usila:&lt;br /&gt;Fungsi keluarga harus  dimodifikasi untuk mengetahui kebutuhan yang spesifik pada usila dan memfokuskan pada:&lt;br /&gt;· Memperhatikan kebutuhan fisik secara penuh&lt;br /&gt;· Memberikan kenyamanan dan support &lt;br /&gt;· Mempertahankan hubungan dengan keluarga dan masyarakat&lt;br /&gt;· Menanamkan perasaan pengertian hidup&lt;br /&gt;· Manajemen krisis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-5499694197375017686?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/5499694197375017686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=5499694197375017686' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/5499694197375017686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/5499694197375017686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2010/12/konsep-keperawatan-keluarga.html' title='Konsep Keperawatan Keluarga'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-3932864597328368015</id><published>2010-12-14T22:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T22:16:44.267-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Askep Lansia'/><title type='text'>MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///D:%5CDOCUME%7E1%5Czhafirah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///D:%5CDOCUME%7E1%5Czhafirah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///D:%5CDOCUME%7E1%5Czhafirah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:311057312; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1768380036 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:63.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:63.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;I.PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keberhasilan Pembangunan khususnyadi bidang kesehatan menumbulkan jumlah penduduk yang meninggal dalam usia muda menurun drastis dan harapan hidup rata-rata semakin panjang.Ini berarti bahwa dalam kangka panjang jumlah golongan penduduk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam usia lanjut semakin besar.Data di biro statistik menunjukkan bahwa sensus penduduk th 1995 terdapat 12,7 juta orang yang berusia 60 tahun keatas.Hal ini dapat menimbulkan masalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baru apabila tidak kita perhatikan sejak dini.Karena pada kenyataannya sering kita jumpai orang yang merasa takut dalam menghadapi usia lanjut.Mereka takut dengan adanya perubahan fisik,badannya tidak menarik seperti pada saat masih muda,rambutnya mulai banyak uban ,kulitnya mulai banyak keriput.timbulnya menopause,takut menghadapi pensiun,merasa tidak ada peranan penting lagi,merasa tidak dapat berkarier lagi,merasa tersaingi dengan yang mida dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketakutan dalam menghadapi usia lanjut ini dapat menimbulkan mereka mempunyai harga diri yang rendah,sulit tidur,tidak nafsu makan,tidak bergairah dalam bekerja,dan bahkan dapat menimbulkan seseorang mengalami gangguan jiwa.Sebetulnya keadaan ini tidak perlu terjadi apabila ada persiapan dalam menghadapi usia lanjut dan mereka berani dalam menghadapi tantangan atau bahaya pada usia ini ,dengan demikian maka kesempatan manis bagi pertumbuhan dan pengembangan diri tidak hilang,mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh,serta dapat menikmati usia lanjut dengan bahagia dan sejahtera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;II .PROSES MENJADI LANJUT USIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Proses menjadi lanjut usia atau menjadi tua menghadapkan orang pada salah satu tugas yang paling sulit dalam perkembangan hidup manusia.Menurut kodratnya,manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalam proses menjadi tua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Pada mulanya mereka melawan kenyataan yang tidak terelakkan bahwa mereka menjadi tua dan akhirnya dengan hati sakit mereka hanya bisa menerima.Pada saat ini lepaslah segala ambisinya,mereka menjadi kesal dan kehilangan semangat hidup.Bagi mereka pada usia itu hidup praktis berhenti,meskipun mereka masih mondar-mandir sebagai warga masyarakat yang gelisah tanpa tujuan .Dengan keadaan itu yang bersangkutan tiadak mengerti bahwa proses untuk menjadi tua&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memberikan kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Ada beberapa tingkatan umur yang berbeda-beda,dari kanak-kanaj,remaja dan tingkat dewasa.Kita juga tahu bagaimana penting dan sulitnya menghadapi masa peralihan dengan tepat,dari tingkat kanak-kanank ke remaja,dan kemudian ke tingkat dewasa.Namin hal ini tidak selalu kita sadari.Demikianpun kebanyakan orang tidak menyadari bahwa peralihan dari usia tengah baya yang aktif ke tingkat usia lanjut juga membawa krisis yang berat.Pembicaraan mengenai hal ini tidak banyak kita dengar ,karena kebanyakan orang tidak mau mengakui,baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,bahwa setiap orang merasa perlu tetap muda,atau sekurang-kurangnya berusaha tetap tampil muda.Akan tetapi penipuan diri yang kosong ini tidak dapat mengubah kenyataan ,bahwa siapapun secara pelan-pelan menjadi usia lanjut.Orientasi pada budaya muda itu dapat mempersulit orang dalam proses menjadi usia lanjut dengan rasa bahagia,sebab mereka hanya mendapat sedikit pengertian dan bantuan dari masyarakat dalam menghadapi krisis masa transisi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Kenyataan tidak dapat kita ingkari,siapapun dari kita ini kalau tidak didahlui mati,tentu akan berhadapan dengan krisis usia lanjut.Semua wanita lambat atau cepat akan menyadari bahwa pesonanya akan memudar.Mereka akan sadar bahwa daya tarik tubuhnya semakin berkurang.Orang dapat tetap memuji kecakapannya,sukses dalam profesi,dan nama baiknya,tetapi itu semua baginya tidak lebih dari pensiun di hari tua.Sakit badan tertentu membuat mereka merasakan gangguan kekuatannya dan pemikirannya.Wanita yang telah menjadi usia lanjut akan menjadi cepat marah,mudah tersinggung dan gelisah,tenaganya semakin merosot,semakin lemah.Pagi hari kehilangan daya tariknya,siang hari menjemukan,sore dan malam hari terasa berlangsung panjang dalam sunyi sepi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Ketika orang mencapai usia lanjut ,ia mengalami kesusahan siang dan malam,sekonyong-konyong apa saja menjadi persoalan misalnya kehidupan profesionalny,hubungan dengan bawahannya dan kehidupan seksualnya.Keluarganya menjadi lebih kecil,karena anak –anak menjadi lebih dewasa dan meninggalkan lingkungan keluarga.Seringkali dirasakan bahwa efisiensi kerjanya merosot dam kreativitasnya menurun.Kebanyakan orang pada umur ini mulai kehilangan kepercayaan diri dan rasa amannya.Apapun yang terjadi membuat dirinya kebingungan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Sementara itu ia dapat merasa bangga atas keberhasilan generasi baru,sejauh ikut menentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keberhasilan itu dan dapat menikmati sukses pertamanya.Namun apabila tgenerasi baru ini lambat laun mengambil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oper tugasnya,maka ia mulai merasakan bahwa rasa pedih dan cemburu mulai merayapi dirinya yang semula berela hati.Inilah tanda lahiriah pertama mulai berkembangnya krisis orang menua.Adapun secara batiniah,rasa dingin semakin dalam timbul dalam dirinya dan timbul pertanyaan:”hidup terus berlangsung,mungkinkah pada sutu hari aku tidak diperlukan lagi”.Dan pada kesempatan ini dapat muncul gagasan,bahwa ia dapat terhempas dari kehidupan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;III.PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menjadi tua tidak berarti mundur secara psikologis.Dya ingat memang berkurang,sebab orang lebih memperhatikan hal-hal penting,sedangkan yang kurang penting tidakdiingat .Di luar negeri pernah diadakan percobaan mendirikan universitas yang menerima mahasiswa yang sudah berusia lanjut.Ternyat banyak orang yang berusia lanjut yang berhasil.Semangat belajar mereka lebih besar daripada orang-orang muda.Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih lebih banyak dibandingkan dengan yang muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa masalah sosial dan psikologi yang dihadapi pada usia lanjut antaralain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1 . Pensiun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Idealnya ,masa pensiun merupakan wktu untuk menikmati hal lain dalam hidup ini,menjadi santai,melaksanakan cita-cita berkelana,aktif dalam bidang sosial dan filsafat.Tetapi kadang-kadang dalam kenyataannya pensiun sering diartikan sebagai ”kehilangan” pekerjaan,penghasilan,kedudukan ,jabatan,peran sosial,dan juga harga diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2 . Fungsi Mental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada umumnya terjadi penurunan fungsi kognitif dan psikomotor.Fungsi kognitif meliputi prises belajar,pemahaman,pengertian ,tindakan dan lain-lain menurun,sehingga perilaku cenderung lebih lambat.Usia senja yang menderita demensia,perubahan dan penurunan fungsi kognitif akan lebih jelas dan progresif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fungsi psikomotor yang meliputi dorongan kehendak/bertindak pada umumnya mulai melambat sehingga reaksi dan koordinasinya juga menjadi lambat.Sedangkan hal yang positif yaitu dihormati ,dituakan,disegani,lebih bijaksana,lebih hati-hati dalam tindakan,tempat meminta nasehat.Secara garis besar ada 5 tipe kepribadian pada usia senja:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tipe Konstruktif :Orang yang sejak muda dapat menerima fakta dan kehidupan,menjadi tua diterima dengan santai.Mereka memiliki sifat yang toleran dan fleksibel,sehingga lentur dalam menerima kenyataan misalnya pensiyn,kehilangan pasangan dan sebagainya,mereka nrimo tetapi bukan pasrah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tipe Dependen: Sifat pasif tak berambisi ,optimistik tak dilaksanakan perkawinan terlambat,didominasi oleh istri.Pada usia senja senang karena pensiun dan santai,banyak makan dan menikmati hari libur.Tetepi bila mereka kehilangan pasangan hidupnya merasa kehilangan tempat bergantung yang merupakan masalah besar ,sehingga tidak jarang mereka terus menerus sakit-sakitan dan akhirnya menyusul pasangannya lebih cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tipe Independen (mandiri):Pada masamudanya merupakan orang yang aktif dalam pergaulan sosial,reaksi penyesuaian diri cukup baik dan cenderung menolak tawaran / bantuan orang lain.Keadaan tersebut cenderung dipertahankan sampai usia senja sehingga cemas menghadapi masa tua,misalnya cenderung menunda masa pensiun atau tetap bertahan aktif dalam profesi atau pekerjaannya dan tidak tampak menikmati masa tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tipe Bermusuhan : Orang yang cenderung menyalahkan orang lain untuk kesalahannya,sering mengeluh,agresif,curiga,riwayat pekerjaan tidak tetap,tidak dapat melihat segi positif pada usia lanjut,takut akan kematian,iri terhadap orang muda.Sering menunjukkan perilaku yang seoalah-olah mencari ketenangan sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gambaran yang menggambarkan dirinya tidak tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tipe Benci diri : Orang yang kritis terhadao dirinya ,tidak berambisi dalam pekerjaan.Perkawinan kurang bahagia karena banyak menyesali diri,anak serta pasangan hidupnya,seolah-olah masa lalu yang seharusnya diisi dengan segala keinginan sudah lewat,akhirnya pasrah tetapi tidak ”nrimo”.Hal ini menyebabkan gairah hidup menurun ditambah kenyataan kondisi sosial ekonomi yang menurun ,sehingga banyak mengalami krisis.Tkut akan kematian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3 . Kehilangan pasangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kematian pasangannya merupakan stress psikososial yang sangat berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4 . Fungsi Seksual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sering menurun karena penyakit fisik seperti jantung koroner,diabetes melitus,artritis.Akibatnya harus makan obat anti hipertensi,anti diabetika,steroida,obat penenang.Sebagian usia senja harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjalani pembedahan seperti prostatektomi.Menderita vagintis dan malnutrisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5 . Menemukan Kebahagiaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bentuk-bentuk pernyataan kebahagiaan dan kegembiraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang khas pada masa muda ,tidak lagi mempunyai daya tarik pada masa usia senja.Ada beberapa kegiatan menarik yang tidak bisa dilaksanakan,misalnya kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik misalnya olah raga atau perjalanan jauh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kebahagiaan di masa lampau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sewaktu masih muda,kini bagi kebanyakan usia senja hal-hal tersebut hanya menjadi kenangan.Bagi usia senja,tidaklah menguntungkan untuk bermimpi diluar jangkauannya.Dalam hidup ini tahap demi tahap orang harus mengembangkan minat pada hal-halyang memberikan kegembiraan apabila mau menjadi orang sepenuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan di masa tuanya.Bagi sementara orang bisa terjadi,cuculah yang menjadi sumber kesenangan dan kepuasan.Orang lain mengembangkan perhatiannya di bidang seni,musik dan buku-buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;7 . Kematangan Iman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah seseorang. Memasuki usia tua ,banyak terjadi persoalan-persoalan mengenai kesehatan ,dorongan seksual,jaminan ekonomi.Hal-hal seperti ini nampak tidak stabil lagi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.Maka tidaklah mengherankan apabila timbul kebimbangan iman.Orang akan mempunyai problema yang berat,apabila imannya tidak berkembang matang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada usia senja,iman kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu diperdalam dan dimatangkan,agar persoalan-persoalan yang dihadapi tidak menjadi terlalu berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;8 . Menemukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makna Hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Salah satu persoalan pokok orang usia senja ialah pemikiran yang menakutkan bahwa mungkin dirinya sudah tidak berarti lagi.Dia merasa dirinya sudah tidak diperlukan lagi ditempat kerjanya,dalam keluarga dan masyarakat.Banyak orang usia senja yang menderita neurosis dan bermacam-macam ketidakseimbangan mental kaena kekosongan dan tidak adanya tujuan hidup di masa senja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada usia senja,seseorang harus dapat menemukan kembali makna hidupnya.Menemukan kembali makna hidup pada masa senja tergantung pada kesehatan,kemampuan dan situasi konkrit kehodupan pribadi yang bersangkutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi beberapa orang,merawat cucu-cucunya dapat menghilangkan rasa takut dan dapat mengembalikan kesadarn baru akan tujuan hidup dan kegembiraan di usia senja.Banyak orang usia senja merasa lebih muda lagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika diminta memberi nasihat . Perasaan berguna dan diperlukan,dapat mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri yang sudah menipis dan memberikan makna hidup baru dan tujuan hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;9 . Membina Perkawinan Menjadi Satu Kesatuan Yang Baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi pasnagn suami istri, saat suami pensiun dapat merusak hubungan mereka,tetapi juga dapat menjadi awal hidup bersama yang sempurna.Pada waktu pensiun,istri takut apabila suami mencampuri urusan tumah tangga.Dengan ikut campurnya suami dalam urusan rumah tangga,sering menimbulkan pertengkaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akan tetapi perkawinan dapat juga mengalami perubahan yang sebaliknya.Pada masa suami pensiun hubungan suami istri dapatmenjadi intim.Untuk membina perkawinan menjadi satu kesatuan diperlukan komunikasi ,hubungan yang mendalam antara suami dan istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;V.KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;usia lanjut merupakan masayang sulit dalam perkembangan hidup seseorang.Menurut kodratnya,manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalm proses menjadi tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada masa ini terjadi perubahan fisik,juga banyak terjadi perubahan psikologi dan sosial.Pada masa usia lanjut seseorangharus bisa menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya,mampu mengahdapai problema kesepian,mulai mendekatkan diri kepada yang kuasa,menerima masatua dengan wajar,berlatih bijaksana,mencapai keutuhan dan menemukan makna hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penyesuaian diri dengan terjadinya perubahan psikologi dan sosial pada usia lanjut,maka seseoarang akan mampu hidup sehat dan bahagia,bagi para usia lanjut yang sulit menemukan diri dengan berbagai perubahan psikologi maupun sosial,maka mereka tidak bisa menikmati usia senja dengan bahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-3932864597328368015?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/3932864597328368015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=3932864597328368015' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/3932864597328368015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/3932864597328368015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2010/12/menyesuaikan-diri-dengan-perubahan.html' title='MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-864526143043180229</id><published>2010-02-17T19:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T19:36:46.617-08:00</updated><title type='text'>ALAT KOTRASEPSI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. Alat Kontrasepsi  IUS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table width="200" align="right" bgcolor="#999999" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td bgcolor="#ffcccc"&gt;&lt;img src="http://www.medicastore.com/images/prof_biran.jpg" alt="" width="200" height="267" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="center" bgcolor="#ffcccc"&gt;Prof. Dr. dr. Biran, SpOG &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hal yang berkaitan dengan kehamilan adalah mengenai  perencanaan waktu hamil dan waktu tidak hamil. Prof Biran, seorang pakar  obstetri dan ginekologi menjelaskan tentang pemilihan kontrasepsi  jangka panjang. Kontrasepsi di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan  keluarga berencana (KB).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk skala dunia,  sterilisasi wanita merupakan pilihan KB terbesar yaitu sebanyak 29% yang  diikuti dengan IUD (Intra Uterine Device) sebanyak 21%. Sedangkan  pengguna KB di Indonesia lebih menyukai jenis suntikan yaitu sebesar  35,2% atau sebanyak 9,743,550 wanita, berdasarkan survei BKKBN tahun  2006 lalu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“KB hormon seperti sistem  kafetaria, artinya banyak macamnya dan boleh memilihnya,” jelas Prof  Biran. Bentuk KB hormon yang bisa dipilih, antara lain: pil, patches  (koyo), injeksi, IUD hormon, cincin vagina dan implant (susuk).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lebih lanjut, Prof Biran mengemukakan jenis kontrasepsi  jangka panjang yang aman dengan &lt;em&gt;brand name&lt;/em&gt; Mirena. Mirena  merupakan IUS (intra uterine system) hormon yang akan melepaskan  levonorgestrel 20 mcg tiap hari. Sekali dipasang, Mirena dapat digunakan  selama 5 tahun bahkan lebih.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebenarnya  Mirena bukan merupakan IUS hormon yang baru ditemukan melainkan  penyempurnaan IUS generasi pertama. IUS generasi pertama yang disetujui  oleh FDA tahun 1976 yaitu Progestasert.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;IUS  generasi pertama ini mengandung 38 mg of progesteron, dengan dosis  pelepasan 65 µg progesteron tiap hari. Sayangnya, penggunaan  Progestasert menyebabkan risiko kehamilan ektopik (hamil di luar rahim)  sehingga dilarang penggunaannya sejak musim panas 2001.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Prof Biran yang berpraktek di Klinik Raden Saleh  menjelaskan bahwa dengan menggunakan Mirena akan mendapatkan keuntungan  penggunaan pil KB dan IUD sekaligus. Beberapa keuntungan pil atau KB  oral adalah sangat efektif, mengurangi kehilangan darah akibat  menstruasi, dan mengurangi penyakit radang panggul.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Keuntungan IUD adalah tidak membutuhkan motivasi untuk  minum pil setiap hari, kerjanya lama, bebas estrogen dan reversibel  (artinya bila dilepas akan bisa hamil kembali).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Selain sperma, kuman penyebab penyakit kelamin juga  tidak bisa masuk ke dalam rahim bila menggunakan Mirena,” tambah Prof  Biran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mirena berfungsi mencegah pertumbuhan  sel-sel endometrium (sel-sel dinding rahim), menebalkan cairan sekresi  leher rahim dan menimbulkan flek darah tapi jarang menstruasi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Prof Biran menjelaskan bahwa penggunaan Mirena dapat  menyebabkan perubahan pada pola perdarahan (menstruasi). Sekitar 3 bulan  sampai 6 bulan setelah pemasangan, hanya terjadi flek &amp;amp; darah  menstruasi yang semakin berkurang. Kemudian 6 bulan setelah pemasangan  akan menyebabkan terjadinya &lt;em&gt;amenorrhea&lt;/em&gt; (tidak menstruasi).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mirena memiliki bentuk menyerupai huruf T dengan ukuran  32 x 32 mm. IUS ini dapat dipasang di dalam rahim wanita pada saat:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setelah  pil KB terakhir atau selama perdarahan (menstruasi).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika  sudah menggunakan IUD &lt;em&gt;copper&lt;/em&gt;, dikeluarkan dahulu baru diganti.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekitar  4-6 minggu setelah melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keguguran, segera setelah  prosedur pemindahan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wanita usia akhir 30 tahun  untuk melindungi endometrium (sel-sel uterus).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan IUS ini dapat  mengganggu hubungan suami istri,” ungkap Prof Biran. Hal ini disebabkan  oleh adanya benang di ujung bawah IUS yang mungkin dapat mengiritasi  alat kelamin suami. Untuk mengatasinya, benang tersebut bisa dipotong.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menurut Prof Biran, penggunaan produk hormon memang  dapat menyebabkan kanker bila dalam kadar yang tinggi dan tidak bisa  dikendalikan. Namun, IUS ini mengandung hormon yang sudah digunakan  dalam bentuk pil dan susuk sehingga keamanannya sudah terbukti.  Efektivitas Mirena sebagai kontrasepsi dikarenakan pelepasan  levonorgestrel yang terkendali setiap harinya sebanyak 20 mcg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.  Masa Hamil dan Persalinan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;table width="200" align="left" bgcolor="#999999" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td bgcolor="#ffcccc"&gt;&lt;img src="http://www.medicastore.com/images/dr_watt_wing_fong.jpg" alt="" width="200" height="267" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="center" bgcolor="#ffcccc"&gt;Dr. Watt Wing Fong&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p align="justify"&gt;Memulai suatu keluarga merupakan babak baru dalam  kehidupan. Untuk yang baru pertama kali yang belum punya pengalaman  terutama hamil tentunya akan merasa was-was. Mana mitos dan mana yang  fakta?Apa yang harus dipercaya atau siapa yang harus dipercaya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dr. Watt Wing Fong, konsultan Obstetric &amp;amp;  Gynecology dari Raffles Hospital menjelaskan panjang lebar mengenai  informasi seputar kehamilan dan persalinan dalam seminar Pregnancy 101.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Perubahan fisik dan psikologis dapat terjadi saat  hamil,” jelas Dr. Watt. Kehamilan terdiri dari 3 tahap yang dikenal  dengan trimester ke-1 (dari awal sampai minggu ke-12), trimester ke-2  (minggu ke-12 sampai minggu ke-28) dan trimester ke-3 (minggu ke-28  sampai melahirkan).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penting untuk mengetahui  apa yang terjadi pada setiap trimester tersebut dan cara mengatasinya  sehingga anda bisa menjalankan kehamilan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Trimester  1 : 12 minggu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada trimester 1 terjadi  yang biasa disebut morning sickness yang ditandai dengan mual, perubahan  selera makan, masuk angin /bersendawa, lelah, buang air kecil terus  menerus, berat badan turun, perdarahan dan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hal-hal tersebut tentu akan mengganggu kehidupan  sehari-hari. Untuk mengatasi &lt;em&gt;morning sickness&lt;/em&gt;, hindari makanan  yang membuat gejalanya semakin memburuk. Sebaiknya makan sedikit tapi  sering dan jika terasa mengganggu boleh minum obat anti mual/muntah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk mengatasi masuk angin/bersendawa, makanlah  kentang manis atau makanan yang mengandung gas. Disamping itu, makanlah  dalam porsi yang sedikit tapi sering. Sebaiknya pilihlah makanan yang  mudah dicerna dan menurut Dr. Watt, dibolehkan untuk minum yang  mengandung gas untuk memudahkan melepaskan gas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada trimester 1 ini wanita hamil tidak perlu  menghindari makanan, melainkan lakukanlah diet seimbang yang rendah  garam dan rendah lemak, makanan yang berserat tinggi seperti sayuran dan  buah-buahan. Pilihlah ikan atau daging putih dibandingkan daging merah.  Minumlah vitamin dan mineral yang cukup terutama asam folat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hal yang perlu dihindari oleh wanita hamil adalah minum  alkohol, merokok, makanan yang tidak dimasak atau tidak higienis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Obat-obatan seperti obat penurun panas, obat batuk,  obat mual dan muntah, obat diare umumnya aman dikonsumsi oleh wanita  hamil.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun yang perlu dihindari adalah obat  jerawat yang mengandung isotretinoin dan antibiotik tetrasiklin yang  dapat mempengaruhi janin. Selain itu, hindari juga bahan kimia seperti  saat facial, cat rambut, produk kecantikan/pelangsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Trimester  ke-2 (12-28 minggu)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada trimester ke-2,  morning sickness cenderung membaik, perut membuncit, gerakan jabang  bayi mulai terasa pada minggu 20 sampai 22. Wanita hamil akan merasa  kelelahan, sakit punggung dan napas pendek.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mungkin  juga mengalami tekanan darah rendah. Sama seperti pada trimester 1,  buang air kecil terus menerus ditambah dengan konstipasi, kram perut dan  &lt;em&gt;stretch marks&lt;/em&gt; yang mulai muncul.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saat  kondisi lemah, hindari langsung berdiri tiba-tiba. Untuk mengatasi  konstipasi yang disebabkan gerakan usus yang kurang akibat kerja dari  hormon kehamilan dan diperburuk oleh zat besi, makanlah makanan yang  berserat dan minum air putih..&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Masalah  pembengkakan kaki yang disebabkan retensi air dapat diatasi dengan  mengangkat kaki dan menggunakan stoking ketat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dokter  akan menawarkan untuk dilakukan tes sindrom Down sejak minggu ke-15  pada pasien yang risikonya rendah, dan pemeriksaan cairan ketuban  (amniocentesis) sejak minggu ke-16 pada pasien risiko tinggi untuk  mendeteksi kromosom yang abnormal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pemeriksaan  ultrasound dilakukan sekitar minggu ke-20 untuk mendeteksi struktur  janin yang abnormal, meskipun hasilnya tidak 100% akurat. Selain itu,  dokter akan menawarkan pemeriksaan diabetes pada saat minggu ke-28 pada  pasien berisiko tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Trimester ke-3 (setelah 28  minggu sampai melahirkan)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Trimester  terakhir ini ditandai dengan perut yang semakin membuncit, pembengkakan  ankle, varises, konstipasi, sakit pinggang, kelelahan, napas pendek,  sering buang air kecil, kontraksi tanpa rasa sakit (Sindrom Braxton  Hicks), guratan yang terasa gatal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dokter akan  memantau pertumbuhan janin, tekanan darah dan keberadaan janin di  trimester terakhir kehamilan ini. “Segera konsultasi ke dokter bila  kontraksi terasa sakit, pecahnya air ketuban, berdarah (risiko bayi  prematur), gerakan janin tidak ada atau melemah,” kata Dr. Watt.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dokter akan melakukan ultrasound untuk mengetahui kadar  air amnion, mendeteksi bayi saat distress, pemeriksaan vagina untuk  menentukan pembukaan leher rahim, mendiskusikan cara melahirkan, pilihan  pereda nyeri, bila memerlukan induksi sampai caesar untuk kasus  tertentu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-864526143043180229?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/864526143043180229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=864526143043180229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/864526143043180229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/864526143043180229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2010/02/alat-kotrasepsi.html' title='ALAT KOTRASEPSI'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-433961464736199250</id><published>2010-02-17T19:31:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T19:32:18.650-08:00</updated><title type='text'>KESEHATAN IBU DAN ANAK : PERSEPSI BUDAYA DAN DAMPAK KESEHATANNYA</title><content type='html'>http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm%20linda2.pdf&lt;br /&gt;LINDA T. MAAS&lt;br /&gt;Fakultas Kesehatan Masyarakat&lt;br /&gt;Universitas Sumatera Utara&lt;br /&gt;Pendahuluan :&lt;br /&gt;Hingga saat ini sudah banyak program-program pembangunan kesehatan di Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya program-program tersebut lebih menitik beratkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu. Hal ini terbukti dari hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar. Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang selama dua dekade ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. SKRT 1994 menunjukkan hahwa MMR sebesar 400 – 450 per 100.000 persalinan.&lt;br /&gt;Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas. Penyakit-penyakit tertentu seperti ISP A, diare dan tetanus yang sering diderita oleh bayi dan anak acap kali berakhir dengan kematian. Demikian pula dengan peryakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis dan lain-lain dapat membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan.&lt;br /&gt;Baik masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.&lt;br /&gt;Makanan, penyakit dan kesehatan anak.&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bayi adalah makanan yang diberikan. Dalam setiap masyarakat ada aturan-aturan yang menentukan kuantitas, kualitas dan jenis-jenis makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh anggota-anggota suatu rumah tangga, sesuai dengan kedudukan, usia, jenis kelamin dan situasi-situasi tertentu. Misalnya, ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan atau dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tertentu; ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapat jumlah makanan yang lebih banyak dan bagian yang lebih baik daripada anggota keluarga yang lain; atau anak laki-laki diberi makan lebih dulu daripada anak perempuan. Walaupun pola makan ini sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan, namun yang paling berperan mengatur menu setiap hari dan mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah ibu; dengan kata lain ibu mempunyai peran sebagai gate- keeper dari keluarga.&lt;br /&gt;©2004 Digitized by USU digital library 1&lt;br /&gt;Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia kita bisa melihat konsepsi budaya yang terwujud dalam perilaku berkaitan dengan pola pemberian makan pada bayi yang berbeda, dengan konsepsi kesehatan modern. Sebagai contoh, pemberian ASI menurut konsep kesehatan moderen ataupun medis dianjurkan selama 2 (dua) tahun dan pemberian makanan tambahan berupa makanan padat sebaiknya dimulai sesudah bayi berumur 4 tahun. Namun, pada suku Sasak di Lombok, ibu yang baru bersalin selain memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya lebih dahulu) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi. Sementara pada masyarakat Kerinci di Sumatera Barat, pada usia sebulan bayi sudah diberi bubur tepung, bubur nasi nasi, pisang dan lain-lain. Ada pula kebiasaan memberi roti, pisang, nasi yangsudah dilumatkan ataupun madu, teh manis kepada bayi baru lahir sebelum ASI keluar. Demikian pula halnya dengan pembuangan colostrum (ASI yang pertama kali keluar). Di beberapa masyarakat tradisional, colostrum ini dianggap sebagai susu yang sudah rusak dan tak baik diberikan pada bayi karena warnanya yang kekuning-kuningan. Selain itu, ada yang menganggap bahwa colostrum dapat menyebabkan diare, muntah dan masuk angin pada bayi. Sementara, colostrum sangat berperan dalam menambah daya kekebalan tubuh bayi.&lt;br /&gt;Walaupun pada masyarakat tradisional pemberian ASI bukan merupakan permasalahan yang besar karena pada umumnya ibu memberikan bayinya ASI, namun yang menjadi permasalahan adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi. Disamping pola pemberian yang salah, kualitas ASI juga kurang. Hal ini disebabkan banyaknya pantangan terhadap makanan yang dikonsumsi si ibu baik pada saat hamil maupun sesudah melahirkan. Sebagai contoh, pada masyarakat Kerinci ibu yang sedang menyusui pantang untuk mengkonsumsi bayam, ikan laut atau sayur nangka. Di beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur.&lt;br /&gt;Adanya pantangan makanan ini merupakan gejala yang hampir universal berkaitan dengan konsepsi "panas-dingin" yang dapat mempengaruhi keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia -tanah, udara, api dan air. Apabila unsur-unsur di dalam tubuh terlalu panas atau terlau dingin maka akan menimbulkan penyakit. Untuk mengembalikan keseimbangan unsur-unsur tersebut maka seseorang harus mengkonsumsi makanan atau menjalani pengobatan yang bersifat lebih "dingin" atau sebaliknya. Pada, beberapa suku bangsa, ibu yang sedang menyusui kondisi tubuhnya dipandang dalam keadaan "dingin" sehingga ia harus memakan makanan yang "panas" dan menghindari makanan yang "dingin". Hal sebaliknya harus dilakukan oleh ibu yang sedang hamil (Reddy, 1990).&lt;br /&gt;Menurut Foster dan Anderson (1978: 37), masalah kesehatan selalu berkaitan dengan dua hal yaitu sistem teori penyakit dan sistem perawatan penyakit. Sistem teori penyakit lebih menekankan pada penyebab sakit, teknik-teknik pengobatan pengobatan penyakit. Sementara, sistem perawatan penyakit merupakan suatu institusi sosial yang melibatkan interaksi beberapa orang, paling tidak interaksi antar pasien dengan si penyembuh, apakah itu dokter atau dukun. Persepsi terhadap penyebab penyakit akan menentukan cara pengobatannya. Penyebab penyakit dapat&lt;br /&gt;dikategorikan ke dalam dua golongan yaitu personalistik dan naturalistik. Penyakit- penyakit yang dianggap timbul karena adanya intervensi dari agen tertentu seperti perbuatan orang, hantu, mahluk halus dan lain-lain termasuk dalam golongan personalistik. Sementara yang termasuk dalam golongan naturalistik adalah penyakit- penyakit yang disebabkan oleh kondisi alam seperti cuaca, makanan, debu dan lain-lain.&lt;br /&gt;©2004 Digitized by USU digital library 2&lt;br /&gt;Dari sudut pandang sistem medis moderen adanya persepsi masyarakat yang berbeda terhadap penyakit seringkali menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh ada masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami kejang- kejang disebabkan karena kemasukan roh halus, dan hanya dukun yang dapat menyembuhkannya. Padahal kejang-kejang tadi mungkin disebabkan oleh demam yang tinggi, atau adanya radang otak yang bila tidak disembuhkan dengan cara yang tepat dapat menimbulkan kematian. Kepercayaan-kepercayaan lain terhadap demam dan diare pada bayi adalah karena bayi tersebut bertambah kepandaiannya seperti sudah mau jalan. Ada pula yang menganggap bahwa diare yang sering diderita oleh bayi dan anak-anak disebabkan karena pengaruh udara, yang sering dikenal dengan istilah "masuk angin". Karena persepsi terhadap penyebab penyakit berbeda-beda, maka pengobatannyapun berbeda-beda. Misalnya, di suatu daerah dianggap bahwa diare ini disebabkan karena "masuk angin" yang dipersepsikan sebagai "mendinginnya" badan anak maka perlu diobati dengan bawang merah karena dapat memanaskan badan si anak.&lt;br /&gt;Sesungguhnya pola pemberian makanan pada anak, etiologi penyakit dan tindakan kuratif penyakit merupakan bagian dari sistem perawaatan kesehatan umum dalam masyarakat (Klienman, 1980). Dikatakan bahwa dalam sistem perawatan kesehatan ini terdapat unsur-unsur pengetahuan dari sistem medis tradisional dan moderen. Hal ini terlihat bila ada anak yang menderita sakit, maka si ibu atau anggota keluarga lain akan melakukan pengobatan sendiri (self treatment) terlebih dahulu, apakah itu dengan menggunakan obat tradisional ataupun obat moderen. Tindakan pemberian obat ini merupakan tindakan pertama yang paling sering dilakukan dalam upaya mengobati penykit dan merupakan satu tahap dari perilaku mencari penyembuhan atau kesehatan yang dikenal sebagai "health seeking behavior". Jika upaya ini tidak berhasil, barulah dicari upaya lain misalnya membawa ke petugas kesehatan seperti dokter, mantri dan lain-lain.&lt;br /&gt;Kehamilan, persalinan dan kematian ibu.&lt;br /&gt;Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan kesehatan ibu di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang berhubungan dengan persalinan. Menghadapi masalah ini maka pada bulan Mei 1988 dicanangkan program Safe Motherhood yang mempunyai prioritas pada peningkatan pelayanan kesehatan wanita terutama paada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan.&lt;br /&gt;Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Pacta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.&lt;br /&gt;Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Pada penelitian yang dilakukan yang dilakukan di RS Hasan Sadikin, Bandung, dan 132 ibu yang meninggal, 69 diantaranya tidak pernah memeriksakan kehamilannya atau baru datang pertama kali pada kehamilan 7 -9 bulan (Wibowo, 1993). Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan&lt;br /&gt;©2004 Digitized by USU digital library 3&lt;br /&gt;dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu, dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek, menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pacta saat melahirkan.&lt;br /&gt;Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan- pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah pedesaan. Dari data SKRT 1986 terlihat bahwa prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia sebesar 73,7%, dan angka menurun dengan adanya program-program perbaikan gizi menjadi 33% pada tahun 1995. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan darah.&lt;br /&gt;Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Contoh lain di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo, 1993).&lt;br /&gt;Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Sejumlah faktor memandirikan peranan dalam proses ini, mulai dari ada tidaknya faktor resiko kesehatan ibu, pemilihan penolong persalinan, keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan kesehatan, kemampuan penolong persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi keadaan gawat.&lt;br /&gt;Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu. Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan rninyak kelapa untuk memperlancar persalinan), "kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandar dan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).&lt;br /&gt;Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak&lt;br /&gt;©2004 Digitized by USU digital library 4&lt;br /&gt;dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan.&lt;br /&gt;lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup. Secara medis, . penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi.&lt;br /&gt;Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.&lt;br /&gt;Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).&lt;br /&gt;lmplikasi terhadap kebijakan pembangunan KIA.&lt;br /&gt;Uraian sebelumnya telah memperlihatkan bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Menempatkan petugas kesehatan dan membangun fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. Seperti diketahui ternyata perilaku-perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk, mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Memang tidak semua praktek/perilaku masyaiakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis/kesehatan. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis, tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak&lt;br /&gt;©2004 Digitized by USU digital library 5&lt;br /&gt;menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah (change agent) maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan, maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Dalam hal melakukan upaya-upaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya, baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Oleh karena itu, penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan, masa kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa.&lt;br /&gt;Kepustakaan :&lt;br /&gt;Central Bureau of Statistics et al 1995 Indonesia DemograQhic and health Survey&lt;br /&gt;Departemen Kesehatan R.I 1994 Profil Kesehatan Indonesia 1994, Pusat Data Kesehatan, Jakarta&lt;br /&gt;Foster, George M dan Barbara G. Anderson 1986 Antropologi Kesehatan, diterjemahkan oleh Meutia F. Swasono dan Prijanti Pakan. Jakarta: UI Press&lt;br /&gt;Iskandar, Meiwita B., et al 1996 Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat, Depok, Pusat Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian, Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;Kalangi, Nico S 1994 Kebudayaan dan Kesehatan, Jakarta: Megapoin.&lt;br /&gt;Koentjaraningrat dan A.A Loedin 1985 llmu-ilmu sosial dalam Pembangunan Kesehatan, Jakarta: PT Gramedia.&lt;br /&gt;Raharjo, Yulfita dan Lorraine Comer 1990 "Cultur Attitudes to health and sickness in public Health programs: a demand-creation approach using data from West Aceh, Indonesia",Health Transition: The Cultural. Social and Behavioral determinants of Health, volume 11. Disunting oleh John C. Caldwell, et al., Canberra: Health Transition Centre.&lt;br /&gt;Reddy, P.H. 1990 "Dietary practices during pregnancy, lactation and infaancy : Implications for Health", Health Transition : The Culture. Social and Behavioral determinants of Health, volume II. Disunting oleh John C. Caldwell, et al., Canberra: Health Transition Centre.&lt;br /&gt;Wibowo, Adik 1993 Kesehatan Ibu di Indonesia: Status "Praesens" dan Masalah yang&lt;br /&gt;dihadapi di lapangan. Makalah yang dibawakan pada Seminar " Wanita dan Kesehatan", Pusat Kaajian Wanita FISIP UI, di Jakarta&lt;br /&gt;©2004 Digitized by USU digital library 6&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-433961464736199250?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/433961464736199250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=433961464736199250' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/433961464736199250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/433961464736199250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2010/02/kesehatan-ibu-dan-anak-persepsi-budaya.html' title='KESEHATAN IBU DAN ANAK : PERSEPSI BUDAYA DAN DAMPAK KESEHATANNYA'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-1221261139137813955</id><published>2009-12-14T18:40:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T18:45:06.459-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tugas Kep Profesional IIC'/><title type='text'>Untuk II C APM</title><content type='html'>Jelaskan perbedaan Antara,&lt;br /&gt;Proses Keperawatan dan Asuhan Keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaskan menurut anda.&lt;br /&gt;Sebutkan Nama dan NIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakai Acount Google anda sendiri, tidak memakai Acount orang lain&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-1221261139137813955?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/1221261139137813955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=1221261139137813955' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1221261139137813955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1221261139137813955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/12/untuk-ii-c-apm.html' title='Untuk II C APM'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-1001077207474185550</id><published>2009-10-23T00:48:00.001-07:00</published><updated>2009-10-23T00:48:59.673-07:00</updated><title type='text'>Sebutkan nama, NIM dan kelas</title><content type='html'>Benarkah Florence Naghtingale Perawat Pertama dunia?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-1001077207474185550?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/1001077207474185550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=1001077207474185550' title='150 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1001077207474185550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1001077207474185550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/10/sebutkan-nama-nim-dan-kelas.html' title='Sebutkan nama, NIM dan kelas'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>150</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-9031940814271632905</id><published>2009-10-22T21:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T00:54:06.747-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas KDK'/><title type='text'>Tugas Sejarah Keperawatan Indonesia</title><content type='html'>Sebutkan Nama dan NIM serta Kelas.......&lt;br /&gt;Komentar anda tidak akan masuk jika anda tidak memiliki acount Google&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELAS IA dan IB. Dengan sangat menyesal. Terhitung sejak tanggal 22 Oktober 2009, maka tugas dari kelas tersebut dinyatakan diTOLAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IB (Sampai Posting ini dibuat, 22/10/09) TIDAK ADA SATU ORANGPUN YANG MEMASUKKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IA : Mereka yang diterima tugasnya adalah:&lt;br /&gt;Nim : 09 : 001. 002. 003. 005. 009. 012. 014. 017. 018. 020. 021. 027. 030. 032. 033. 038. 040. 044. 045. 046. 047. 050. 054. 055. 057. 058. 060.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas tersebut menjadi bagian penilaian tambahan (penugasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELAS IC akan direkap terakhir hari sabtu, Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-9031940814271632905?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/9031940814271632905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=9031940814271632905' title='49 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/9031940814271632905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/9031940814271632905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/10/tugas-sejarah-keperawatan-indonesia.html' title='Tugas Sejarah Keperawatan Indonesia'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>49</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-7781861666714624007</id><published>2009-10-21T00:53:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T00:54:43.720-07:00</updated><title type='text'>Florence Nightingale</title><content type='html'>&lt;table id="HeaderTable" width="100%" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td id="MainTitle" nowrap="nowrap"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;td style="padding-top: 6pt;" width="100%" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;td id="Timer"&gt;0.01 sec.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;div style="border-left: 15px solid white; width: 210px; float: right;" class="outerpic"&gt;&lt;div style="border: 1px solid gray; width: 195px;" class="pic"&gt;&lt;a title="Enlarge picture" href="javascript:eml2('a/a1/','Embley_Park.jpg')"&gt;&lt;img src="http://img.tfd.com/thumb/a/a1/Embley_Park.jpg" width="191" border="0" height="143" /&gt;&lt;img style="float: right;" src="http://img.tfd.com/wiki/enlarge.gif" alt="Enlarge picture" width="16" border="0" height="12" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="imgcaption"&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Embley+Park"&gt;Embley Park&lt;/a&gt;, now a school, was the family home of Florence Nightingale.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="border-left: 15px solid white; width: 210px; float: right; clear: right;" class="outerpic"&gt;&lt;div style="border: 1px solid gray; width: 195px;" class="pic"&gt;&lt;a title="Enlarge picture" href="javascript:eml2('6/66/','St_Margarets_FN_grave.jpg')"&gt;&lt;img src="http://img.tfd.com/thumb/6/66/St_Margarets_FN_grave.jpg" width="191" border="0" height="254" /&gt;&lt;img style="float: right;" src="http://img.tfd.com/wiki/enlarge.gif" alt="Enlarge picture" width="16" border="0" height="12" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="imgcaption"&gt;The grave of Florence Nightingale in the churchyard of St. Margaret's Church, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Wellow,+Hampshire"&gt;East Wellow&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Florence Nightingale&lt;/b&gt;, &lt;a onmouseover="t_i(1)" onmouseout="t_o(1)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Order+of+Merit+%28Commonwealth%29"&gt;OM&lt;/a&gt;, &lt;a onmouseover="t_i(2)" onmouseout="t_o(2)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Royal+Red+Cross"&gt;RRC&lt;/a&gt; (&lt;a onmouseover="t_i(3)" onmouseout="t_o(3)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/12+May"&gt;12 May&lt;/a&gt; &lt;a onmouseover="t_i(4)" onmouseout="t_o(4)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/1820"&gt;1820&lt;/a&gt; – &lt;a onmouseover="t_i(5)" onmouseout="t_o(5)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/13+August"&gt;13 August&lt;/a&gt; &lt;a onmouseover="t_i(6)" onmouseout="t_o(6)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/1910"&gt;1910&lt;/a&gt;), who came to be known as &lt;em&gt;The Lady with the Lamp&lt;/em&gt;, was a pioneer of modern &lt;a onmouseover="t_i(7)" onmouseout="t_o(7)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/nurse"&gt;nursing&lt;/a&gt;, a &lt;a onmouseover="t_i(8)" onmouseout="t_o(8)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/writer"&gt;writer&lt;/a&gt; and a noted &lt;a onmouseover="t_i(9)" onmouseout="t_o(9)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/statistician"&gt;statistician&lt;/a&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_obit"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_obit"&gt;[]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;h2&gt;Biography&lt;/h2&gt; &lt;h3&gt;Early life&lt;/h3&gt; Florence Nightingale was born into a rich, upper-class well-connected &lt;a onmouseover="t_i(10)" onmouseout="t_o(10)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/England"&gt;English&lt;/a&gt; family at the Villa Colombaia, &lt;a onmouseover="t_i(11)" onmouseout="t_o(11)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence"&gt;Florence&lt;/a&gt;, &lt;a onmouseover="t_i(12)" onmouseout="t_o(12)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Grand+Duchy+of+Tuscany"&gt;Grand Duchy of Tuscany&lt;/a&gt;, and was named after the city of her birth.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her parents were William Edward Nightingale (1794–1875) and Frances "Fanny" Nightingale &lt;em&gt;née&lt;/em&gt; Smith (1789–1880). William Nightingale was born William Edward Shore. His mother Mary &lt;em&gt;née&lt;/em&gt; Evans was the niece of one Peter Nightingale, under the terms of whose will William Shore not only inherited his estate Lea Hurst in &lt;a onmouseover="t_i(13)" onmouseout="t_o(13)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Derbyshire"&gt;Derbyshire&lt;/a&gt;, but also assumed the name and arms of Nightingale. Fanny's father (Florence's maternal grandfather) was the abolitionist &lt;a onmouseover="t_i(14)" onmouseout="t_o(14)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/William+Smith+%28abolitionist%29"&gt;Will Smith&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspired by what she took as a &lt;a onmouseover="t_i(15)" onmouseout="t_o(15)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Christian"&gt;Christian&lt;/a&gt; &lt;a onmouseover="t_i(16)" onmouseout="t_o(16)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/vocation"&gt;divine calling&lt;/a&gt;, experienced first in 1837 at &lt;a onmouseover="t_i(17)" onmouseout="t_o(17)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Embley+Park"&gt;Embley Park&lt;/a&gt; and later throughout her life, Nightingale committed herself to nursing. This demonstrated a passion on her part, and also a rebellion against the expected role for a woman of her status, which was to become a wife and mother. In those days, nursing was a career with a poor reputation, filled mostly by poorer women, "hangers-on" who followed the armies. In fact, nurses were equally likely to function as &lt;a onmouseover="t_i(18)" onmouseout="t_o(18)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/cook+%28profession%29"&gt;cooks&lt;/a&gt;. Nightingale announced her decision to enter nursing in 1845 evoking intense anger and distress from her family particularly her mother.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She cared for poor and indigent people. In December 1844, in response to a pauper's death in a &lt;a onmouseover="t_i(19)" onmouseout="t_o(19)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/workhouse"&gt;workhouse&lt;/a&gt; infirmary in &lt;a onmouseover="t_i(20)" onmouseout="t_o(20)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/London"&gt;London&lt;/a&gt; that became a public scandal, she became the leading advocate for improved medical care in the infirmaries and immediately engaged the support of &lt;a onmouseover="t_i(21)" onmouseout="t_o(21)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Charles+Villiers"&gt;Charles Villiers&lt;/a&gt;, then president of the &lt;a onmouseover="t_i(22)" onmouseout="t_o(22)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Poor+Law+Board"&gt;Poor Law Board&lt;/a&gt;. This led to her active role in the reform of the &lt;a onmouseover="t_i(23)" onmouseout="t_o(23)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Poor+Laws"&gt;Poor Laws&lt;/a&gt;, extending far beyond the provision of medical care. She was later instrumental in &lt;a onmouseover="t_i(24)" onmouseout="t_o(24)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/mentoring"&gt;mentoring&lt;/a&gt; and then sending &lt;a onmouseover="t_i(25)" onmouseout="t_o(25)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Agnes+Elizabeth+Jones"&gt;Agnes Elizabeth Jones&lt;/a&gt; and other Nightingale Probationers to &lt;a onmouseover="t_i(26)" onmouseout="t_o(26)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Liverpool"&gt;Liverpool&lt;/a&gt; &lt;a onmouseover="t_i(27)" onmouseout="t_o(27)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Workhouse"&gt;Workhouse&lt;/a&gt; Infirmary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1846 she visited &lt;a onmouseover="t_i(28)" onmouseout="t_o(28)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Kaiserswerth"&gt;Kaiserswerth&lt;/a&gt;, &lt;a onmouseover="t_i(29)" onmouseout="t_o(29)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Germany"&gt;Germany&lt;/a&gt;, and learned more of its pioneering hospital established by &lt;a onmouseover="t_i(30)" onmouseout="t_o(30)" class="tip" href="http://encyclopedia.tfd.com/Theodor+Fliedner"&gt;Theodor Fliedner&lt;/a&gt; and managed by an order of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Lutheran"&gt;Lutheran&lt;/a&gt; deaconesses. She was profoundly impressed by the quality of care and by the commitment and practices of the deaconesses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale was courted by politician and poet &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Richard+Monckton+Milnes,+1st+Baron+Houghton"&gt;Richard Monckton Milnes, 1st Baron Houghton&lt;/a&gt;, but she rejected him, convinced that marriage would interfere with her ability to follow her calling to nursing. When in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Rome"&gt;Rome&lt;/a&gt; in 1847, recovering from a mental breakdown precipitated by a continuing crisis of her relationship with Milnes, she met &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Sidney+Herbert,+1st+Baron+Herbert+of+Lea"&gt;Sidney Herbert&lt;/a&gt;, a brilliant politician who had been &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Secretary+at+War"&gt;Secretary at War&lt;/a&gt; (1845–1846), a position he would hold again during the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Crimean+War"&gt;Crimean War&lt;/a&gt;. Herbert was already married, but he and Nightingale were immediately attracted to each other and they became lifelong close friends. Herbert was instrumental in facilitating her pioneering work in Crimea and in the field of nursing, and she became a key advisor to him in his political career. In 1851 she rejected Milnes' marriage proposal against her mother's wishes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale also had strong and intimate relations with &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Benjamin+Jowett"&gt;Benjamin Jowett&lt;/a&gt;, particularly about the time that she was considering leaving money in her will to establish a Chair in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Statistics"&gt;Applied Statistics&lt;/a&gt; at the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/University+of+Oxford"&gt;University of Oxford&lt;/a&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale's career in nursing began in 1851, when she received four months training in Germany as a deaconess of Kaiserswerth. She undertook the training over strenuous family objections concerning the risks and social implications of such activity, and the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Roman+Catholic"&gt;Roman Catholic&lt;/a&gt; foundations of the hospital. While at Kaiserswerth she reported having her most important and intense experience of her divine calling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/22+August"&gt;22 August&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1853"&gt;1853&lt;/a&gt;, Nightingale took a post of superintendent at the Institute for the Care of Sick Gentlewomen in Upper Harley Street, London, a position she held until October 1854. Her father had given her an annual income of £500 (roughly US$50,000/£25,000 in present terms), which allowed her to live comfortably and to pursue her career. &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/J.+J.+Sylvester"&gt;James Joseph Sylvester&lt;/a&gt; was her mentor. &lt;h3&gt;Crimean War&lt;/h3&gt; Florence Nightingale's most famous contribution came during the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Crimean+War"&gt;Crimean War&lt;/a&gt;, which became her central focus when reports began to filter back to Britain about the horrific conditions for the wounded. On &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/21+October"&gt;21 October&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1854"&gt;1854&lt;/a&gt;, she and a staff of 38 women volunteer nurses, trained by Nightingale and including her aunt Mai Smith,&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; were sent (under the authorization of Sidney Herbert) to &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Turkey"&gt;Turkey&lt;/a&gt;, some 545 km across the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Black+Sea"&gt;Black Sea&lt;/a&gt; from &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Balaklava"&gt;Balaklava&lt;/a&gt; in the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Crimea"&gt;Crimea&lt;/a&gt;, where the main British camp was based.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale arrived early in November 1854 at &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Selimiye+Barracks"&gt;Selimiye Barracks&lt;/a&gt; in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/%C3%9Csk%C3%BCdar"&gt;Scutari&lt;/a&gt; (modern-day &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/%C3%9Csk%C3%BCdar"&gt;Üsküdar&lt;/a&gt; in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Istanbul"&gt;Istanbul&lt;/a&gt;). She and her nurses found wounded soldiers being badly cared for by overworked medical staff in the face of official indifference. &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Medicine"&gt;Medicines&lt;/a&gt; were in short supply, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/hygiene"&gt;hygiene&lt;/a&gt; was being neglected, and mass &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/infection"&gt;infections&lt;/a&gt; were common, many of them fatal. There was no equipment to process food for the patients.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Florence and her compatriots began by thoroughly cleaning the hospital and equipment and reorganizing patient care. However, during her time at Scutari, the death rate did not drop; on the contrary, it began to rise. The death count would be highest of all other hospitals in the region. During her first winter at Scutari, 4077 soldiers died there. Ten times more soldiers died from illnesses such as &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/typhus"&gt;typhus&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/typhoid"&gt;typhoid&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/cholera"&gt;cholera&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/dysentery"&gt;dysentery&lt;/a&gt; than from battle wounds. Conditions at the temporary barracks hospital were so fatal to the patients because of overcrowding and the hospital's defective &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/sewer"&gt;sewers&lt;/a&gt; and lack of ventilation. A sanitary commission had to be sent out by the British government to Scutari in March 1855, almost six months after Florence Nightingale had arrived, which flushed out the sewers and improved ventilation. Death rates were sharply reduced.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale continued believing the death rates were due to poor nutrition and supplies and overworking of the soldiers. It was not until after she returned to Britain and began collecting evidence before the Royal Commission on the Health of the Army, that she came to believe that most of the soldiers at the hospital were killed by poor living conditions. This experience would influence her later career, when she advocated sanitary living conditions as of great importance. Consequently, she reduced deaths in the Army during peacetime and turned attention to the sanitary design of hospitals. &lt;h4&gt;The Lady with the Lamp&lt;/h4&gt;During the Crimean campaign Florence Nightingale gained the nickname "The Lady with the Lamp", deriving from a phrase in a report in &lt;em&gt;The Times&lt;/em&gt;: &lt;blockquote&gt;She is a ‘ministering angel’ without any exaggeration in these hospitals, and as her slender form glides quietly along each corridor, every poor fellow's face softens with gratitude at the sight of her. When all the medical officers have retired for the night and silence and darkness have settled down upon those miles of prostrate sick, she may be observed alone, with a little lamp in her hand, making her solitary rounds.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The phrase was further popularised by &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Henry+Longfellow"&gt;Henry Longfellow&lt;/a&gt;'s 1857 poem "Santa Filomena": &lt;blockquote&gt;Lo! in that hour of misery&lt;br /&gt;A lady with a lamp I see&lt;br /&gt;Pass through the glimmering gloom,&lt;br /&gt;And flit from room to room.&lt;/blockquote&gt; &lt;h3&gt;Return home&lt;/h3&gt; Florence Nightingale returned to Britain a heroine on &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/7+August"&gt;7 August&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1857"&gt;1857&lt;/a&gt;, and, according to the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/BBC"&gt;BBC&lt;/a&gt;, was arguably the most famous Victorian after &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Victoria+of+the+United+Kingdom"&gt;Queen Victoria&lt;/a&gt; herself. Nightingale moved from her family home in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Middle+Claydon"&gt;Middle Claydon&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Buckinghamshire"&gt;Buckinghamshire&lt;/a&gt;, to the Burlington Hotel in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Piccadilly"&gt;Piccadilly&lt;/a&gt;. However, she was stricken by a fever, probably due to a chronic form of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Brucellosis"&gt;Brucellosis&lt;/a&gt; ("Crimean fever") that she contracted during the Crimean war.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; She barred her mother and sister from her room and rarely left it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In response to an invitation from Queen Victoria – and despite the limitations of confinement to her room – Nightingale played the central role in the establishment of the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Royal+Commission"&gt;Royal Commission&lt;/a&gt; on the Health of the Army, of which Sidney Herbert became chairman. As a woman, Nightingale could not be appointed to the Royal Commission, but she wrote the Commission's 1,000-plus page report that included detailed statistical reports, and she was instrumental in the implementation of its recommendations. The report of the Royal Commission led to a major overhaul of army military care, and to the establishment of an Army Medical School and of a comprehensive system of army &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/medical+records"&gt;medical records&lt;/a&gt;. &lt;h3&gt;Later career&lt;/h3&gt; While she was still in Turkey, on &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/29+November"&gt;29 November&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1855"&gt;1855&lt;/a&gt;, a public meeting to give recognition to Florence Nightingale for her work in the war led to the establishment of the Nightingale Fund for the training of nurses. There was an outpouring of generous donations. Sidney Herbert served as honorary secretary of the fund, and the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Duke+of+Cambridge"&gt;Duke of Cambridge&lt;/a&gt; was chairman. Nightingale was also considered a pioneer in the concept of &lt;em&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/medical+tourism"&gt;medical tourism&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; as well based on her letters from 1856 in which she would write to spas in Turkey detailing the health conditions, physical descriptions, dietary information, and other vitally important details of patients whom she directed there (which was significantly less expensive than Switzerland). She was obviously directing patients of meagre means to affordable treatment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By 1859 Nightingale had £45,000 at her disposal from the Nightingale Fund to set up the Nightingale Training School at &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/St.+Thomas%27+Hospital"&gt;St. Thomas' Hospital&lt;/a&gt; on &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/9+July"&gt;9 July&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1860"&gt;1860&lt;/a&gt;. (It is now called the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale+School+of+Nursing+and+Midwifery"&gt;Florence Nightingale School of Nursing and Midwifery&lt;/a&gt; and is part of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/King%27s+College+London"&gt;King's College London&lt;/a&gt;.) The first trained Nightingale nurses began work on 16 May &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1865"&gt;1865&lt;/a&gt; at the Liverpool Workhouse Infirmary. She also campaigned and raised funds for the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Royal+Buckinghamshire+Hospital"&gt;Royal Buckinghamshire Hospital&lt;/a&gt; in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Aylesbury"&gt;Aylesbury&lt;/a&gt;, near her family home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale wrote &lt;em&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Notes+on+Nursing"&gt;Notes on Nursing&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, which was published in 1860, a slim 136 page book that served as the cornerstone of the curriculum at the Nightingale School and other nursing schools established. &lt;em&gt;Notes on Nursing&lt;/em&gt; also sold well to the general reading public and is considered a classic introduction to nursing. Nightingale would spend the rest of her life promoting the establishment and development of the nursing profession and organizing it into its modern form.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale's work served as an inspiration for nurses in the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/American+Civil+War"&gt;American Civil War&lt;/a&gt;. The &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Union+%28American+Civil+War%29"&gt;Union&lt;/a&gt; government approached her for advice in organizing field medicine. Although her ideas met official resistance, they inspired the volunteer body of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/United+States+Sanitary+Commission"&gt;United States Sanitary Commission&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1869, Nightingale and &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Elizabeth+Blackwell"&gt;Elizabeth Blackwell&lt;/a&gt; opened the Women's Medical College.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the 1870s, Nightingale mentored &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Linda+Richards"&gt;Linda Richards&lt;/a&gt;, "America's first trained nurse", and enabled her to return to the USA with adequate training and knowledge to establish quality nursing schools. Linda Richards went on to become a great nursing pioneer in the USA and Japan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By 1882, Nightingale nurses had a growing and influential presence in the embryonic nursing profession. Some had become matrons at several leading hospitals, including, in London, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/St+Mary%27s+Hospital+%28London%29"&gt;St Mary's Hospital&lt;/a&gt;, Westminster Hospital, St Marylebone Workhouse Infirmary and the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Hospital+for+Incurables"&gt;Hospital for Incurables&lt;/a&gt; at &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Putney"&gt;Putney&lt;/a&gt;; and throughout Britain, e.g. &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Royal+Victoria+Hospital"&gt;Royal Victoria Hospital&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Netley"&gt;Netley&lt;/a&gt;; Edinburgh Royal Infirmary; Cumberland Infirmary; Liverpool Royal Infirmary as well as at &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Sydney+Hospital"&gt;Sydney Hospital&lt;/a&gt;, in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/New+South+Wales"&gt;New South Wales&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Australia"&gt;Australia&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1883, Nightingale was awarded the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Royal+Red+Cross"&gt;Royal Red Cross&lt;/a&gt; by Queen Victoria. In 1907, she became the first woman to be awarded the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Order+of+Merit+%28Commonwealth%29"&gt;Order of Merit&lt;/a&gt;. In 1908, she was given the Honorary Freedom of the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/City+of+London"&gt;City of London&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By 1896, Florence Nightingale was bedridden. She may have had what is now known as &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/chronic+fatigue+syndrome"&gt;chronic fatigue syndrome&lt;/a&gt;. Her birthday is now celebrated as the International CFS Awareness Day. During her bedridden years, she also did pioneering work in the field of hospital planning, and her work propagated quickly across England and the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale was a &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Universal+reconciliation"&gt;Christian universalist&lt;/a&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; On &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/7+February"&gt;7 February&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1837"&gt;1837&lt;/a&gt; – not long before her 17th birthday – something happened that would change her life: "God spoke to me", she wrote, "and called me to His service." &lt;h2&gt;Death&lt;/h2&gt; On &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/13+August"&gt;13 August&lt;/a&gt; &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1910"&gt;1910&lt;/a&gt;, at the age of 90, she died in her room at 10 South Street, Park Lane. The offer of burial in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Westminster+Abbey"&gt;Westminster Abbey&lt;/a&gt; was declined by her relatives, and she is buried in the graveyard at St. Margaret Church in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Wellow,+Hampshire"&gt;East Wellow&lt;/a&gt;, Hampshire.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;sup&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_obit"&gt;[0]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;h2&gt;Contributions&lt;/h2&gt; &lt;h3&gt;Statistics&lt;/h3&gt; &lt;div style="border-left: 15px solid white; width: 210px; float: right; clear: right;" class="outerpic"&gt;&lt;div style="border: 1px solid gray; width: 195px;" class="pic"&gt;&lt;a title="Enlarge picture" href="javascript:eml2('1/17/','Nightingale-mortality.jpg')"&gt;&lt;img src="http://img.tfd.com/thumb/1/17/Nightingale-mortality.jpg" width="191" border="0" height="126" /&gt;&lt;img style="float: right;" src="http://img.tfd.com/wiki/enlarge.gif" alt="Enlarge picture" width="16" border="0" height="12" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="imgcaption"&gt;"&lt;em&gt;Diagram of the causes of mortality in the army in the East&lt;/em&gt;" by Florence Nightingale.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Florence Nightingale had exhibited a gift for &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/mathematics"&gt;mathematics&lt;/a&gt; from an early age and excelled in the subject under the tutorship of her father. She had a special interest in statistics, a field in which her father, a pioneer in the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/nascent"&gt;nascent&lt;/a&gt; field of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/epidemiology"&gt;epidemiology&lt;/a&gt;, was an expert. She made extensive use of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/statistical+analysis"&gt;statistical analysis&lt;/a&gt; in the compilation, analysis and presentation of statistics on medical care and &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/public+health"&gt;public health&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nightingale was a pioneer in the visual presentation of information. Among other things she used the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/pie+chart"&gt;pie chart&lt;/a&gt;, which had first been developed by &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/William+Playfair"&gt;William Playfair&lt;/a&gt; in 1801. After the Crimean War, Nightingale used the polar area chart, equivalent to a modern circular histogram or rose diagram, to illustrate seasonal sources of patient mortality in the military field hospital she managed. Nightingale called a compilation of such diagrams a "coxcomb", but later that term has frequently been used for the individual diagrams. She made extensive use of coxcombs to present reports on the nature and magnitude of the conditions of medical care in the Crimean War to &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Parliament+of+the+United+Kingdom"&gt;Members of Parliament&lt;/a&gt; and civil servants who would have been unlikely to read or understand traditional statistical reports.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In her later life Nightingale made a comprehensive statistical study of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/sanitation"&gt;sanitation&lt;/a&gt; in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/India"&gt;Indian&lt;/a&gt; rural life and was the leading figure in the introduction of improved medical care and public health service in India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1858 Nightingale was elected the first female member of the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Royal+Statistical+Society"&gt;Royal Statistical Society&lt;/a&gt; and she later became an honorary member of the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/American+Statistical+Association"&gt;American Statistical Association&lt;/a&gt;. &lt;h3&gt;Literature and the women's movement&lt;/h3&gt; While better known for her contributions in the medical and mathematical fields, Nightingale is also an important link in the study of English &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/feminism"&gt;feminism&lt;/a&gt;. During 1850 and 1852, she was struggling with her self-definition and the expectations of an upper-class marriage from her family. As she sorted out her thoughts, she wrote &lt;em&gt;Suggestions for Thought to Searchers after Religious Truth&lt;/em&gt;. The three-volume book has never been printed in its entirety, but a section, called &lt;em&gt;Cassandra&lt;/em&gt;, was published by Ray Strachey in 1928. Strachey included it in &lt;em&gt;The Cause&lt;/em&gt;, a history of the women's movement. Apparently, the writing served the original purpose of sorting out thoughts; Nightingale left soon after to train at the Institute for deaconesses at Kaiserwerth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cassandra&lt;/em&gt; protests the over-feminization of women into near helplessness, such as Nightingale saw in her mother and older sister's lethargic lifestyle, despite their education. She rejected their life of thoughtless comfort for the world of social service. The work also reflects her fear of her ideas being ineffective, as were Cassandra's. Cassandra is a virgin-priestess of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Apollo"&gt;Apollo&lt;/a&gt; who receives a divinely-inspired prophecy, but her prophetic warnings go unheeded. &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Elaine+Showalter"&gt;Elaine Showalter&lt;/a&gt; called Nightingale's writing "a major text of English feminism, a link between Wollstonecraft and Woolf."&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;h3&gt;Theology&lt;/h3&gt; &lt;em&gt;Suggestions for Thought&lt;/em&gt; is also Nightingale's great work of theology, her own &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/theodicee"&gt;theodicee&lt;/a&gt;, where she develops her radical heterodox ideas. She was not only a militant feminist but also a radical &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Liberation+theology"&gt;liberation theologist&lt;/a&gt; long before the concept was coined.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;h2&gt;Legacy and memory&lt;/h2&gt; &lt;div style="border-left: 15px solid white; width: 269px; float: right; clear: right;" class="outerpic"&gt;&lt;div style="border: 1px solid gray; width: 254px;" class="pic"&gt;&lt;a title="A young Florence Nightingale" href="javascript:eml2('5/5b/','Florence_Nightingale_-_Project_Gutenberg_13103.jpg')"&gt;&lt;img src="http://img.tfd.com/wiki/5/5b/Florence_Nightingale_-_Project_Gutenberg_13103.jpg" width="250" border="0" height="324" /&gt;&lt;img style="float: right;" src="http://img.tfd.com/wiki/enlarge.gif" alt="Enlarge picture" width="16" border="0" height="12" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="imgcaption"&gt;A young Florence Nightingale&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;h3&gt;Nursing&lt;/h3&gt; Florence Nightingale's lasting contribution has been her role in founding the modern nursing profession. She set a shining example for nurses everywhere of compassion, commitment to patient care, and diligent and thoughtful hospital administration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The work of the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale+School+of+Nursing+and+Midwifery"&gt;Nightingale School of Nursing&lt;/a&gt; continues today. The Nightingale building in the School of Nursing and Midwifery at the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/University+of+Southampton"&gt;University of Southampton&lt;/a&gt; is named after her. &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/International+Nurses+Day"&gt;International Nurses Day&lt;/a&gt; is celebrated on her birthday each year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Florence Nightingale Declaration Campaign,&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; established by nursing leaders throughout the world through the Nightigale Initiative for Global Health (NIGH), aims to build a global grassroots movement to achieve two United Nations Resolutions for adoption by the UN General Assembly of 2008 which will declare: The International Year of the Nurse–2010 (the centennial of Nightingale's death); The UN Decade for a Healthy World–2011 to 2020 (the bicentennial of Nightingale's birth). NIGH also works to rekindle awareness about the important issues highlighted by Florence Nightingale, such as preventive medicine and holistic health. So far, The Florence Nightingale Declaration has been signed by over 13,000 signatories from 78 countries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Vietnam+War"&gt;Vietnam War&lt;/a&gt;, Nightingale inspired many &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/United+States+Army"&gt;US Army&lt;/a&gt; nurses, sparking a renewal of interest in her life and work. Her admirers include Country Joe of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Country+Joe+and+the+Fish"&gt;Country Joe and the Fish&lt;/a&gt;, who has assembled an extensive website in her honour.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Three hospitals in Istanbul are named after Nightingale: F. N. Hastanesi in Şişli (the biggest private hospital in Turkey), Metropolitan F.N. Hastanesi in Gayrettepe, and Avrupa F.N. Hastanesi in Mecidiyeköy, all belonging to the Turkish Cardiology Foundation.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-14"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Agostino Gemelli Medical Center&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; in Rome, the first university-based hospital in Italy and one of its most respected medical centres, honoured Nightingale's contribution to the nursing profession by giving the name "Bedside Florence" to a wireless computer system it developed to assist nursing.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are many foundations named after Florence Nightingale. Most are nursing foundations, but there is also &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Nightingale+Research+Foundation"&gt;Nightingale Research Foundation&lt;/a&gt; in Canada, dedicated to the study and treatment of chronic fatigue syndrome which Nightingale is believed to have had.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is a psychological effect known as the "&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale+Effect"&gt;Florence Nightingale Effect&lt;/a&gt;", whereby nurses and doctors fall in love with their patients.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A bronze plaque, attached to the plinth of the Crimean Memorial in the Haydarpaşa Cemetery, Istanbul and unveiled on &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Empire+Day"&gt;Empire Day&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/1954"&gt;1954&lt;/a&gt; to celebrate the 100th anniversary of her nursing service in that region, bears the inscription:&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;blockquote&gt;"To Florence Nightingale, whose work near this Cemetery a century ago relieved much human suffering and laid the foundations for the nursing profession."&lt;/blockquote&gt; &lt;h3&gt;Museums&lt;/h3&gt; There is a &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale+Museum"&gt;Florence Nightingale Museum&lt;/a&gt; in London and another museum devoted to her at her sister's family home, &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Claydon+House"&gt;Claydon House&lt;/a&gt;, now a property of the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/National+Trust+for+Places+of+Historic+Interest+or+Natural+Beauty"&gt;National Trust&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The northmost tower of the Selimiye Barracks building is today a museum, and in several of its rooms, relics and reproductions relevant to Florence Nightingale and her nurses are on exhibition.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When she first arrived in Turkey, Nightingale would travel on horseback to make inspections. She then transferred to a mule cart and was reported to have escaped serious injury when the cart was toppled in an accident. Following this episode, she used a solid Russian-built carriage, with a waterproof hood and curtains. The carriage was returned to England after the war and subsequently given to the Nightingale training school for nurses, which she founded at St Thomas's Hospital. The carriage was damaged when the hospital was bombed in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/the+Blitz"&gt;the Blitz&lt;/a&gt;. It was later restored and transferred to the Army Museum in &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Aldershot"&gt;Aldershot&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Florence Nightingale's voice was saved for posterity in a &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/phonograph"&gt;phonograph&lt;/a&gt; recording from 1890 preserved in the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/British+Library+Sound+Archive"&gt;British Library Sound Archive&lt;/a&gt;. &lt;h3&gt;Other&lt;/h3&gt; Several churches in the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Anglican+Communion"&gt;Anglican Communion&lt;/a&gt; commemorate Nightingale with a feast day on their &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/liturgical+calendar"&gt;liturgical calendars&lt;/a&gt;. So does the &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Evangelical+Lutheran+Church+in+America"&gt;Evangelical Lutheran Church in America&lt;/a&gt;, which commemorates her as a renewer of society with &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Clara+Maass"&gt;Clara Maass&lt;/a&gt; on &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/13+August"&gt;13 August&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The airline &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/KLM"&gt;KLM&lt;/a&gt; has named one of their MD-11 airliners in her memory.&lt;sup&gt;&lt;a name="ref_rf-19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Florence+Nightingale#endnote_rf-19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Nightingale+Corona"&gt;Nightingale Corona&lt;/a&gt;, on the surface of &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/Venus"&gt;Venus&lt;/a&gt; is named after her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The United States Air Force maintains a fleet of 20 &lt;a href="http://encyclopedia.tfd.com/McDonnell+Douglas+C-9"&gt;McDonnell Douglas C-9A "Nightingale" aeromedical evacuation&lt;/a&gt; aircraft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the TV series &lt;em&gt;Star Trek Voyager&lt;/em&gt; the character Ensign Harry Kim names an alien medical vessel after her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MC Smith, dedicated nurse historian, credits Nightingale with making the profession "...appealing to the masses."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-7781861666714624007?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/7781861666714624007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=7781861666714624007' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7781861666714624007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7781861666714624007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/10/florence-nightingale.html' title='Florence Nightingale'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-6317466379458238860</id><published>2009-07-09T22:54:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T23:16:40.319-07:00</updated><title type='text'>KTI  ISOLASI SOSIAL</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sabagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun komunitas, dalam berhubungan dengan lingkungan manusia harus mengembangkan strategi koping yang efektif agar mampu beradaptasi (Sulistiawati, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya manusia memiliki kemampuan untuk menyusaikan diri dengan baik, namun ada juga individu yang mengalami kesulitan untuk melakukan penyesuaian dengan persoalan yang dihadapi.mereka bahkan gagal melakukan koping yang sesuai tekanan yang dialami, atau mereka menggunakan koping yang negatif, koping yang tidak menyelesaikan persoalan dan tekanan tapi lebih pada menghindari atau mengingkari persoalan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan dalam memeberikan koping yang sesuai dengan tekanan yang dialami dalam jangka panjang mengakibatkan individu mengalami berbagai macam gangguan mental. Gangguan mental tersebut sangat bervariatif, tergantung dari berat ringannya sumber tekanan, perbedaan antara individu, dan latar belakang individu yang bersangkutan (Siswanto, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu fungsi serta tanggung jawab perawat psikiatri dalam memberikan asuhan keperawatan dituntut untuk dapat menciptakan suasana yang dapat membantu proses penyembuhan dengan menggunakan hubungan terapeutik melalui usaha pendidikan kesehatan dan tindakan keperawatan yang dapat membantu proses penyembuhan dengan menggunakan hubungan terapeutik melalui usaha pendidikan kesehatan dan tindakan keperawatan secara komprehensif yang diajukan secara berkesinambungan karena penderita isolasi sosial dapat menjadi berat dan lebih sukar dalam penyembuhan bila tidak mendapatkan perawatan secara intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pencatatan jumlah penderita yang mengalami gangguan jiwa di BPRS. Dadi Makassar pada bulan Januari sampai Maret 2008 sebanyak 2294 orang, halusinasi 1162 orang (50.65 %), menarik diri 462 orang (20.13 %), waham 130 orang (5.66 %), harga diri rendah 374 orang (16.30 %), perilaku kekerasan 128 orang (5.58 %), kerusakan komunikasi verbal 16 orang ( 0.70 %), defisit perawatan diri 21 orang (0.91 %),percobaan bunuh diri 1 orang (0.04 %).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data tersebut diatas yang dimana dinyatakan bahwa isolasi sosial mengalami peningkatan tiap tahunnya dan menempati urutan kedua masalah kesehatan jiwa setelah Halusinasi maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “ Asuhan keperawatan pada klien Tn ” M ” dengan masalah utama Isolasi Sosial di BPRS Dadi Makassar” guna membantu klien dan keluarga dalam menangani masalah kesehatan yang dihadapi melalui penerapan asuhan keperawatan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih konkritnya apa yang ingin dicapai dalam karya tulis ini, penulis mengemukakan pokok tujuan penulisan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan klien dengan masalah utama isolasi sosial. Melalui pendekatan proses keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan pengkajian pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam membuat diagnosa keperawatan dan penetapan rencana asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam mengevaluasi hasil tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam pendokumentasian asuhan keperawatan klien dengan masalah utama Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Dapat membandingkan kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang penulis dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. MANFAAT PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Institusi pendidikan keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sumber informasi dan bahan bacaan pada keputakaan institusi dalam meningkatkan mutu pendidikan pada masa yang akan datang di bidang keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Institusi pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai masukan bagi perawat pelaksana di Unit Pelayanan Keperawatan Jiwa dalam rangka mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya pada klien yang mengalami perubahan proses pikir : Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan pengalaman dan pengetahuan bagi penulis dalam penerapan ilmu yang telah didapatkan selama pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. METODE PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penulisan karya tulis ini menggunakan metode penulisan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Studi Kepustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan data dasar penulis menggunakan atau membaca referensi-referensi yang berhubungan dengan masalah yang dibahas yaitu : Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Studi Kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk studi kasus penulis mempelajari kasuss klien dengan menggunakan metode pemecahan masalah melalui pendekatan atau proses keperawatan yang komprehensif yang meliputi pengkajian data, analisa data, perumusan diagnosa keperawatan, penyusunan rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Teknik Pengumpulan Data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Teknik Wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melakukan Tanya jawab secara langsung pada klien, keluarga, perawat, dan dokter yang merawat guna memperoleh data-data yang dibutuhkan di BPRS Dadi Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Teknik Observasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis secara langsung melakukan pengamatan untuk dapat melihat secara langsung bagaimana pelaksanaan perawatan dan keadaan klien selama perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Studi Dokumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mengumpulkan data/informasi melalui catatan keperawatan dilembaran status klien serta mengadakan diskusi dengan tim kesehatan di BPRS Dadi Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KONSEP DASAR KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beberapa ahli menguraikan tentang pengertian isolasi sosial yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (NANDA 2005-2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,menghindari hubungan dengan orang lain. ( Rawlins, 1993 dikutip oleh budi anna keliat 1999 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kerusakan interaksi sosial adalah sesuatu keadaan dimana seseorang individu berpartisipasi dalam kuantitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kulitas interaksi sosial yang tidak efektif ( Mary C.Townsend,1998 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menarik dii adalah sutu pola tingkah laku menghindari kontak dengan orang, situasi atau lingkungan yang penuh dengan stress yang dapat menyebabkan kecemasan fisik dan psikologi. ( FIK.UI 2007 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidak mampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dilingkungan sekitarnya secara wajar. ( Mahnum 2001 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rentang respon sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan buku keperawatan jiwa menurut Gail W. Stuart, 2006 menyatakan bahwa manusia makhluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal yang positif. Hubungan intrpersonal terjadi jika hubungan saling merasakan kedekatan sementara identitas pribadi tetap dipertahankan. Individu juga harus membina saling tergantung yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan. Gail W. Stuart menyatakan tentang respon rentang sosial individu berada dalam rentang respon maladaptif yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentang respon sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon adaptif respon maladaptif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menyendiri - Kesepian - Manipulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Otonomi (Loneliness) - Impulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bekerja sama - Menarik Diri - Narsisisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- (mutualisme) - Ketergantungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Saling ketergantungan (dependen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(interdependen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Respon adaptif adalah suatu respon individu dalam menyesuaikan masalah yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya yang umum berlaku,respon ini meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Menyendiri (solitude)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan respons yang dibutuhkan seseorang untuk menentukan apa yang telah dilakukan dilingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Otonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Berkerja sama (mutualisme)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling member dan menerima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) saling tergantung (interdependen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merupakan kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyesuaikan masalah menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya ini meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menarik diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tergantung (dependen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuanya untuk berfungsi secara sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Manipulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan hubungan smosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang sebagai obyek. Individu tersebut mtidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Impulsif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mamapu belajar dari pengalaman, penilaian yang buruk dan individu ini tidak dapat diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Narsisisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga dirinya rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian yang egosentris dan pencemburu. (Stuard, Gaill W,2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Manifestasi klinik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA 2005-2006, isolasi sosial memiliki batasan karakteristik meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tidak ada dukungan dari orang yang penting (keluarga, teman, kelompok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perilaku bermusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tidak komunikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Menunjukkan perilaku tidak diterima oleh kelompok cultural dominant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Mencari kesendirian atau merasa diakui didalam sub kultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Senang dengan pikirannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Aktivitas berulang atau aktivitas kurang beraktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Kontak mata tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Keterbatasan fisik, mental,atau perubahan keadaan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Sedih, efek tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengepresikan perasaan kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mengepresikan perasaan penolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Minat tudak sesuai dengan umur perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tidak mampu memenuhi harapan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Ekspresi permintaan tidak sesuai dengan umur perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Perubahan penampilan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Tidak meresa aman dimasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Faktor predisposisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai faktor biasa menimbulkan respon sosial yang maladaptif dan mungkin disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Faktor perkembangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan dapat mempengaruhi respon sosial maladaptif pada setiap individu. Sistem keluarga yang terganggu dapat berperan dalam perkembangan respon sosial maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mengalami masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan dirinya dari orang tua. Norma keluarga mungkin tidak mendukung hubungan dengan pihak diluar keluarga. Peran keluarga sering kali tidak jelas. Orang tua pecandu alkohol dan penganiaya anak juga mempengaruhi respon sosial maladaptif pada individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Faktor biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif. Bukti terdahulu menunjukan keterlibatan neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini, namun tetap diperlukan penelitian lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Faktor sosiokultural&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan hubungan. Hal ini akibat dari transiensi, norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak mengharhai anggota masyarakat yang kurang produktif, seperti lanjut usia ( lansia ), orang cacat dan penderita penyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku, dan sistem nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas. Harapan yang tidak realitas terhadap hubungan merupakan faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Stressor pencetus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stressor pencetus pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stress seperti kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stressor pencetus dapat dikelompokan dalam dua kategori antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Stressor sosiokultural&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stress dapat ditimbulkan oleh menurunya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Stressor psikologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ansietas berat yang berkepanjang terjadi bersama dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tingkat tinggi. ( Stuart, Gail W, 2006 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sumber koping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mengalami sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial maladaptif meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hubungan dengan hewan peliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. penggunaan kreatifitas untuk mengekspresikan stress interpersonal (misalnya, kesenian, musik, dan tulisan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Mekanisme koping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ndividu yang mengalami respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya mengatasi ansietas. Mekanisme tersebut berkaitan dengan dua jenis masalah hubungan yang spesifik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian antisosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Proyeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Splitting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) merendahkan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Splitting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Formasi reaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Proyeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Isolasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Idealisasi orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Merendahkan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Identifikasi proyeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gejala dan karakteristik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tingkah laku klien isolasi sosial yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kurang spontan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Apatis (acuh terhadap lingkungan);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi bersedih);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Afek tumpul;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Komunikasi verbal menurun atau tidak ada. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Mengisolasi diri (menyendiri). Klien tampak memisahkan diri dari orang lain misalnya,pada saat makan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Kurang sadar dengan lingkungan sekitar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Pemasukan makan dan minuman terganggu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Retensi urine dan feses;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Aktifitas menurun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Kurang energik (tenaga);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. Harga diri rendah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n. Menolak hubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. (Tim Keperawatan Jiwa, 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penatalaksnaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penataksanaan pada penderita gangguan jiwa dibagi dalam beberapa bentuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Suasana terapi (Lingkungan terapiutuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud suasana terapi adalah suasana yang diciptakan oleh dokter atau perawat denga klien yang dapat membantu proses penyembuhan klien. Dalam teori keperawatan jiwa hal ini lebih dikenal dengan menciptakan hubungan saling percaya antara perawat dengan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Farmakoterapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armakoterapi adalah bentuk penatalaksanaan penderita gangguan jiwa dengan pemberian obat-obatan Anti Psikotik. Pengobatan ini diharapkan mampu memperbaiki keadaan somatik atau biologis tubuh yang berhubungan dengan perubahan perilaku penggunaan obat-obatan anti psikotik dapat mempengaruhi keseimbangan Neurotransmitter pada sistem embolik otak sehingga efek gangguan perilaku seperti halusinasi dan Apatis dapat teratasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Psikoterapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikoterapi adalah suatu cara pengobatan terhadap masalah emosional seorang pasien yang dilakukan oleh seorang yang terlatih dalam hubungan profesional secara sukarela, dengan maksud hendak menghilangkan, mengubah, atau menghambat gejala-gejala yang ada, mengoreksi perilaku yang terganggu, dan mengembangkan pertunbuhan kepribadian secara positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikoterapi dilakukan dengan pemberian support kepada klien untuk meningkatkan aspek positif diri. Pada penderita gangguan jiwa dengan perilaku isolasi sosial, bentuk psikoterapi dalam keperawatan yang paling efektif digunakan adalah terapai aktifitas kelompok dengan sosialisasi.(W.F Maramis, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses keperawatan merupakan suatu metode sistematis dan ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau mempertahankan keadaan biologis, sosial, dan spiritual yang optimal. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang merupakan siklus dan saling tergantung yang meliputi pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Budi Anna Keliat,2006 bahwa pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, social, dan spiritual. Hal-hal yang perlu dikaji pada klien menarik diri adalah biodata klien, alas an masuk, keluhan utama, faktor predisposisi, status mental, faktor-faktor psikososial serta mekanisme kopimg yang sering digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pohon masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon masalah klien isolasi sosial menurut Budi Anna Keliat,2005 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri; mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakefektifan koping keluarga; ketidakmampuan keluarga merawat klien dirumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri; harga diri rendah kronis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan sensori persepsi Halusinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan pada klien dengan isolasi sosial berdasarkan NANDA 2005-2006 sesuai bagan diatas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Gangguan konsep diri harga diri rendah kronis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Defisit perawatan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Resiko terjadinya Halusinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa I: Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mendiskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membantu pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat lansung kepada pasien isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa II: Harga Diri Rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dialami pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat di gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Melatih pasien sesuai kemampuan yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengevaluasi jadwal harian pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melatih kemampuan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menganjurkan pasien memasukkandalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendiskusikan masalah yang di rasakan kelurga dalam merawat pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala Harga Diri Rendah yang dialami pasien beserta proses terjadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menjelaskan cara merawat pasien Harga Diri Rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melatih keluarga memprakktekan cara merawat pasien dengan Harga Diri Rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melatih keluarga memprakktekan cara merawat lansung kepada pasien Harga Diri Rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membantu keluarga membuat jadwa aktifitas dirumah termasuk minum obat (discharge plannig)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa III: Defisit perawatan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjelaskan pentingnya kebersihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan cara menjaga kebersihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membantu pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan cara makan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membantu pasien mempraktekkan cara makan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menganjurkan paien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIIp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan cara eliminasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membantu pasien mempraktekkan cara eliminasi yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. .mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala Defisit Perawatan Diri serta jenis defisit perawatan diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menjelaskan cara merawat pasien defisit perawata diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien defisit perawatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIIIk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas dirumah termasuk minum obat (discharge planning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA III : GANGGUAN PERSEPSI SENSORI HALISINASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN KASUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGKAJIAN DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BIODATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Identitas Klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Tn. ”M”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur : 28 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Kelamin : Laki-laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama : Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Bangsa : Bugus Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status Perkawinan : Tidak Kawin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan : Tidak Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan : -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat : Bajoe Kab. Bone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal Masuk : 22 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal Pengkajian : 29 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Register : 021041&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Medik : Isolasi Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Identitas Penanggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Tn. “H”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur : 45 Tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama : Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan : Wiraswasta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat : Bajoe Kab. Bone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dengan pasien : Ayah Kandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Alasan Masuk Rumah Sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dibawa ke Rumah Sakit Dadi oleh Ayahnya pada tanggal 22 Desember 2006, awalnya klien sering menyendiri, melamun, dan suka berjalan keluar rumah tanpa tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan klien saat dikaji : Klien tampak menyendiri bersandar ditembok dan kebanyakan tidur dibawah lantai dengan penampilan yang tidak sesuai dan tidak rapi, badan bau, rambut kusam, kuku hitam dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri ; mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Faktor Predisposisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klien pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya dan dirawat di rumah sakit Dadi Makassar dengan kasus yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien mengatakan tidak pernah mengalami aniaya fisik, seksual, penolakan, kriminal, dan kekerasan dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klien mengatakan mempunyai pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu klien ditinggalkan oleh Ibunya yang sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Saat ditanya tentang Almarhumah Ibunya, klien hanya terdiam menundukkan kepala dan tampak raut wajahnya sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tanda Vital : T :120/80 mm Hg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N : 86x/mnt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S : 36,5ºC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P : 24x/mnt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ukuran : TB dan BB tidak dilakukan pengukuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keluhan fisik : Gatal-gatal pada kulit dibadan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri ; mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Psikososial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Genogram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ket :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= laki-laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X = Meninggal Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Klien yang dirawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....... = tinggal serumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= garis perkawinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= garis keturunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;? = Umur tidak diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan gambar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GI : Kakek dan nenek dari pihak Ayah dan Ibu telah meninggal karena faktor usila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GII : Ibu Klien meninggal Karna Faktor Usila, Ayahnya dan saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GIII: Klien dan saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien anak ke 3 dari 4 bersaudara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klien tinggal serumah dengan orang tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hubungan klien dengan keluarga kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Koping Keluarga tidak efektif ; Ketidakmampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Konsep Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Citra tubuh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien mengatakan tidak ada yang istimewa pada tubuhnya semuanya biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Identitas diri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien menyadari dirinya seorang laki-laki, anak ke 3 dari 4 bersaudara, klien belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Klien mengatakan sebelum Ibunya meninggal, klien dapat berperan sebagai anak yang penurut, tetapi saat Ibunya sudah meninggal, klien merasa tidak dapat menjalankan perannya lagi dengan baik, karena klien merasa Ibunya adalah satu-satunya orang yang sangat disayang dan dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Ideal diri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien berharap ingin cepat sembuh dan dijemput oleh keluarganya untuk pulang dan berkumpul kembali dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Harga diri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien kecewa karena keluarganya tidak datang membesuknya dan klien juga merasa tidak berguna dan diharapkan lagi oleh keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Gangguan konsep diri ; Harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hubungan sosial :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Orang yang berarti dalam hidupnya adalah Almarhumah Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Peran serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat : klien mengatakan kurang terlibat dalam kegiatan kelompok sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain adalah klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain dan lebih banyak diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Spiritual :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Nilai dan keyakinan : Klien menganut agama Islam dan yakin dengan agama yang dianutnya dan meyakini Allah yang Selalu memberikan Pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kegiatan ibadah : Klien mengatakan rajin pergi beribadah di Mesjid sebelum di rumah sakit, namun setelah dirawat di rumah sakit klien lebih tekun dan giat lagi untuk mengikuti terapi Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Status Mental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penampilan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien nampak kotor, kulit bardaki dan bau keringat, gigi kuning, cara berpakaian tidak sesuai, rambut kusam, kuku hitam dan panjang, gatal-gatal pada kulit badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pembicaraan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien bicara lambat dan hanya sesekali menjawab bila ditanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Aktivitas motorik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien selalu duduk termenung di tempat tidurnya, klien lebih banyak diam dan menyendiri, klien tidak bergaul dengan klien lainnya. Klien hanya melakukan aktivitas bila disuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Kurang motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Alam perasaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien mengatakan merasa sedih jika ditanya tentang keluarganya, apalagi jika klien menceritakan tentang Ibunya yang sudah meninggal, ekspresi wajah klien tampak sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Gangguan konsep diri ; harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Afek :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afek klien tumpul, klien bisa berespon dengan stimulus yang kuat baru klien berespon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Interaksi selama wawancara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak mata Klien kurang dan sering menunduk saat berinteraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Persepsi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Berinteraksi dengan Klien ditemukan adanya Perubahan Persepsi Sensori ; Halusinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : gangguan persepsi sensori Halusinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Proses pikir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien menjawab pertanyaan sesuai dengan yang ditanyakan dengan respon lambat tetapi pembicaraan klien kadang tiba-tiba terhenti lalu dilanjutkan kembali ( blocking ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Perubahan proses pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Isi pikir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berinteraksi dengan klien tidak ditemukan adanya waham, obsesi dan fobia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak ada masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Tingkat kesadaran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat wawancara klien sadar, klien tidak mengalami disorientasi waktu, tempat, dan orang. Klien mampu mengenal waktu ( hari ini ) saat pagi, siang, sore, dan malam hari, tempat dimana dia berada sekarang yaitu di rumah sakit Dadi Makassar dan klien mengenal yang merawat dia adalah mantri dan suster&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Memori :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat mengingat kejadian masa lalu dan hal yang baru-baru terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak ada masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Tingkat konsentrasi dan berhitung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berinteraksi klien tidak dapat berkonsentrasi dan klien tidak mampu berhitung sederhana yaitu misalnya menghitung dari angka 1 sampai 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Ketidakmampuan berkonsentrasi dan berhitung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. Kemampuan penilaian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien mampu menentukan pilihan dengan baik ketika diberikan pilihan seperti duluan mana mandi atau makan, klien menjawab mandi dulu karena kalau mandi akan terasa segar baru makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n. Daya tilik diri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien menyadari dirinya sakit dan dirawat di rumah sakit Dadi Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak ada masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Mekanisme Koping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maladaptif : Klien mengatakan jika punya masalah klien memendamnya sendiri dan tidak mau mengungkapkannya kepada orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. Aspek Medis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Diagnosa medis : Skizofrenia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Terapi medis : Haloperidol 5 mg 3x1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chlorpromazine 100 mg 1x1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trihexypenidil 2 mg 3x1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. Daftar Masalah Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kerusakan interaksi sosial ; isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Defisit perawatan diri ; mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Berduka disfungsional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perubahan proses pikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Kurang motivasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Koping keluarga tidak efektif ; Ketidakmampuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X. KLASIFIKASI DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Subyektif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan malas mandi, keramas dan berhias selama berada di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan tidak pernah sikat gigi, potong kuku, dan mengganti baju selama berada di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan tidak mempunyai pakaian untuk mengganti, dan terkadang. semua peralatan mandi hilang diambil orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan malas dan tidak suka bergaul dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan kurang terlibat dalam kegiatan kelompok sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan jika punya masalah klien memendamnya sendiri dan tidak mau mengungkapkannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Obyektif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien nampak kotor, kulit bardaki dan bau keringat, rambut kusam, gatal-gatal pada kulit badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien nampak giginya kuning, kuku klien panjang dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penampilan klien tidak rapi, dan berpakaian tidak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien nampak mandi tidak memakai sabun, dan tidak mengganti pakaian setelah mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien selalu duduk termenung di tempat tidurnya , klien tidak bergaul dengan klien lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien hanya melakukan aktivitas bila disuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembicaraan klien kadang tiba-tiba terhenti lalu dilanjutkan kembali ( blocking ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Afek klien tumpul, klien bisa berespon dengan stimulus yang kuat baru klien berespon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien bicara lambat dan hanya sesekali menjawab pertanyaan ketika ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien tidak mampu memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kontak mata klien kurang dan selalu menunduk saat berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ANALISA DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien mengatakan malas dan tidak suka bergaul dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien mengatakan kurang terlibat dalam kegiatan kelompok sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien mengatakan jika punya masalah klien memendamnya sendiri dan tidak mau mengungkapkannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien selalu duduk termenung di tempat tidurnya , klien tidak bergaul dengan klien lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien hanya melakukan aktivitas bila disuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Pembicaraan klien kadang tiba-tiba terhenti lalu dilanjutkan kembali (blocking).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Afek klien tumpul, klien bisa berespon dengan stimulus yang kuat baru klien berespon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien bicara lambat dan hanya sesekali menjawab pertanyaan ketika ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien tidak mampu memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Kontak mata klien kurang dan selalu menunduk saat berinteraksi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien mengatakan tidak pernah sikat gigi, potong kuku, dan mengganti baju selama berada di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien mengatakan tidak mempunyai pakaian untuk mengganti, dan terkadang semua peralatan mandi hilang diambil orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien mengatakan malas mandi, keramas dan berhias selama berada di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Penampilan klien tidak rapi, dan berpakaian tidak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak mandi tidak memakai sabun, dan tidak mengganti pakaian setelah mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak giginya kuning, kuku klien panjang dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak kotor, kulit bardaki dan bau keringat, rambut kusam, gatal-gatal pada kulit badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Penampilan klien tidak rapi, dan berpakaian tidak sesuai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Defisit perawatan diri ; mandi dan berhias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. POHON MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri; mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EFEK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH UTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri; harga diri rendah kronis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri; harga diri rendah kronis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Defisit perawatan diri; mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan persepsi sensori Halusinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PRIORITAS MASALAH KESEHATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Tn “ A “&lt;br /&gt;Ruangan : Nyiur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. RM : 04 10 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal Ditamukan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal Teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit Perawatan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan persepsi sensori&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Mei 2009&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Tn " M "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang : Nyiur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. RM : 04 10 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgl/Jam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dx. Kep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SP Pasien&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29/05/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01/06/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02/06/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29/05/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01/06/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02/06/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02/06/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX. I SPIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX. I SPIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX. I SPIIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX. II SPIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX.II SPIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX. II SPIIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX. II SPIIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing klien dalam hal berinteraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa yang menyebabkan bapak slalu menyendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah bapak bisa menyebutkan keuntungan bila berinteraksi dengan orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apakah bapak bisa menyebutkan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bagaimana kalau kita belajar cara berkenalan dengan satu orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya : mengucapkan salam, mengulurkan tangan lalu tanya nama dan nama panggilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bagaimana kalau kegiatan ini dimasukkan dalam jadwal harian bapak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing klien dalam hal berinteraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pak sudah tau cara berkenalan dengan satu orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah bisa bapak memperagakan berkenalan dengan satu orang? Ulurkan tangan bapak kemudian sebutkan nama dan alamat bapak kemudian tanya nama alamat yang bapak temani berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagaimana kalau latihan berkenalan ini kita masukkan dalam jadwal harian bapak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing klien dalam hal berinteraksi dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak sudah bisa berkenalan dengan satu orang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Silahkan pak mempraktekkan lebih dari dua orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimana kalau latiahan berkenalan dua orang atau lebih dimasukkan dalam jadwal harian bapak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menjelaskan pentingnya kebersihan dri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Membantu pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menjelaskan pentingnya kebersihan dri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Membantu pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menjelaskan cara makan yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Membantu pasien mempraktekkan cara makan yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menjelaskan cara eliminasi yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Membantu pasien mempraktekkan cara eliminasi yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Mengajarkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klien mengatakan selalu menyendiri karena malu dan punya banyak masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien mengatakan mau berkenalan dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klien mau memasukkan ke dalam jadwal hariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klien nampak duduk menyendiri di tempat tidurnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kontak mata kurang dan terkadang menunduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. klien menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klien menyebutkan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Klien berkenalan dengan satu perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klien mampu mengidentifikasi penyebab menyendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klien mampu menyebutkan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. klien mampu berkenalan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P : Lanjutkan Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Evaluasi jadwal harian klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beri kesempatan pada klien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bantu klien memasukkan kegiatan latihan berbincang – bincang dengan orang lain sebagai satu jadwal harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tahu cara berkenalan dengan satu orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klien berkenalan dengan satu perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kontak mata cukup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien mampu mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P : Lanjutkan Intervensi SPIIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Evaluasi jadwal harian klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beri kesempatan pada klien mempraktekkan cara cara berkenalan dengan dua orang atau lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anjurkan klien memasukkan dalam kegiatan harian klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien mengatakan sudah mempraktekkan cara berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klien masih tampak malu – malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien tampak berkenalan dengan satu orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien mampu mempraktekkan berkenalan lebih dua orang orang tapi belum percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahankan intervensi SPIIIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Evaluasi jadwal harian pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beri kesempatan pad klien mempraktekkan cara berkenalan dua orang atau lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan malas mandi, keramas dan berhias selama berada di rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan tidak pernah sikat gigi, potong kuku, dan mengganti baju selama berada di rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan tidak mempunyai pakaian untuk mengganti, dan terkadang semua peralatan mandi hilang diambil orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak kotor,kulit berdaki dan bau keringat, rambut klien panjang, kulit kepala kotor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak giginya kuning, kuku klien panjang dan hitam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Penampilan klien tidak rapi, dan berpakaian tidak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mampu mengidentifikasi kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mampu melaksanakan perawatan kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Ajarkan cara melakukan perawatan kebersihan diri mandi dan berhias dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan malas mandi, keramas dan berhias selama berada di rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan tidak pernah sikat gigi, potong kuku, dan mengganti baju selama berada di rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan tidak mempunyai pakaian untuk mengganti, dan terkadang semua peralatan mandi hilang diambil orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak kotor,kulit berdaki dan bau keringat, rambut klien panjang, kulit kepala kotor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Klien nampak giginya kuning, kuku klien panjang dan hitam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Penampilan klien tidak rapi, dan berpakaian tidak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mampu mengidentifikasi kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mampu melaksanakan perawatan kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Ajarkan cara melakukan perawatan kebersihan diri mandi dan berhias dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan bahwa dirinya tadi pagi sudah makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan makannya diatas meja dan mencuci tangannya sebelum makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien memperlihatkan sendok yang dipakai makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien nampak mengingat semua yang diajarkan oleh perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat mengikuti semua kegiatan makan dengan baik dan teratur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarkan cara makan dan teratur yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan bahwa dirinya tadi pagi sudah BAB dan BAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien mengatakan BAB dan BAK di WC dan mencuci tangannya sesudah BAB dan BAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Klien nampak mengingat semua yang diajarkan oleh perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat melakukan BAB dan BAK dengan baik dan pada tempatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarkan cara eliminasi dan teratur yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA KEPERAWATAN. Tn” M ” DIRUANGAN NYIUR BPRS. DADI MAKASSAR PROP. SUL-SEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Klien : Tn. “ M ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Register : 04 10 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan : Nyiur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TGL&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERENCANAAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITERIA EVALUASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit Perawatan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUM :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan persepsi sensori tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 1 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 4 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 5 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat mengungkapkan perasannya setelah berhungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri;mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK : I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat mengenal tentang pentingnya kesehatan khususnya dalam kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat melakukan kebersihan diri mandi dan berhias dengan bantuan perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 4 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat melakukan perawatan diri mandi dan berhias secara mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 5 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat memertahankan kebersihan diri mandi dan berhias secara mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 6 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan pemeliharaan kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Ekspresi wajah bersahabat, menunjuk rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi sosial yang berasal dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Klien dapat menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap antara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K. P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K-P-K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K-P-Kel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K-P-Klp/Klp/Masy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1.Ekspresi wajah bersahabat, menunjuk rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.Klien dapat menjelaskan tentang arti kebersihan diri ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Berpakaian yang sesuai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Klien mau dan mampu melakukan kebersihan diri mandi dan berhias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1 Klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri atas motivasi dan inisiatif sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Klien dapat mengidentifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan dan aspek positif yang dimiliki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kemampuan memahami arti pentingnya menjaga kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1 Klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sapa klien dengan ramah dan baik verbal maupun non verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perkenalkan diri dengan sopan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1. Kaji pengetahuan klien tentang isolasi sosial dan tanda – tandanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 Beri kesempatan klien untuk mengunkapkan perasaan penyebab isolasi sosial dan tidak mau bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3 Diskusikan ada klien tentang perilaku isolasi sosial, tanda dan penyebab yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.4 Berikan pujian pada klien terhadap kemampuan mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2 Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya tentang keuntungan berhubungan dengan oramg lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4 Beri reinforcement positif terhadap kemanpuan mengungkapakan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2 Beri reinforcement positif terhadap kemanpuan mengungkapakan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.1 Kaji kemampuan klien dalam membina hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.2 Dorong dan bantu klienuntuk berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien meningkatkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sapa klien dengan ramah dan baik verbal maupun non verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkenalkan diri dengan sopan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1. Kaji pengetahuan klien tentang arti kebersihan diri dan cara-cara mandi, makan, berpakaian yang sesuai, dan berhias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3 Diskusikan bersama klien tentang fungsi memelihara kesehatan diri dengan menggali pengetahuan klien tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan diri mandi, makan, berpakaian yang sesuai, dan berhias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.4 Berikan pujian atas apa yang telah klien lakukan serta ingatkan klien memelihara kesehatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1 Kaji motivasi klien untuk mandi dan berhias, memotong kuku dan merapikan rambut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2 Bimbing klien untuk mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3 Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4 Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk mengolah fasilitas perawatan kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.1 Monitor klien dalam melaksanakan kebersihan diri mandi dan berhias secara teratur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.2 Ingatkan klien untuk mencuci rambut, menyisir rambut, gosok gigi, ganti baju, dan pakai sandal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1 Berikan pujian jika klien berhasil melakukan kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.1 Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.2 Diskusikan bersama keluarga tentang tindakan yang telah dilakukan klien selama dirumah sakit dalam menjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.3 Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebersihan diri mandi dan berhias klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.4 Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling percaya yang terbina merupakan dasar untuk interaksi selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1 Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 untuk mengetahu alasan klien isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3 Meningkatkan pengetahuan klien serta bersama mencari pemecahan masalah kilen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.4 Meningkatkan harga diri klien sehingga berani bergaul dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1 Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2 Mengidentifikasi perasaan klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3 Meningkatkan pengetahuan klien tentang perlunya berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4 Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1 Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien untuk merencanakan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2 Meningkatkan harga diri klien sehingga berani bergaul dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.1 Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.2 Klien mungkin dapat mengalami perasaan tidak nyaman, malu dalam berhubungan sehingga perlu dilatih secara bertahap dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.3 Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.4 Klien dapat merasakan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.5 Membantu klien dalam menjalani hubungan yang kooperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1 untuk mengetahui sejauh mana hubungan interpersonal klien dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.2 Mengidentifikasi hambatan yang dirasakan oleh klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.3 Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling percaya yang terbina merupakan dasar untuk interaksi selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1. Pengetahuan klien dapat menjadi dasar dalam rencana tindakan berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2. Adanya pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan klien tidak memelihara kebersihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3. Dengan dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki, klien dapat mengetahui hal-hal yang dapat dilakukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.4. Pemberian pujian dapat meningkatkan harga diri klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1 Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Klien merasa diperhatikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3. Meningkatkan kebersihan diri klien dan memberikan rasa nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4. Dengan fasilitas yang baik dapat memotivasi klien agar lebih meningkatkan kebersihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.1. Dengan dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki, klien dapat mengetahui hal-hal yang dapat dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.1. Meningkatkan kesadaran klien tentang pentingnya menjaga dan memelihara kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1. Pemberian pujian dapat meningkatkan harga diri klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.1. Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk interaksi selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.2. Meningkatkan kesadaran klien tentang pentingnya menjaga kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.3 Sarana yang lengkap dapat membantu klien dalam memertahankan pemeliharaan kebersihan diri mandi dan berhias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.4. Keluarga merupakan orang terdekat dengan klien dan merupakan sistem pendukung untuk menolong klien melakukan perawatan dirumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Anna Keliat. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta : EGC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gail w. Stuart. 2007. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 5. EGC. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gail w. Stuart. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta : EGC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyus Yosep, SKp.,M.Si. 2007. Buku Keperawatan Jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suliswati, S.Kp, M.Kes, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Jiwa. Edisi I. Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mary c. townsend. 1998 Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta : EGC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentosa Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. (defenisi dan klasifikasi). Prima Medika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswanto. 2007. Kesehatan Mental (konsep cakupan dan pekembangannya). Yogyakarta : ANDI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-6317466379458238860?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/6317466379458238860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=6317466379458238860' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6317466379458238860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6317466379458238860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/07/kti-isolasi-sosial.html' title='KTI  ISOLASI SOSIAL'/><author><name>kippo' bloggers</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06524933999607351605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_vHWccQ0yIEs/SlbWxK-_H1I/AAAAAAAAAAM/CN8SwLlr-gY/S220/P5010679.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-6982366460912571246</id><published>2009-05-31T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T07:45:32.136-07:00</updated><title type='text'>Sebuah kecelakaan</title><content type='html'>Jika seandainya DPR tidak mengesahkan UU keperawatan maka hal itu merupakan suatu kesalahn besar yang tidak bijak, karena bagaimanapun Perawat diseluruh penjuru tanah air menginginkan perlunya UU tersebut untuk melindungi mereka dalam melaksanakan aktifitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar-seminar bukanlah penyelesaian masalah, namun sekarang kita harus turun kejalan melawan tirani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapkah anda????&lt;br /&gt;Mari jadi tameng pembaharuan untuk profesi ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-6982366460912571246?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/6982366460912571246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=6982366460912571246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6982366460912571246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6982366460912571246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/05/sebuah-kecelakaan.html' title='Sebuah kecelakaan'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-7616666716039850611</id><published>2009-03-02T23:36:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T23:38:41.897-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umum'/><title type='text'>Education Expo, dari Akper Muhammadiyah Makassar</title><content type='html'>Nama-nama mahasiwa panitia pameran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Education Expo, dari Akper Muhammadiyah Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.&lt;br /&gt;1. Abdul Razak&lt;br /&gt;2. Nani Nursani&lt;br /&gt;3. Emy Kalsum&lt;br /&gt;4. Nurul Asri&lt;br /&gt;5. Kartika Saputri&lt;br /&gt;6. Raden Wiarawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-7616666716039850611?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/7616666716039850611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=7616666716039850611' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7616666716039850611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7616666716039850611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/03/education-expo-dari-akper-muhammadiyah.html' title='Education Expo, dari Akper Muhammadiyah Makassar'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-2310397934096827026</id><published>2009-01-23T21:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:20:14.087-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Askep Op'/><title type='text'>PERAN PERAWAT PADA FASE PRE-OPERATIF</title><content type='html'>1. Pengkajian Praoperatif di klinik/per telepon&lt;br /&gt;           a.melakukan pengkajian perioperatif awal&lt;br /&gt;           b.merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien&lt;br /&gt;           c.melibatkan keluarga dalam wawancara&lt;br /&gt;           d.memastikan kelengkapan pemeriksaan perioperatif&lt;br /&gt;           e.mengkaji kebutuhan pasien terhadap transportasi dan perawatan pascaoperatif.&lt;br /&gt;2. Unit Bedah&lt;br /&gt;          a. melengkapi pengkajian praoperatif&lt;br /&gt;          b. mengkoordinasi penyuluhan pasien dengan staf keperawatan lain&lt;br /&gt;          c. menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi&lt;br /&gt;          d.      membuat rencana asuhan.&lt;br /&gt;3. Ruang Operatif&lt;br /&gt;          a.mengkaji tingkat kesadaran pasien&lt;br /&gt;          b.menelaah lembar observasi pasien&lt;br /&gt;          c.mengidentifikasi pasien&lt;br /&gt;          d.memastikan daerah pembedahan.&lt;br /&gt;4.      Perencanaan&lt;br /&gt;         a. menentukan rencana asuhan&lt;br /&gt;         b. mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai.&lt;br /&gt;5.      Dukungan Psikologis&lt;br /&gt;          a.menceritakan pada pasien apa yang sedang terjadi&lt;br /&gt;          b.menentukan status psikologis&lt;br /&gt;          c.memberikan peringatan akan stimuli nyeri&lt;br /&gt;          d.mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang berkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN FISIK UMUM&lt;br /&gt;            Pengkajian klien bedah meliputi evaluasi faktor-faktor fisik dan psikologis secara luas. Banyak parameter dipertimbangkan dalam pengkajian menyeluruh terhadap klien, dan berbagai masalah klien atau diagnosis keperawatan dapat diantisipasi atau diidentifikasi dengan dibandingkan pada data dasar. &lt;br /&gt;1.       Status Nutrisi dan Penggunaan Bahan Kimia&lt;br /&gt;          a.mengukur tinggi dan berat badan&lt;br /&gt;          b.mengukur lipat kulit trisep&lt;br /&gt;          c.mengukur lingkar lengan atas&lt;br /&gt;          d.mengkaji kadar protein darah dan keseimbangan nitrogen&lt;br /&gt;          e.kadar elektrolit darah&lt;br /&gt;          f.asupan makanan pre-operatif&lt;br /&gt;          Keadaan khusus :&lt;br /&gt;          a.Obesitas : jaringan lemak rantan terhadap infeksi, peningkatan masalah teknik dan mekanik                          (resiko dehisensi), dan nafas tidak optimal.&lt;br /&gt;          b.Penggunaan obat dan alcohol : rentan terhadap cedera, malnutrisi, dan tremens delirium.&lt;br /&gt;2.Status Pernafasan&lt;br /&gt;          a.berhenti merokok 4 – 6 minggu sebelum pembedahan&lt;br /&gt;          b.latihan nafas dan penggunaan spirometer intensif&lt;br /&gt;          c.pemeriksaan fungsi paru dan analisa gas darah (AGD)&lt;br /&gt;          d.riwayat sesak nafas atau penyakit saluran pernafasan yang lain.&lt;br /&gt;3.      Status Kardiovaskuler&lt;br /&gt;          a.penyakit kardiovaskuler&lt;br /&gt;          b.kebiasaan merubah posisi secara mendadak&lt;br /&gt;          c.riwayat immobilisasi berkepanjangan&lt;br /&gt;          d.hipotensi atau hipoksia&lt;br /&gt;          e.kelebihan cairan/darah&lt;br /&gt;          f.tanda-tanda vital&lt;br /&gt;          g. riwayat perdarahan.&lt;br /&gt;4.      Fungsi Hepatik dan Ginjal&lt;br /&gt;          a.kelainan hepar&lt;br /&gt;          b.riwayat penyakit hepar&lt;br /&gt;          c.status asam basa dan metabolisme&lt;br /&gt;          d.riwayat nefritis akut, insufisiensi renal akut.&lt;br /&gt;5.      Fungsi Endokrin&lt;br /&gt;          a.      riwayat penyakit diabetes&lt;br /&gt;          b.      kadar gula darah&lt;br /&gt;          c.      riwayat penggunaan kortikosteroid atau steroid (resiko insufisiensi adrenal)&lt;br /&gt;6.      Fungsi Imunologi&lt;br /&gt;          a.      kaji adanya alergi&lt;br /&gt;          b.      riwayat transfusi darah&lt;br /&gt;          c.      riwayat asthma bronchial&lt;br /&gt;          d.      terapi kortikosteroid&lt;br /&gt;          e.      riwayat transplantasi ginjal&lt;br /&gt;          f.      terapi radiasi&lt;br /&gt;          g.      kemoterapi&lt;br /&gt;          h.      penyakit gangguan imunitas (AIDS, Leukemia)&lt;br /&gt;          i.        suhu tubuh.&lt;br /&gt;7.      Sistem Integumen&lt;br /&gt;          a.      keluhan terbakar, gatal, nyeri, tidak nyaman, paresthesia&lt;br /&gt;          b.      warna, kelembaban, tekstur, suhu, turgor kulit&lt;br /&gt;          c.      alergi obat dan plesterriwayat puasa lama, malnutrisi, dehidrasi, fraktur mandibula, radiasi pada                    kepala, terapi obat, trauma mekanik.&lt;br /&gt;          d.      Perawatan mulut oleh pasien.&lt;br /&gt;8.      Terapi Medikasi Sebelumnya&lt;br /&gt;          a.      obat-obatan yang dijual bebas dan frekuensinya&lt;br /&gt;          b.      kortikosteroid adrenal : kolaps kardiovaskuler&lt;br /&gt;          c.      diuretic : depresi pernafasan berlebihan selama anesthesia&lt;br /&gt;          d.      fenotiasin : meningkatkan kerja hipotensif dari anesthesia&lt;br /&gt;          e.      antidepresan : Inhibitor Monoamine Oksidase (MAO) meningkatkan efek hipotensif anesthesia&lt;br /&gt;          f.      tranquilizer : ansietas, ketegangan dan bahkan kejang&lt;br /&gt;          g.      insulin : interaksi insulin dan anestetik harus dipertimbangkan&lt;br /&gt;          h.      antibiotik : paralysis system pernafasan.&lt;br /&gt;9.      Pertimbangan Gerontologi&lt;br /&gt;          a.      penyakit kronis&lt;br /&gt;          b.      ketakutan lansia divonis sakit berat — bohong (tidak melaporkan gejala)&lt;br /&gt;          c.      fungsi jantung&lt;br /&gt;          d.      fungsi ginjal&lt;br /&gt;          e.      aktivitas gastrointestinal&lt;br /&gt;          f.      dehidrasi, konstipasi, malbutrisi&lt;br /&gt;          g.      keterbatasan sensori penglihatan&lt;br /&gt;          h.      penurunan sensitivitas sentuhan&lt;br /&gt;          i.        riwayat cedera, kecelakaan dan luka bakar&lt;br /&gt;          j.       arthritis&lt;br /&gt;          k.      keadaan mulut (gigi palsu)&lt;br /&gt;          l.        kajian integumen (kulit) : gatal-gatal, penurunan lemak — perubahan suhu tubuh&lt;br /&gt;          m.    penyakit pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR-FAKTOR RESIKO UNTUK SEGALA PROSEDUR PEMBEDAHAN&lt;br /&gt;1.       Faktor-faktor Sistemik&lt;br /&gt;          a.      hipovolemia&lt;br /&gt;          b.      dehidrasi atau ketidakseimbangan elektroli&lt;br /&gt;          c.      defisit nutrisi&lt;br /&gt;          d.      usia tua&lt;br /&gt;          e.      BB ekstrim&lt;br /&gt;          f.      Infeksi dan sepsis&lt;br /&gt;         g.      Kondisi toksik&lt;br /&gt;         h.      Abnormalitas imunologi&lt;br /&gt;2.      Penyakit Paru&lt;br /&gt;          a.      penyakit obstruktif&lt;br /&gt;          b.      kelainan restriktif&lt;br /&gt;          c.      infeksi pernafasan&lt;br /&gt;3. Penyakit Saluran Perkemihan dan Ginjal&lt;br /&gt;         a. penurunan fungsi ginjal&lt;br /&gt;         b. infeksi saluran perkemihan&lt;br /&gt;         c. obstruksi&lt;br /&gt;4. Kehamilan&lt;br /&gt;         Hilangnya cadangan fisiologis maternal&lt;br /&gt;5. Penyakit Kardiovaskuler&lt;br /&gt;        a.      penyakit arteri koroner&lt;br /&gt;        b.      gagal jantung&lt;br /&gt;        c.      disritmia&lt;br /&gt;        d.      hipertensi&lt;br /&gt;        e.      katub jantung prostetik&lt;br /&gt;        f.      treomboembolisme&lt;br /&gt;        g.      diatesis hemoragik&lt;br /&gt;        h.      penyakit serebrovaskuler&lt;br /&gt;6.      Disfungsi Endokrin&lt;br /&gt;         a. Diabetes Mellitus&lt;br /&gt;         b. kelainan adrenal&lt;br /&gt;         c. malfungsi tiroid&lt;br /&gt;7.      Penyakit Hepatik&lt;br /&gt;         a. Sirosis&lt;br /&gt;         b. Hepatitis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;Data laboratorium memberikan petunjuk yang bermanfaat untuk mengkaji status klinik pasien dan potensial risiko infeksi. Meskipuntidak dapat digunakan tanpa referansi dari data klinik yang lain, hasil pemeriksaan laboratorium dapat memberikan petunjuk penting untuk menentukan tindakan keperawatan perioperatif. Adapun pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan sebelum tindakan pembedahan adalah :&lt;br /&gt;Hematokrit                                                                       BJ urin&lt;br /&gt;Hemoglobin                                                                      AGD&lt;br /&gt;Trombosit                                                                         Leukosit atau sel darah putih&lt;br /&gt;Albumin                                                                            Gamma globulin&lt;br /&gt;Elektrolit darahantibodi serum terhadap HIV                   HbSAg&lt;br /&gt;Gula darah                                                                        Golongan darah&lt;br /&gt;Selain itu hasil pemeriksaan radiologis seperti rontgen foto, USG abdomen, USG ginjal, MRI, BNO-IVP, dll yang terkait dengan prosedur pembedahan atau kasus, harus pula disertakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLASIFIKASI STATUS FISIK UNTUK ANESTHESIA SEBELUM PEMBEDAHAN&lt;br /&gt;(ASA : American Society of Anesthesiology)&lt;br /&gt;1. Baik : tidak ada penyakit organic, tidak ada gangguan sistemik&lt;br /&gt;      Contoh : hernia tidak terkomplikasi, fraktur&lt;br /&gt;2. Cukup : gangguan sistemik ringan sampai sedang&lt;br /&gt;      Contoh : penyakit jantung ringan, diabetes ringan&lt;br /&gt;3. Buruk : gangguan sistemik berat&lt;br /&gt;      Contoh : diabetes dengan kontrol yang buruk, komplikasi pulmonary, penyakit jantung sedang&lt;br /&gt;4. Serius : penyakit sistemik yang mengancam jiwa&lt;br /&gt;      Contoh : penyakit ginjal berat, penyakit jantung berat&lt;br /&gt;5. Moribund : kans bertahan hidup kecil tetapi pengiriman ke ruang operasi harus dilakukan&lt;br /&gt;      Contoh : ruptur aneurisme abdomen dengan syok hebat, embolus pulmonary massif&lt;br /&gt;6. Kedaruratan : semua dari yang telah disebutkan di atas ketika pembedahan dilakukan dalam suatu situasi kedaruratan&lt;br /&gt;      Contoh :  Hernia tidak terkomplikasi yang menjadi strangulata dan berkaitan dengan mual muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLASIFIKASI PROSEDUR OPERASI&lt;br /&gt;KATEGORI&lt;br /&gt;DEFINISI&lt;br /&gt;KARAKTERISTIK INTERVENSI BEDAH&lt;br /&gt;Operasi bersih&lt;br /&gt;(ex : herniorrafi)&lt;br /&gt;Kontaminasi endogen minimal; luka tidak terinfeksi&lt;br /&gt;Non traumatic, tidak terinfeksi, tidak ada inflamasi.&lt;br /&gt;Saluran nafas, cerna, dan GU tidak dimasuki, tidak melanggar teknik aseptic, penutupan utama, tidak ada drain (beberapa institusi membolehkan penggunaan penghisapan luka tertutup untuk operasi bersih)&lt;br /&gt;Operasi bersih terkontaminasi&lt;br /&gt;(ex : appendiktomi)&lt;br /&gt;Kontaminasi bakteri dapat terjadi dari sumber endogen&lt;br /&gt;Saluran nafas, cerna dan GU dimasuki tanpa percikan yang berarti (atau urin atau empedu terinfeksi, untuk traktus GU dan pohon biliaris).&lt;br /&gt;Vagina dan orofaring dimasuki. Melanggar teknik aseptic. Luka dapat berair.&lt;br /&gt;Operasi terkontaminasi&lt;br /&gt;(ex : perbaikan trauma baru, terbuka)&lt;br /&gt;Kontaminasi telah terjadi&lt;br /&gt;Percikan dari traktus GI; urin atau empedu terinfeksi (pada prosedur traktus GU atau biliaris). Luka terbuka traumatic yang baru; inflamasi non purulen akut ditemui. Melanggar teknik aseptic.&lt;br /&gt;Operasi kotor dan terinfeksi&lt;br /&gt;(ex : drainase abses)&lt;br /&gt;Dijumpai infeksi, jaringan mati, atau kontaminasi mikroba&lt;br /&gt;Luka traumatic lama (lebih dari 12 jam). Luka terinfeksi, viscera mungkin mengalami perforasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FORMULIR KEPERAWATAN PERIOPERATIF&lt;br /&gt;Formulir keperawatan perioperatif apapun bentuknya sesuai dengan ketentuan masing-masing pelayanan kesehatan/rumah sakit (seperti yang sudah dicontohkan pada halaman sebelumnya), harus mengandung hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.       pengkajian dan perancanaan yang terus menerus selama periode perawatan perioperatif&lt;br /&gt;2.      identifikasi semua partisipan yang memberikan perawatan dan nama mereka, gelar, dan kewenangan mereka&lt;br /&gt;3.      pemeriksaan awal saat kedatangan di unit perawatan perioperatif (tingkat kesadaran, status emosional, dan fisik)&lt;br /&gt;4.      integritas kulit pasien secara menyeluruh saat masuk dan keluar dari unit perawatan perioperatif&lt;br /&gt;5.      ada atau tidaknya alat bantu komunikasi (alat bantu dengar, alat bantu vokal) dan protese (lensa kontak, gigi palsu, wig). Jika alat-alat ini menyertai pasien ke dalam kamar operasi, penempatannya harus dicatat&lt;br /&gt;6.      alat-alat pemberi posisi dan alat-alat tambahan yang digunakan selama operasi (papan lengan, pengikat pengaman, penahan ekstremitas, matras berbentuk telur)&lt;br /&gt;7.      area pemasangan bantalan bedah listrik, tipe unit bedah listrik, nomor seri unit, dan tempatnya&lt;br /&gt;8.      kategori klasifikasi luka, sehingga perawat dapat mengidentifikasi pasien beresiko tinggi terhadap infeksi, dan dapat mengambil tindakan pengamanan yang tepat&lt;br /&gt;9.      penempatan lead EKG atau alat-alat elektronik lainnya (Doppler, EEG)&lt;br /&gt;10.  area penempatan unit termia, nomor seri unit, waktu pencatatan dan suhu&lt;br /&gt;11.   obat-obatan yang diberikan selama operasi&lt;br /&gt;12.  penghitungan alat-alat bedah dan hasilnya&lt;br /&gt;13.  pemasangan manset torniquet, waktu pemasangan dan pelepasan, tekanan torniquet&lt;br /&gt;14.  pemasangan semua drain, tampon, balutan dan kateter&lt;br /&gt;15.  implan prostetik, pabrik, nomor, tipe, ukuran&lt;br /&gt;16.  pemberian anesthesia lokal&lt;br /&gt;17.  larutan persiapan tempat operasi, kondisi kulit sebelum dan setelah pemakaian larutan&lt;br /&gt;18.  pemeriksaan diagnostik selama intraoperatif&lt;br /&gt;19.  keluaran urine dan perkiraan darah yang hilang&lt;br /&gt;20. jenis spesimen dan pengirimannya&lt;br /&gt;21.  waktu penyelesaian operasi, keluarnya pasien, status pasien dan alat pemindahan yang digunakan&lt;br /&gt;22. instruksi post-op&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSIS KEPERAWATAN&lt;br /&gt;      Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosis keperawatan pre-operatif mayor klien bedah dapat mencakup :&lt;br /&gt;1. Cemas, berhubungan dengan pengalaman bedah (anesthesi, nyeri) dan hasil akhir dari pembedahan&lt;br /&gt;2. Kurang pengetahuan mengenai prosedur dan protokol pre-operatif dan harapan pasca-operatif&lt;br /&gt;3. Takut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERENCANAAN dan IMPLEMENTASI&lt;br /&gt;      Tujuan utama asuhan keperawatan pre-operatif pada klien bedah dapat meliputi : menghilangkan ansietas pre-operatif dan peningkatan pengetahuan tentang persiapan pre-operatif dan harapan pasca-operatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1.       Menurunkan ansietas pre-operatif&lt;br /&gt;2.      Penyuluhan klien (lihat “Persiapan Operasi jangka panjang : latihan nafas dalam, batuk dan relaksasi, perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif, kontrol dan medikasi nyeri, dan kontrol kognitif)&lt;br /&gt;3.      Persiapan operasi segera&lt;br /&gt;4.      Berikan dorongan untuk pengungkapan. Dengarkan, pahami klien dan berikan informasi yang membantu menyingkirkan kekhawatiran klien&lt;br /&gt;5.      Libatkan peran dari keluarga atau sahabat klien, sepanjang masih memungkinkan&lt;br /&gt;6.      Dorong klien untuk mengekspresikan ketakutan atau kekhawatiran tentang pembedahan yang akan dihadapinya&lt;br /&gt;7.      Pertahankan komunikasi terbuka dengan klien&lt;br /&gt;8.      Bantu klien untuk mendapatkan bantuan spiritual yang klien inginkan&lt;br /&gt;9.      Persiapan nutrisi dan cairan&lt;br /&gt;10.  Persiapan intestinal&lt;br /&gt;11.   Persiapan kulit pre-operatif&lt;br /&gt;12.  Medikasi pre-anesthesia&lt;br /&gt;13.  Lengkapi catatan pre-operatif&lt;br /&gt;14.  Transportasi ke ruang bedah (OK)&lt;br /&gt;15.  Membantu keluarga klien melewati pengalaman bedah klien*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Membantu keluarga klien melewati pengalaman bedah klien :&lt;br /&gt;            Kebanyakan rumah sakit dan pusat-pusat pembedahan mempunyai ruang tunggu khusus dimana keluarga dapat menunggu selama klien sedang menjalani pembedahan. Ruangan ini mungkin dilengkapi dengan kursi yang nyaman, televisi, telepon dan fasilitas-fasilitas untuk refreshing ringan. Setelah pembedahan, ahli bedah dapat menemui keluarga di ruang tunggu dan mendiskusikan hasil dari operasi.&lt;br /&gt;            Keluarga seharusnya tidak menilai keseriusan operasi dengan lamanya waktu klien berada di ruang operasi. Klien mungkin dalam pembedahan lebih lama daripada waktu operasi yang aktual untuk beberapa alasan :&lt;br /&gt;1.       Sudah menjadi kebiasaan untuk mengirim klien lebih dahulu dari waktu operasi yang sesungguhnya&lt;br /&gt;2.      Ahli anesthesi sering membuat persiapan tambahan yang dapat memerlukan waktu sekitar 30 – 60 menit&lt;br /&gt;3.      Kadang-kadang dokter bedah memerlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan dengan kasus yang ada, yang memperlambat mulainya prosedur pembedahan berikutnya&lt;br /&gt;4.      Setelah pembedahan, klien dibawa ke ruang unit pasca anesthesi (ruang pemulihan) untuk memastikan tidak adanya keadaan kedaruratan akibat anesthesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi keluarga/sahabat yang menunggu klien selama pembedahan, dapat diinformasikan bahwa mungkin setelah pembedahan, pada klien dapat terpasang peralatan tertentu ketika kembali ke ruangan (mis : IV-line, kateter urine, botol penghisap, drain, selang oksigen, peralatan pemantau dan jalur transfusi darah).&lt;br /&gt;Bagaimanapun, temuan pembedahan dan prognosisnya, bahkan ketika hasil pembedahannya memuaskan, hal ini merupakan tanggung jawab ahli bedah dan bukan prerogatif atau tanggung jawab perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVALUASI&lt;br /&gt;Banyak institusi menggunakan catatan medis yang berorientasi pada masalah (POMR). Dokumentasi POMR memuat masalah pasien dan luas masalah yang sudah teratasi.sistem POMR mencakup catatan perawat, dokter dan tim kesehatan lainnya yang diberi nomor dan label dalam urutan angka.&lt;br /&gt;Konsep POMR telah dikembangkan menjadi catatan SOAP atau SOAPIE (Groah, 1983) :&lt;br /&gt;1.       Subjektif : status kesehatan pasien, apa yang ia pikirkan dan rasakan tentang masalah kesehatannya&lt;br /&gt;2.      Objektif : temuan fisik dan laboratorium serta observasi pasien&lt;br /&gt;3.      Pengkajian : rumusan diagnosis keperawatan, masalah klien, hasil yang diharapkan dan kriteria evaluasi&lt;br /&gt;4.      Perencanaan : aktivitas-aktivitas yang diperlukan pasien untuk mencapai tujuan&lt;br /&gt;5.      Implementasi : aktivitas keperawatan yang dilaksanakan&lt;br /&gt;6.      Evaluasi : sejauhmana pasien mencapai tujuan yang psesifik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi umum pre-operatif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ansietas dikurangi :&lt;br /&gt;a. Mendiskusikan kekhawatiran yang berkaitan dengan tipe anesthesia dan induksi dengan ahli anesthesia&lt;br /&gt;b. Mengungkapkan suatu pemahaman tentang medikasi pra anesthesi dan anesthesi umum&lt;br /&gt;c. Mendiskusikan kekhawatiran saat-saat terakhir dengan perawat atau dokter&lt;br /&gt;d. Mendiskusikan masalah-masalah finansial dengan pekerja sosial, bila diperlukan&lt;br /&gt;e. Meminta kunjungan petugas rohani, bila diperlukan&lt;br /&gt;f. Benar-benar rileks setelah dikunjungi oleh anggota tim kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyiapkan klien terhadap intervensi pembedahan :&lt;br /&gt;a. Ikut serta dalam persiapan pre-operatif&lt;br /&gt;b. Menunjukkan dan menggambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan klien setelah operasi&lt;br /&gt;c. Menelaah informasi tentang perawatan pasca-operatif&lt;br /&gt;d. Menerima medikasi pra-anesthesi&lt;br /&gt;e. Tetap berada di tempat tidur&lt;br /&gt;f. Relaks selama transformasi ke unit operasi&lt;br /&gt;g. Menyebutkan rasional penggunaan pagar tempat tidur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-2310397934096827026?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/2310397934096827026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=2310397934096827026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/2310397934096827026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/2310397934096827026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/peran-perawat-pada-fase-pre-operatif.html' title='PERAN PERAWAT PADA FASE PRE-OPERATIF'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-6060809820448812923</id><published>2009-01-23T21:14:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:15:21.433-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep'/><title type='text'>Konsep Dasar Operasi</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Pada era tahun 80-an, tujuh dari delapan pasien bedah di rumah sakit setidaknya memerlukan menginap satu malam di rumah sakit. Sekarang ini, diperkirakan bahwa 60% pembedahan dilakukan di unit-unit rawat jalan. Pada waktu yang sama, di mana terjadi kemajuan teknologi, pelayanan dan pembayaran untuk perawatan kesehatan juga berubah, mengakibatkan lama hari rawat yang lebih singkat dan tindakan dengan biaya efektif (Brunner &amp;amp; Suddath, 2002). Sebagai akibatnya, banyak orang yang dijadwalkan untuk pembedahan menjalani persiapan diagnostik dan praoperatif sebelum masuk rumah sakit. Mereka juga meninggalkan rumah sakit lebih cepat, meningkatkan kebutuhan akan penyuluhan klien, perencanaan pemulangan (discharge planning), persiapan untuk perawatan diri, dan rujukan untuk perawatan rumah dan layanan rehabilitatif.&lt;br /&gt;Bedah ambulatori, pembedahan sehari mengharuskan perawat untuk mempunyai pengetahuan yang solid mengenai semua aspek perawatan klien bedah. Pengetahuan keperawatan praoperatif dan pascaoperatif tidak lagi memadai; perawatan yang lengkap harus mencakup pemahaman tentang aktivitas intraoperatif.&lt;br /&gt;Pasien yang menjalani pembedahan tetaplah seorang individu yang memiliki kebutuhan, ketakutan, dan masalah-masalah yang sangat nyata seperti individu yang lain, serta menghadapi peristiwa-peristiwa besar yang sering terjadi dalam kehidupan. Bagi pasien yang akan menjalani pembedahan, melewati perawatan dari banyak kelompok perawat yang berbeda merupakan suatu masalah. Biasanya kelompok dokter yang merawat pasien di bangsal dan yang melakukan pembedahan adalah kelompok yang sama. Di dalam suatu bangsal bedah, jumlah kelompok perawat bisa mencapai 6 orang, yang semuanya memiliki ketrampilan spesialis, dan mereka terlibat dalam perawatan sejak pasien masuk ke bangsal bedah untuk dilakukan pembedahan, sampai pasien kembali ke bangsal, hingga pasien pulih dari efek dini pembedahan.&lt;br /&gt;Peran perawat sebagai advokat pasien sangat penting selama waktu yang disebut sebagai periode peri-operatif. Biasanya pasien memiliki pengetahuan yang sangat sedikit tentang setiap prosedur yang dilakukan dalam lingkungan yang asing dan sangat teknis, dimana orang-orang menyembunyikan wajahnya di belakang masker. Karena kondisi fisik dan prosedur yang akan dilakukan selama pembedahan, pasien tidak akan memiliki kemampuan fisik untuk menjada keselamatan diri mereka. Pasien bisa, atau tidak bisa dibuat tidak sadar, dengan diberikan anestetik umum. Bila pasien sadar dan menjalani analgesia lokal, maka setiap pasien masih bergantung pada perawatan yang diberikan kepada mereka, karena kemungkinan pasien sangat mengantuk akibat pengobatan yang hampir pasti diberikan untuk menghilangkan ansietas.&lt;br /&gt;Dewasa ini, kita harapkan pasien telah mendapatkan informasi yang cukup, sehingga mereka berkenan memberikan persetujuan atas pembedahan yang akan dilakukan. Pemahaman tentang sesuatu yang akan terjadi, telah terbukti bermanfaat dalam mengurangi ansietas yang selalu muncul saat menghadapi situasi berbahaya seorang diri, dalam lingkungan asing dan tanpa dukungan yang kita harapkan ada untuk menjalani hidup.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN&lt;br /&gt;v      Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh (Hancock, 1999).&lt;br /&gt;v      Operasi (elektif atau kedaruratan) pada umumnya merupakan peristiwa kompleks yang menegangkan (Brunner &amp;amp; Suddarth, 2002).&lt;br /&gt;v      Perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan — praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif.&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;Operasi (perioperatif) merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh yang mencakup fase praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif (postoperatif) yang pada umumnya merupakan suatu peristiwa kompleks yang menegangkan bagi individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPERAWATAN PERIOPERATIF&lt;br /&gt;Keperawatan Perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase-fase Pengalaman Pembedahan dan Lingkup Aktivitas Perawat :&lt;br /&gt;1.       Fase Praoperatif&lt;br /&gt;Peran perawat dimulai ketika keputusan untuk intervensi pembedahan dibuat dan berakhir ketika klien dikirim ke meja operasi.&lt;br /&gt;Lingkup aktivitas perawat :&lt;br /&gt;-         pengkajian dasar klien (di rumah sakit atau di rumah)&lt;br /&gt;-         wawancara praoperatif&lt;br /&gt;-         persiapan anestesia&lt;br /&gt;-         persiapan pembedahan&lt;br /&gt;2.      Fase Intraoperatif&lt;br /&gt;Dimulai ketika klien masuk atau dipindah ke bagian atau departemen bedah dan berakhir saat klien dipindahkan ke ruang pemulihan.&lt;br /&gt;Lingkup aktivitas perawat :&lt;br /&gt;-         memasang IV-line (infus)&lt;br /&gt;-         memberikan medikasi intravena&lt;br /&gt;-         melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan&lt;br /&gt;-         menjaga keselamatan klien (menggenggam tangan klien, mengatur posisi klien)&lt;br /&gt;3.      Fase Pascaoperatif&lt;br /&gt;Dimulai dengan masuknya klien ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.&lt;br /&gt;Lingkup aktivitas perawat :&lt;br /&gt;-         mengkaji efek dari agens anesthesia&lt;br /&gt;-         memantau fungsi vital&lt;br /&gt;-         mencegah komplikasi&lt;br /&gt;-         peningkatan penyembuhan klien&lt;br /&gt;-         penyuluhan&lt;br /&gt;-         perawatan tindak lanjut&lt;br /&gt;-         rujukan yang penting untuk penyembuhan&lt;br /&gt;-         rehabilitasi&lt;br /&gt;-         pemulangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN PERIOPERATIF&lt;br /&gt;1. Standar I : Pengumpulan data tentang status kesehatan pasien bersifat sistematis dan kontinu. Data dapat dilihat kembali dan dikomunikasikan pada orang yang tepat.&lt;br /&gt;2. Standar II : Diagnosis keperawatan berasal dari data status kesehatan.&lt;br /&gt;3. Standar III : Rencana asuhan keperawatan mencakup tujuan yang berasal dari diagnosis keperawatan&lt;br /&gt;4. Standar IV : Rencana asuhan keperawatan menentukan tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;5. Standar V : Rencana untuk asuhan keperawatan tersebut diimplementasikan.&lt;br /&gt;6. Standar VI : Rencana untuk asuhan keperawatan tersebut dievaluasi.&lt;br /&gt;7. Standar VII : Pengkajian ulang pasien, pertimbangan ulang diagnosis keperawatan, menyusun kembali tujuan, dan modifikasi dan implementasi rencana asuhan keperawatan adalah sebuah proses yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEGAL ASPEK PEMBEDAHAN&lt;br /&gt;Di abad ini kita dihadapkan kepada berbagai tantangan dan masalah-masalah baru dalam berbagai bidang. Bidang yang dahulunya tidak menjadi persoalan, kini mulai mendesak menuntut pengaturannya oleh hukum, karena melalui sanksi etik dirasakan kurang kuat. Yang dimaksudkan di sini adalah bidang hukum kedokteran-keperawatan yang di negara kita masih sangat muda usianya.&lt;br /&gt;Kemajuan yang pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran-keperawatan telah menggoyahkan fondasi tradisional dari hubungan dokter-perawat-pasien-rumah sakit sehingga diperlukan aspek legalitas dalam pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;Informed Consent atau Persetujuan Tindakan Medis (PTM) merupakan ijin tertulis yang dibuat secara sadar dan sukarela dari pasien sebelum dilakukan tindakan medis terhadapnya. Ijin tersebut melindungi klien terhadap kelalaian dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga hukum.&lt;br /&gt;Tanggung jawab perawat dalam hal ini adalah untuk memastikan bahwa PTM telah didapat secara sukarela dari klien oleh dokter. The right of information and second opinion merupakan salah satu bentuk HAM klien dalam bidang pelayanan kesehatan yang harus dihargai oleh tim kesehatan. Sehingga, sebelum menyatakan kesanggupan atau penolakannya, klien harus mendapatkan informasi sejelas-jelasnya dan alternatif-alternatif yang dapat diambila oleh klien. Informasi yang perlu dijelaskan antara lain : kemungkinan resiko, komplikasi, perubahan bentuk tubuh, kecacatan, dan pengangkatan bagian tubuh yang dapat terjadi selama operasi.&lt;br /&gt;PTM diperlukan pada saat :&lt;br /&gt;-         prosedur invasif&lt;br /&gt;-         menggunakan anesthesia&lt;br /&gt;-         prosedur non-bedah yang resikonya lebih dari sekedar resiko ringan (arteriogram)&lt;br /&gt;-         terapi radiasi dan kobalt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat memberikan PTM :&lt;br /&gt;1.       klien yang sudah cukup umur&lt;br /&gt;2.      anggota keluarga yang bertanggung jawab atau wali sah apabila klien belum cukup umur, tidak sadar, atau tidak kompeten&lt;br /&gt;3.      individu di bawah umur dengan kondisi khusus (menikah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITERIA UNTUK PTM YANG SAH&lt;br /&gt;1. Persetujuan diberikan dengan sukarela : persetujuan yang absah harus diberikan dengan bebas tanpa tekanan&lt;br /&gt;2. Subjek tidak kompeten : definisi legal, individu yang tidak otonom dan tidak dapat membrikan atau menyimpan persetujuan (klien RM, koma)&lt;br /&gt;3. Subjek yang di-informed : formulir consent harus tertulis meskipun hukum tidak membutuhkan dokumentasi tertulis (prosedur dan resiko, manfaat dan alternatif, dll)&lt;br /&gt;4. Subjek mampu memahami : informasi harus tertulis dan diberikan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh klien. Pertanyaan harus dijawab untuk memfasilitasi pemahaman jika materinya membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPE PEMBEDAHAN&lt;br /&gt;Menurut Fungsinya (tujuannya)&lt;br /&gt;1.       diagnostik                                    : biopsi, laparotomi eksplorasi&lt;br /&gt;2.      kuratif (ablatif)                                     : tumor, appendiktomi&lt;br /&gt;3.      reparatif                                      : memperbaiki luka multiple&lt;br /&gt;4.      rekonstruktif atau kosmetik    : mammoplasti, perbaikan wajah&lt;br /&gt;5.      paliatif                                         : menghilangkan nyeri, memperbaiki masalah     (gastrostomi — ketidakmampuan menelan)&lt;br /&gt;6.      transplantasi                               : penanaman organ tubuh untuk menggantikan organ atau struktur tubuh yang malfungsi (cangkok ginjal, kornea).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tingkat Urgensinya :&lt;br /&gt;1.       Kedaruratan&lt;br /&gt;Klien membutuhkan perhatian dengan segera, gangguan yang diakibatkannya diperkirakan dapat mengancam jiwa (kematian atau kecacatan fisik), tidak dapat ditunda.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;-         perdarahan hebat&lt;br /&gt;-         luka tembak atau tusuk&lt;br /&gt;-         luka bakar luas&lt;br /&gt;-         obstruksi kandung kemih atau usus&lt;br /&gt;-         fraktur tulang tengkorak&lt;br /&gt;2.      Urgen&lt;br /&gt;Klien membutuhkan perhatian segera, dilaksanakan dalam 24 – 30 jam.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;-         infeksi kandung kemih akut&lt;br /&gt;-         batu ginjal atau batu pada uretra&lt;br /&gt;3.      Diperlukan&lt;br /&gt;Klien harus menjalani pembedahan, direncanakan dalam beberapa minggu atau bulan.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;-         katarak&lt;br /&gt;-         gangguan tiroid&lt;br /&gt;-         hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih&lt;br /&gt;4.      Elektif&lt;br /&gt;Klien harus dioperasi ketika diperlukan, tidak terlalu membahayakan jika tidak dilakukan.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;-         hernia simpel&lt;br /&gt;-         perbaikan vagina&lt;br /&gt;-         perbaikan skar/cikatrik/jaringan parut&lt;br /&gt;5.      Pilihan&lt;br /&gt;Keputusan operasi atau tidaknya tergantung kepada klien (pilihan pribadi klien).&lt;br /&gt;Contoh : bedah kosmetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Luas atau Tingkat Resiko :&lt;br /&gt;1.       Mayor&lt;br /&gt;Operasi yang melibatkan organ tubuh secara luas dan mempunyai tingkat resiko yang tinggi terhadap kelangsungan hidup klien.&lt;br /&gt;Contoh : bypass arteri koroner&lt;br /&gt;2.      Minor&lt;br /&gt;Operasi pada sebagian kecil dari tubuh yang mempunyai resiko komplikasi lebih kecil dibandingkan dengan operasi mayor.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;-         katarak&lt;br /&gt;-         operasi plastik pada wajah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-6060809820448812923?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/6060809820448812923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=6060809820448812923' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6060809820448812923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6060809820448812923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/konsep-dasar-operasi.html' title='Konsep Dasar Operasi'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-4238354995384883124</id><published>2009-01-23T21:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:13:42.073-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Gastrointestinal'/><title type='text'>Askep Peritonitis</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM&lt;br /&gt;Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum, di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati, kurvaturan minor, dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Fungsi peritoneum :1. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN PERITONITIS&lt;br /&gt;Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan strangulasi kolon asendens. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas, saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi, insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis, divetikulitis, kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum, pancreas perforasi kolon, kontaminasi peritoneal, syok perioperatif, dan transfuse yang pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. ETIOLOGI&lt;br /&gt;Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TANDA DAN GEJALA KLINIS&lt;br /&gt;Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi, infeksi, iskemia, trauma atau perforasi tumor. Terjadinya proliferasi bacterial, terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein, sel darah putih, debris seluler dan darah. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas, diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK&lt;br /&gt;Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. PENATALAKSANAANPenggantian cairan, koloid dan elektroli adalah focus utama. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic, terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal, terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah, tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. Prolaps visera, tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus, terdaat darah dalam lambung, buli-buli dan rectum, adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Bila tidak ada, pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah, menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Bagaimanapun, aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi.2. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV), memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh, aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum, bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub, atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh.3. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase pascaoperatif langsung, focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Kapan berkaitan dan memungkinkan, proses keperawatan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi diuraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. DIAGNOSA YANG MUNCUL&lt;br /&gt;1. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan.5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN KASUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukup- Pasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusing- Gangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu &gt;37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasi- Auskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&amp;amp;kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan- Jaringan edema &amp;amp; adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi &amp;amp; meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminya- Pasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar &amp;amp; harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan &amp;amp; efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi- Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang, tergantung lama perawatan- Mencegah kelemahan, meningkatkan perasaan sehat- Menghindari peningkatan intraabdomen &amp;amp; tegangan otot- Menurunkan resiko kontaminasi- Pengenalan dini &amp;amp; pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.DAFTAR PUSTAKABrunner &amp;amp; Suddart. 2002.Keperawatan Medikal Bedah 5, ECG; JakartaSilvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ECG ; JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis, pedih dan sulit diobati. www. Majalah-farmacia.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian, penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-4238354995384883124?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/4238354995384883124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=4238354995384883124' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/4238354995384883124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/4238354995384883124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/askep-peritonitis.html' title='Askep Peritonitis'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-2807000533474601436</id><published>2009-01-23T21:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:10:56.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep'/><title type='text'>TEORI DAN MODEL KONSEPTUAL DALAM KEPERAWATANTEORI DAN KONSEPTUAL DALAM KEPERAWATAN</title><content type='html'>1. VIRGINIA HENDERSON, 1978Keperawatan adalah suatu fungsi yang unik dari perawat untuk menolong klien yang sakit atau sehat dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan meningkatkan kemampuan, kekuatan, pengetahuan dan kemandirian pasien secara rasional, sehingga pasien dapat sembuh atau meninggal dengan tenang.Definisi ini merupakan awal terpisahnya ilmu keperawatan dan medik dasar. Dari definisi tersebut adalah asumsi tentang individu yaitu :o Individu perlu untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis dan emosional.o Individu memerlukan bantuan untuk memperoleh kesehatan dan kemandirian atau meninggal dengan damai.o Individu membutuhkan kekuatan yang diperlukan , keinginan atau pengetahuan untuk mencapai atau mempertahankan kesehatan.Henderson berpendapat peranan perawat membantu individu sehat sakit dengan suatu cara penambah atau pelengkap (supplementary atau emplementary). Perawat sebagai partner penolong pasien dan kalau perlu sebagai pengganti bagi pasien.Focus perawat adalah menolong pasien dan keluarga untuk memperoleh kebebasan dalam hal memenuhi 14 kebutuhan dasar yaitu :  Bernapas normal Makan dan minum adekuat Eliminasi sampah tubuh Bergerak dan mempertahankan posisi yang diinginkan Tidur dan istirahat Memilih baju yang cocok Mempertahankan temperature tubuh dalam rentang normal dengan mengatur pakaian dan memodifikasi lingkungan. Menjaga tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DOROTHEA OREM 1978&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperawatan adalah sebuah pertolongan atas pelayanan yang diberikan untuk menolong orang secara keseluruhan ketika mereka atau orang yang bertanggung jawab atas perawatan mereka tidak mampu memberikan perawatan kepada mereka.Keperawatan merupakan salah satu daya atau usaha manusia untuk membantu manusia lain dengan melakukan atau memberikan pelayanan yang professional dan tindakan untuk membawa manusia pada situasi yang saling menyayangi antara manusia dengan bentuk pelayanan yang berfokus kepada manusia seutuhnya yang tidak terlepas dari lingkungannya.Menurut OREM asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang memperlajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini dikenal dengan TEORI SELF CARE (Perawatan Diri )Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka. Orem mengklasifikasikan self care dalam 3 syarat :o Syarat universal : fisiologi dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas dan istirahat, sosial, pencegahan bahaya.o Syarat pengembangan : untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.o Penyimpangan kesehatan berhubungan dengan kerusakan atau penyimpangan cara, struktur norma dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care.Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan pasien dan kemampuan pasien. Oleh karena itu ada tiga tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri.o Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan pasien yang tinggi ( system pengganti keseluruhan ).o Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan ( system pengganti sebagian )o Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat ( system dukungan/pendidikan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. IMOGENE KING 1971&lt;br /&gt;Keperawatan adalah suatu profesi yang memberikan bantuan pada individu dan kelompok untuk mencapai, memelihara dan mempertahankan derajat kesehatan dengan memperhatikan, memikirkan, menghubungkan, menentukan dan melakukan tindakan perawatan sehingga individu atau kelompok berprilaku yang sesuai dengan kondisi keperawatan.Keperawatan berhubungan langsung dengan lingkungan, tempat atau ruang dan waktu untuk membentuk suatu hubungan menanggulangi status kesehatan dalam proses interpersonal reaksi interaksi dan transaksi dimana perawat dank lien berbagi informasi mengenai persepsinya dalam keperawatan.Kerangka ini dikenal dengan system kerangka terbuka. Asumsi yang mendasari kerangka ini adalah :o Asuhan keperawatan berfokus pada manusia termasuk berbagai hal yang mempengaruhi kesehatan seseorango Tujuan asuhan keperawatan adalah kesehatan bagi individu, kelompok dan masyarakat.o Manusia selalu berinteraksi secara konstan terhadap lingkungan dalam kerangka konsep ini. Tiga system yang saling berinteraksi :  Keperibadian ( personal system ) setiap individu mempunyai system kepribadian tertentu. System interpersonal terbentuk karena hasil interaksi manusia, dapat berbentuk interaksi, komunikasi, perjanjian, stress dan peran. System sosial meliputi keluarga, kelompok, keagamaan, system pendidikan, system pekerjaan dan kelompok sebaya.Menurut King, tujuan pemberian asuhan keperawatan dapat dicapai jika perawat dan pasien saling bekerja sama dalam mengidentifikasi masalah serta menetapkan tujuan bersama yang hendak dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. BETTY NEWMAN, 1989&lt;br /&gt;Keperawatan adalah suatu profesi yang unik dengan memperhatikan seluruh factor-faktor yang mempengaruhi respon individu terhadap penyebab stress, tekanan intra, inter dan ekstra personal.Perawatan berfokus kepada mencegah serangan stress dalam melindungi klien untuk mendapatkan atau meningkatkan derajat kesehatan yang paling baik.Perawatan menolong pasien untuk menempatkan primary, secondary dan tertiary. Metode pencegahan untuk mencegah stress yang disebabkan factor lingkungan dan meningkatkan system pertahanan pasien.Menurut Newman, asuhan keperawatan dilakukan untuk mencegah atau mengurangi reaksi tubuh akibat adanya stressor. Peran ini disebut pencegahan penyakit yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tertier. Primer = meliputi tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi adanya stressor, mencegah terjadinya reaksi tubuh karena adanya stressor. Sekunder = tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit atau reaksi tubuh lainnya karena adanya stressor. Tersier = meliputi pengobatan rutin dan teratur serta pencegahan kerusakan lebih lanjut atau komplikasi dari suatu penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. CALISTA ROY 1976&lt;br /&gt;Keperawatan adalah sebagai ilmu pengetahuan melalui proses analisa dan tindakan yang berhubungan untuk merawat klien yang sakit atau yang kurang sehat.Sebagai ilmu pengetahuan keperawatan Metode yang digunakan adalah terapeutik, scientik dan knowledge dalam memberikan pelayanan yang esensial untuk meningkatkan dan mempengaruhi derajat kesehatan.Roy menggambarkan metode adaptasi dalam keperawatan : o Individu adalah makhluk biospikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Seseorang dikatakan sehat jika mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis dan sosial.o Setiap orang selalu menggunakan koping baik yang bersifat positif maupun yang negatif untuk dapat beradaptasi. Kemampuan beradaptasi seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu : Penyebab utama terjadi perubahan Factor kondisi dan situasi yang berbeda Keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi.o Setiap individu berespon terhadap kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan konsep diri yang positif, kemampuan untuk hidup mandiri/kemandirian, serta kebutuhan akan kemampuan melalui peran dan fungsi secara optimal untuk memelihara integritas diri.o Posisi individu pada rentang sehat sakit terus berubah, berhubungan erat dengan keefektifan koping yang dilakukan untuk memelihara kemampuan beradaptasi.o Roy berpendapat ada 2 metode koping yaitu : Regulator = memproses input secar sistematis melalui jalur saraf, kimia dan endokrin Cagnator = memproses input melalui cara kognitif seperti persepsi, proses informasi, belajar, keputusan dan emosi.o Individu adalah makhluk biopsikososial sebagai satu kesatuan yang utuh yang meiliki mekanisme koping untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Individu selalu berinteraksi secara konstan atau selalu beradaptif terhadap perubahan lingkungan.o Lingkungan adalah semua yang ada disekeliling kita dan berpengaruh terhadap perkembangan manusia.o Sehat adalah suatu keadaan proses dalam menjaga integritas dirio Peran perawat adalah membantu pasien beradaptasi terhadap perubahan yang ada.Menurut Roy, tindakan keperawatan ditujukan untuk meningkatkan adaptasi individu terhadap sehat dan penyakit. Keempat model adaptasi itu adalah :o Model fisiologi : cairan dan elektrolit, sirkulasi dan oksigenasi, nutrisi dan eliminasi, proteksi, neurology dan endokrin.o Model konsep diri : gambaran diri, ideal diri, moral diri.o Model fungsi peran : kebutuhan akan integritaso Model interdependen (kemandirian ) : hubungan seseorang dengan yang lain dan sumber system yang memberikan bantuan, kasih sayang dan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. MARTHA ROGERS, 1970.&lt;br /&gt;Keperawatan adalah pengetahuan yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan , pencegahan penyakit, perawatan rehabilitasi penderita sakit serta penyandang cacat.Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia. Menurutnya kehidupan seseorang dipengaruhi alam sebagai lingkungan hidup manusia dan pola pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Asumsi dasar teori rogers tentang manusia adalah :o Manusia adalah kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.o Kehidupan setiap manusia adalah sesuatu yang unik . tidak ada dua hal didalam kehidupan ini yang dapat diulang dengan cara yang sama dibawah keadaan yang sama . jalan hidup seseorang berbeda dengan yang lain.o Perkembangan manusia dapat dinilai dari tingkah lakunya.o Manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri misalnya dalam hal sifat dan emosi.Rogers menggambarkan individu dan lingkungan sebagai medan energi, terbuka, berpola dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. ABDELLAH FAYE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperawatan adalah seni ilmu dalam memberikan pelayanan kepada individu, keluarga dan masyarakat. Untuk membentuk sikap dalam meningkatkan kemampuandan keterampilan setiap individu perawat untuk mencapai tujuan membantu manusia yang sakit maupun sehat, menanggulangi atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan kesehatannya, baik dasar maupun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. PEPLAU&lt;br /&gt;Keperawatan adalah suatu hasil proses kerja sama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat (hubungan antar manusia)Pendidikan atau pematangan tujuan yang dimaksud untuk meningkatkan gerakan yang progresif dan kepribadian seseorang dalam berkreasi, membangun, menghasilkan pribadi dan cara hidup bermasyarakat.Hubungan interpersonal yang merupakan factor utama model keperawatan menurut Peplau mempunyai asumsi terhadap 4 konsep utama yaitu :o Manusia = individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan caranya sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Tiap individu merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal.o Masyarakat/lingkungan = budaya dan adapt istiadat merupakan factor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi kehidupan.o Kesehatan = didefinisikan sebagai perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang berkesinambungan kea rah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.o Keperawatan = dipandang sebagai proses interpersonal yang bermakna. Proses interpersonal merupakan materina force dan alat edukatif yang baik bagi perawat maupun klien. Pengetahuan diri dalam konteks interaksi interpersonal merupakan hal yang penting untuk memahami klien dan mencapai resolusi masalah.Suatu model dapat diuraikan secara rinci kebutuhan utama/primer ;o Tujuan asuhan keperawatan Kepribadian yang berkembang melalui hubungan interpersonal mendidik dalam pemenuhan kebutuhan klien.o KlienSystem dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman.o Peran nurseNurse berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai orang asing, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.o Sumber kesulitanAnsietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologik dan biologic individu.o Focus intervensiAnsietas yang disebabkan oleh hubungan interpersonal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian . 4 komponen sentral yaitu proses interpersonal, perawat, pasien dan ansietas.o Cara intervensiProses interpersonal terdiri dari 4 fase yaitu :  Fase orientasiLebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif falam pemberian askep pada klien. Fase identifikasiTerjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku pasien dan memberikan askep yang tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasi kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dan kepribadian pasien. Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa : Pasrtisipan mandiri dalam hubungannya dengan perawat Individu mandiri terpisah dari perawat Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat. Fase eksplorasiMemungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal. Fase resolusiSecara bertahap pasien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kea rah realisasi potensi.Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing pasien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang saling tergantung dalam lingkungan sosial.Perawat mempunyai 6 peran sebagai berikut : Orang asing ( stranger ) berbagi rasa hormat dan minat yang positif pada pasien. Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru. Nara sumber ( resources person ) memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area permasalahan yang memerlukan bantuan. Pendidik ( teacher ) merupakan kombinasi dari semua peran yang lain Kepemimpinan ( leadership ) mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan Perngasuh pengganti ( surrogate ) membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. Konselor ( consellor ) meninhgkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. FLORENCE NIGHTINGALE 1895&lt;br /&gt;Keperawatan adalah suatu proses menempatkan pasien dalam kondisi paling baik untuk beraktivitas yaitu lingkungan yang sehat dan udara yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. LEVINE&lt;br /&gt;Keperawatan adalah bagian budaya yang direfleksikan dengan ide-ide dan nilai-nilai , dimana perawat memandang manusia itu sama, merupakan suatu rangkaian disiplin dalam menguasai organisasi atau kumpulan yang dimiliki individu dalam menjalin hubungan manusia sekitarnya.Intisari dari keperawatan adalah manusia. Asumsinya bahwa definisi teori tersebut adalah sebagai berikut :o KondisiKlien memasuki system pelayanan kesehatan dalam bagian penyakit atau perubahan kesehatan.o Responsibilitas tanggung jawabPerawat bertanggung jawab dalam mengenal respon (perubahan tingkah laku atau tingkat fungsi tubuh ) sebagai adaptasi klien atau usaha untuk beradaptasi terhadap lingkungan. 4 respon antara lain : Rasa takut Stress Inflamasi Sensorio FungsiFungsi perawat memasukkan intervensi untuk meningkatkan adaptasi terhadap penyakit dan evaluasi intervensi sebagai support (dorongan) atau terapeutik koping. Intervensi membantu mempertahankan status kesehatan dan mencegah penyakit lebih lanjut. Intervensi terapeutik meningkatkan penyembuhan dan pemulihan kesehatan.4 prinsip perlindungan yang mendorong tujuan perawatan untuk mempertahankan atau memulihkan seseorang ke status kesehatan : Perlindungan terhadap energiKeseimbangan intake dan output energi untuk mencegah kelelahan  Perlindungan terhadap integritas strukturaMempertahankan atau pemulihan struktur tubuh (penyembuhan ) Perlindungan terhadap integritas personalMempertahankan atau pemulihan rasa identitas dan harga diri (mengenali kualitas diri) Perlindungan terhadap integritas sosialMemperkenalkan klien sebagai suatu makhluk sosial khususnya dengan orang lain.Teori Levine berfokus pada satu orang klien, teori ini mempunyai implikasi utama dalam pengaturan perawatan akut, dimana intervensi dapat bersifat mendorong atau terapeutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. JEAN ORLANDO 1961&lt;br /&gt;Keperawatan berlandaskan teori hubungan interpersonal yang menitikberatkan pada sifat unik individu atau klien dalam ekspresi verbal yang mengisyaratkan adanya kebutuhan dan cara-cara memenuhi kebutuhan.Teori Jean Orlando mengandung konsep kerangka kerja untuk perawat professional yang mengandung 3 elemen yaitu : perilaku klien, reaksi dan tindakan keperawatan , mengubah situasi perawat setelah perawat memperkirakan kebutuhan klien , perawat mengetahui penyebab yang mempengaruhi derajat kesehatan , lalu bertindak secara spontan atau berkolaborasi untuk memberikan pelayanan kesehatan.12. JEAN WATSON 1979Keperawatan adalah filsafat dalam usaha merawat untuk memberi definisi hasil tindakan keperawatan dengan memperhatikan aspek humanistic dalam kehidupan.Tindakan keperawatan diarahkan pada pemeliharaan hubungan timbal balik dalam kesehatan. Sakit dan perilaku. Perawat berkonsentrasi pada peningkatan kesehatan mempertahankan suatu kesehatan dalam pencegahan penyakit.Model Jean Watson ini bentuk proses perawatannya menolong klien untuk mencapai atau memelihara kesehatan atau mati dengan tenang. Tindakan berhubungan dengan proses perawatan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan adalah utama dalam memberikan tindakan perawatan megenai perilaku manusia dan respon menusia untuk menentukan masalah yang nyata atau potensial kebutuhan klien.NILAI DAN KEYAKINAN NILAIo Perawatan mempunyai faktor yang uniko Perawatan adalah pelayanan yang diberikan secara langsung terhadap orang sakit atau sehat, kelompok, keluarga dan masyarakato Perawatan menggunakan proses untuk melakukan rencana perawatano Perawatan meliputi hubungan interpersonal yang berkelanjutan, hubungan perawat dan klien merupakan hubungan yang sangat penting. KEYAKINANo Persyaratan dasar pikiran atau anggapan terhadap konsep mengenai keperawatano Setiap keyakinan model keperawatan merupakan inti dari keperawatano Keyakinan ditransfer dari teori scientik atau praktek dan salah satu hasil dari penelitian.o Keyakinan sebagian besar adalah satu model dengan model yang lainnya. Contoh : keyakinan mengenai manusia atau klien sangat berbeda. Henderson melihat klien mempunyai kebutuhan dasar sedangkan Roy menjadikan 4 model penyesuaian. TUJUANo Meningkatkan kemampuan klien untuk berperan aktif dalam mencapai kesehatan yang optimalo Membantu klien dalam perawatan untuk menuju kesehatan yang optimal atau meninggal dengan tenang.o Menolong klien untuk mendapatkan primary, secondary dan tertiary prevention&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-2807000533474601436?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/2807000533474601436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=2807000533474601436' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/2807000533474601436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/2807000533474601436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/teori-dan-model-konseptual-dalam.html' title='TEORI DAN MODEL KONSEPTUAL DALAM KEPERAWATANTEORI DAN KONSEPTUAL DALAM KEPERAWATAN'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-3090619303860761922</id><published>2009-01-23T21:05:00.001-08:00</published><updated>2009-01-23T21:05:48.117-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Urinaria'/><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN DENGAN UROLITHIASIS</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN DENGAN UROLITHIASIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI&lt;br /&gt;Urolithiasis adalah suatu kedaruratan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanging wanita dengan perbandingan 3:1 dalam usia 30-60 tahun. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah.Vesikolithiasis (batu kandung kemih) adalah terdapatnya batu di kandung kemih.Vesikolithiasis mengacu pada adanya batu/kalkuli dalam vesika urinaria. Batu dibentuk dalam saluran perkemihan (vesika urinaria) ketika kepekatan urine terhadap substansi, yaitu kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat mengalami peningkatan.Batu perkemihan (urolithiasis) dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tapi yang paling sering ditemukan di dalam ginjal (nephrollihiasis). Kira-kira satu pertiga dari individu yang menderita pada saluran kemih atas akan mengalami pengangkatan ginjal yang dijangkiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori pembentukan batu:1). Teori inti (nukleus): kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.2) Teori matrikMatrik organik yang berasal dari serum atau protein-protein urin memberikan kemungkinan pengendapan kristal.3) Teori inhibitor kristalisasi: Beberapa substansi dalam urin menghambat terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang atau absennya ini memungkinkan terjadinya kristalisasi.Hampir dari setengahnya kasus batu pada perkemihan adalah idiopatik. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap kalkuligenesis atau proses pembentukan batu si dalam vesika urinaria, antara lain:­ Gangguan aliran air kemih/obstruksi dan statis urin­ Gangguan metabolisme­ Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease( Proteus Mirabilis). Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal atau saluran kemih lain (vesika urinaria) dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kemih.­ Benda asing­ Jaringan mati ( nekrosis papil)­ Jenis kelaminData menunjukkan bahwa batu saluran kemih lebih banyak ditemukan pada pria.­ KeturunanTernyata anggota keluarga dengan batu saluran kemih lebih banyak mempunyai kesempatan untuk menderita batu saluran kemih daripada yang lain.­ Air minumMemperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan bila kurang air minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu. Kejenuhan air sesuai dengan kadar mineralnya terutama kalsium diperkirakan mempengaruhi terbentuknya batu saluran kencing.­ PekerjaanPekerja-pekerja keras yang banyak bergerak seperti buruh dan petani akan mengurangi kemungkinan terjadinya batu saluran kemih bila dibandingkan dengan pekerja yang banyak duduk.­ MakananMasyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas batu saluran kencing berkurang, sedangkan pada masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah lebih sering terjadi. Penduduk vegetarian yang kurang makan putih telur sering menderita batu saluran kemih (vesika urinaria dab uretra).­ SuhuTempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi urin dan mempermudah pembentukan batu saluran kemih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin terjadi hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefrosis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya.Proses patofisiologisnya sifatnya mekanis. Urolithiasis merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, jaringan yang tidak vital, tumor atau urat. Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat intake cairan rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat ISK atau urin statis, mensajikan sarang untuk pembentukan batu. Di tambah adanya infeksi meningkatkan ke basahan urin (oleh produksi amonium), yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium amonium fosfat.Komposisi kalkulus Renalis dan faktor-faktor yang mendorong adalah:NoKomposisi/macam batuFaktor-faktor pendukung/penyebab1Calcium (oksalat dan fosfat)HiperkalsemiaHiperkasiuriDampak dari HiperparatiroidismeIntoksikasi Vitamin DPenyakit Tulang yang parahAsidosis Tubulus RenalisIntake steroid purinePh urin tinggi dan volume urine rendah2Asam urin (Gout)Diet tinggi purine dan ph urin rendahVolume urin rendah3Cystine dan xanthineCystinuria dampak dari gangguan genetika dari metabolisme asam amino dan xanthineuriaMekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran kemih tidak diketahui secara pasti, akan tetapi beberapa buku menyebutkan proses terjadinya batu dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :a. Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, dimana apabila air seni jenuh akan terjadi pengendapan.b. Adanya inti ( nidus ). Misalnya ada infeksi kemudian terjadi tukak, dimana tukak ini menjadi inti pembentukan batu, sebagai tempat menempelnya partikel-partikel batu pada inti tersebut.c. Perubahan pH atau adanya koloid lain di dalam air seni akan menetralkan muatan dan meyebabkan terjadinya pengendapan.Kecepatan tumbuhnya batu tergantung kepada lokasi batu, misalnya batu pada buli-buli lebih cepat tumbuhnya disbanding dengan batu pada ginjal. Selain itu juga tergantung dari reaksi air seni, yaitu batu asam akan cepat tumbuhnya dalam urin dengan pH yang rendah. Komposisi urin juga akan mempermudah pertumbuhan batu, karena terdapat zat-zat penyusun air seni yang relatif tidak dapat larut. Hal lain yang akan mempercepat pertumbuhan batu adalah karena adanya infeksi.Batu ginjal dalam jumlah tertentu tumbuh melekat pada puncak papil dan tetap tinggal dalam kaliks, yang sampai ke pyelum yang kemudian dapat berpindah ke areal distal, tetap tinggal atau menetap di tempat dimana saja dan berkembang menjadi batu yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PATHWAY&lt;br /&gt;Penurunan intake cairanStatis urinInfeksi saluran kemihRenal/ginjalKonsentrasi larutan urinKristalisasi mineral dari matriks seputarObstruksi sal kemih prsial/totalBatu ginjal/urolithiasisUreter/ureterolithiasisVesikolithiasisauaretrolithiasisPerubahan pola eliminasi BAK Operasi terbukaResti infeksiPort de entrée mikroorganismeKurang informasiKurang pengetahuan ttg kondisi penyakitnyaGgn rasa nyaman: nyerihipotalamusMerangsang nociseptor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. KOMPLIKASIJika batu dibiarkan dapat menjadi sarang kuman yang dapat menimbulkan infeksi saluran kemih, pylonetritis, yang pada akhirnya merusak ginjal, kemudian timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya yang jauh lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. MANIFESTASI KLINIS&lt;br /&gt;a. Disamping adanya serangan sakit hebat yang timbul secara mendadak yang berlangsung sebentar dan kemudian hilang tiba-tiba untuk kemudian, timbul lagi, disertai nadi cepat, muka pucat, berkeringat dingin dan tekanan darah turun atau yang disebut kolik, dapat pula disertai rasa nyeri yang kabur berulang-ulang di daerah ginjal dan rasa panas atau terbakar di pinggang yang dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Hematuri dapat juga terjadi apabila terdapat luka pada saluran kemih akibat pergeseran batu.&lt;br /&gt;b. Bila terjadi hydronefrosis dapat diraba pembesaran ginjal. Urin yang keruh dan demam akan juga dialami penderita batu ginjal. Demam menandakan infeksi penyerta. Jika terjadi penyumbatan saluran kemih menyeluruh, suhu tubuh bisas mendadak tinggi berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Anuria akan terjadi jika ada batu bilateral atau jika hanya ada satu ginjal penderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PENGKAJIAN FOKUS1) Data SubjektifRasa nyeri (kolik renal) merupakan gejala utama pada episode akut dari calculus renal. Lokasi rasa nyeri tergantung kepada lokasi dari batu. Bila baru berada dalam piala ginjal, rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan, terutama timbul pada sudut costovertebral. Bila batu berjalan di sepanjang ureter rasa nyeri menjadi menghebat dan sifatnya intermiten. Disebabkan oleh spasme ureter akibat tekanan batu. Rasa nyeri menyelusuri jalur anterior dari ureter turun ke daerah supra pubis dan menjalar ke eksternal genetalia. Seringkali batu diam-diam dan tidak menimbulkan gejala-gejala selama beberapa tahun, dan ini sungguh-sungguh terjadi pada batu ginjal yang sangat besar. Batu yang sangat kecil dan halus bisa berlalu tanpa disadari oleh orangnya. Mual dan muntah sering menyertai kolik renal.2) Data ObjektifUrin dipantau tentang terdapatnya darah. Gross hematuria/perdarahan segar bisa tejadi bila batu pinggir-pinggirnya runcing dan juga bisa terjadi mikrohematuri. Bila diduga terdapat batu, semua urin bisa disaring untuk menentukan terdapatnya batu yang bisa keluar waktu berkemih. Pola berkemih di catat, karena berkemih sering tapi sedikit-sedikit sekali. Asiditas atau kalkalisan urin diperiksa dengan kertas PH/kertas lakmus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI&lt;br /&gt;1. Gangguan rasa nyaman: adanya rasa nyeri yang berlebihan pada daerah pinggang b.d adanya batu pada daerah yang sempit pada ureter atau pada ginjal.Data penunjang:­ Letih yang berlebihan­ Lemas, mual, muntah, keringat dingin­ Pasien gelisahTujuan:Rasa sakit dapat diatasi/hilang.Kriteria:· Kolik berkurang/hilang· Pasien tidak mengeluh sakit· Pasien dapat beristirahat dengan tenang.Rencana Tindakan­ Kaji intensitas, lokasi dan area serta penjalaran dari rasa sakit­ Observasi adanya abdominal pain­ Jelaskan kepada pasien penyebab dari rasa sakit­ Anjurkan pasien banyak minum­ Berikan posisi serta lingkungan yang nyaman­ Ajarkan tehnik relaksasi, teknik distorsi serta guide imagine untuk menghilangkan rasa sakit tanpa obat-obatan.­ Kerjasama dengan tim kesehatan:· Pemberian obat-obatan narkotika· Pemberian anti spasmotika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perubaha pola eliminasi b.d adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra.Data Penunjang:· Urine out put &lt;&gt; 120 x permenit· Pernapasan &gt; 28 x permenit· Pengisian kapiler &gt; 3 detikTujuan:Gangguan perfusi dapat diatasiKriteria:· Produksi urine 30-50 cc perjam· Perifer hangat· Tanda-tanda vital dalam batas normal· Pengisian kapiler &lt; 3 detikRencana Tindakan- Observasi tanda-tanda vital- Observasi produksi urine setiap jam- Observasi perubahan tingkat kesadaran- Kerjasama dengan tim kesehatan:- Pemeriksaan laboratorium: kadae ureum/kreatinin, Hb, Urine HCT3. Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya b.d kurang informasi Data penunjang:Pasien menyatakan belum memahami tentang penyakitnyaPasien kurang kooperatif dalam program pengobatanTujuan :Pengetahuan pasien tentang penyakitnya meningkatKriteria :· Pasien memahami tentang proses penyakitnya· Diskusikan tentang proses penyakitnyaRencana Tindakan :- Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga- Beri kesempatan pasien/keluarga untuk mengekspresikan perasaannya- Diskusikan pentingnya pemasukan cairan- Anjurkan pasien minum air putih 6-8 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi- Batasi aktifitas fisik yang berat- Diskusikan pentingnya diet rendah kalsium- Kerjasama dengan tim kesehatan:­ Diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat­ Pemberian ammonium chlorida dan mandelamine4. Resti infeksi berhubungan dengan port de entrée mikroorganisme melalui luka operasi.Tujuan :Tidak terjadi infeksiKriteria hasil : ­ Meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari drainase purulen/eritema, dan tidak demam­ Menyatakan pemahaman penyebab faktor resiko­ Menunjukkan teknik, perubahan pola hidup untuk menurunkan resikoIntervensi:- Catat karakteristik urine, dan perhatikan apakah perubahan berhubungan dengan keluhan nyeri pinggul.- Tes pH urine dengan kertas Nitrazin- Laporkan penghentian aliran urin tiba-tiba.- Observasi dan catat drainase luka, tanda inflamasi insisi, indikator sistemik sepsis.- Ganti balutan sesuai indikasi, bila memakai.- Kaji area lipatan kulit di paha, perineum- Awasi tanda vital&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-3090619303860761922?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/3090619303860761922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=3090619303860761922' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/3090619303860761922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/3090619303860761922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN DENGAN UROLITHIASIS'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-2892112345566245039</id><published>2009-01-23T21:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:03:16.222-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Reproduksi'/><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAHBENIGNA HIPERTROPI PROSTAT</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAHBENIGNA HIPERTROPI PROSTAT (BPH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI&lt;br /&gt;BPH adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter. Istilah Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya tidaklah tepat karena kelenjar prostat tidaklah membesar atau hipertropi prostat, tetapi kelenjar-kelenjar periuretralah yang mengalami hiperplasia(sel-selnya bertambah banyak.Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak menjadi gepeng dan disebut kapsul surgical. Maka dalam literatur di benigna hiperplasia of prostat gland atau adenoma prostat, tetapi hipertropi prostat sudah umum dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGIPenyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat pula dianggap undangan(counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi adalah karena tidak adanya keseimbangan endokrin.Namun menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 etiologi dari BPH adalah:o Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen.o Ketidakseimbangan endokrin.o Faktor umur / usia lanjut.o Unknown / tidak diketahui secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PATOLOGI ANATOMIKelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran rata-rata:- Panjang 3.4 cm- Lebar 4.4 cm- Tebal 2.6 cmSecara embriologis terdiro dari 5 lobur:- Lobus medius 1 buah- Lobus anterior 1 buah- Lobus posterior 1 buah- Lobus lateral 2 buahSelama perkembangannya lobus medius, lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi saru disebut lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Pada potongan melintang uretra pada posterior kelenjar prostat terdiri dari:- Kapsul anatomis- Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler- Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian:Ø Bagian luar disebut kelenjar sebenarnyaØ Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatus zoneØ Di sekitar uretra disebut periuretral glandSaluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang bermuara ke dalam uretra. Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur, sedangkan pada oran dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba.Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan keluar cairan seperti susu.Apabila jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu, padat dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah. Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari vesika yang dapat mengakibatkan peradangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PATOFISIOLOGIMenurut syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 adalah Umumnya gangguan ini terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal. Bagian paling dalam prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar. Pembesaran adenoma progresif menekan atau mendesak jaringan prostat yang normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah. Kapsula bedah ini menahan perluasannya dan adenoma cenderung tumbuh ke dalam menuju lumennya, yang membatasi pengeluaran urin. Akhirnya diperlukan peningkatan penekanan untuk mengosongkan kandung kemih. Serat-serat muskulus destrusor berespon hipertropi, yang menghasilkan trabekulasi di dalam kandung kemih.Pada beberapa kasus jika obsruksi keluar terlalu hebat, terjadi dekompensasi kandung kemih menjadi struktur yang flasid, berdilatasi dan sanggup berkontraksi secara efektif. Karena terdapat sisi urin, maka terdapat peningkatan infeksi dan batu kandung kemih. Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan hidronefrosis.Retensi progresif bagi air, natrium, dan urea dapat menimbulkan edema hebat. Edema ini berespon cepat dengan drainage kateter. Diuresis paska operasi dapat terjadi pada pasien dengan edema hebat dan hidronefrosis setelah dihilangkan obstruksinya. Pada awalnya air, elekrolit, urin dan beban solutlainya meningkatkan diuresis ini, akhirnya kehilangan cairan yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan serta menahan air dan natrium akibat kehilangan cairan dan elekrolit yang berlebihan bisa menyebabkan hipovelemia.Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius, terjadi perlahan-lahan. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PATHWAYObstruksi uretraPenumpukan urin dlm VUPembedahan/prostatektomiKompensasi otot destrusorSpasme otot spincterMerangsang nociseptorHipotalamusDekompensasi otot destrusorPotensi urinTek intravesikalRefluk urin ke ginjalTek ureter &amp;amp; ginjal meningkatGagal ginjalRetensi urinPort de entrée mikroorganismekateterisasiLuka insisiResiko disfungsi seksualNyeriResti infeksiResiko kekurangan vol cairanResiko perdarahan: resiko syok hipovolemikHilangnya fungsi tbhPerub pola eliminasiKurang informasi ttg penyakitnyaKurang pengetahuanHyperplasia periuretralUsia lanjutKetidakseimbangan endokrinBPH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. MANIFESTASI KLINISWalaupun Benigna Prostat Hipertropi selalu terjadi pada orang tua, tetapi tak selalu disertai gejala-gejala klinik, hal ini terjadi karena dua hal yaitu:1. Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih2. Retensi urin dalam kandung kemih menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi kandung kemih dan cystitis.Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna Prostat Hipertrofi:a. Retensi urinb. Kurangnya atau lemahnya pancaran kencingc. Miksi yang tidak puasd. Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari (nocturia)e. Pada malam hari miksi harus mengejanf. Terasa panas, nyeri atau sekitar waktu miksi (disuria)g. Massa pada abdomen bagian bawahh. Hematuriai. Urgency (dorongan yang mendesak dan mendadak untuk mengeluarkan urin)j. Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksik. Kolik renall. Berat badan turunm. AnemiaKadang-kadang tanpa sebab yang diketahui, pasien sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter. Karena urin selalu terisi dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan selaputnya merusak ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIKPada pasien Benigna Prostat Hipertropi umumnya dilakukan pemeriksaan:1. LaboratoriumMeliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin2. RadiologisIntravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).3. Prostatektomi Retro PubisPembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Prostatektomi ParinealYaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. KOMPLIKASIKomplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalaha. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, gagal ginjal.b. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksic. Hernia / hemoroidd. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batue. Hematuriaf. Sistitis dan Pielonefritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. FOKUS PENGKAJIANDari data yang telah dikumpulkan pada pasien dengan BPH : Post Prostatektomi dapat penulis kelompokkan menjadi:a) Data subyektif:- Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.- Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.- Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan- Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.b) Data Obyektif:- Terdapat luka insisi- Takikardi- Gelisah- Tekanan darah meningkat- Ekspresi w ajah ketakutan- Terpasang kateter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. DIAGNOSA KEPERAWATAN1. Gangguan rasa nyamam: nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter2. Perubahan pola eliminasi : retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder3. Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh4. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan port de entrée mikroorganisme melalui kateterisasi5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K. RENCANA KEPERAWATAN1. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan spasme otot spincterTujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.Kriteria hasil:- Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang - Pasien dapat beristirahat dengan tenang.Intervensi:a. Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.b. Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)c. Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawahd. Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)e. Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasif. Lakukan perawatan aseptik terapeutikg. Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat2. Perubahan pola eliminasi urine: retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder.Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 5-7 hari pasien tidak mengalami retensi urinKriteria: Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.Intervensi:a. Lakukan irigasi kateter secara berkala atau terus- menerus dengan teknik sterilb. Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dalam keadaan tertutupc. Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hematuria, dingin, kulit lembab, takikardi, dispnea)d. Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah atau jaringane. Monitor urine setiap jam (hari pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post operasi)f. Ukur intake output cairang. Beri tindakan asupan/pemasukan oral 2000-3000 ml/hari, jika tidak ada kontra indikasih. Berikan latihan perineal (kegel training) 15-20x/jam selama 2-3 minggu, anjurkan dan motivasi pasien untuk melakukannya.3. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan sumbatan saluran ejakulasi, hilangnya fungsi tubuhTujuan: Setelah dilakukan perawatn selama 1-3 hari pasien mampu mempertahankan fungsi seksualnyaKriteria hasil: Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi intaraksi seksual dan aktivitas secara optimal.Intervensi:a. Motivasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan perubahannyab. Jawablah setiap pertanyaan pasien dengan tepatc. Beri kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang efek prostatektomi dalam fungsi seksuald. Libatkan kelurga/istri dalam perawatan pmecahan masalah fungsi seksuale. Beri penjelasan penting tentang:i. Impoten terjadi pada prosedur radikalj. Adanya kemungkinan fungsi seksual kembali normalk. Adanya kemunduran ejakulasif. Anjurkan pasien untuk menghindari hubungan seksual selama 1 bulan (3-4 minggu) setelah operasi.Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan port de entrée ikroorganisme melalui kateterisasiTujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksiKriteria hasil:a. Tanda-tanda vital dalam batas normalb. Tidak ada bengkak, aritema, nyeric. Luka insisi semakin sembuh dengan baikIntervensi:a. Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril.b. Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran)c. Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainaged. Monitor balutan luka, gunakan pengikat bentuk T perineal untuk menjamin dressinge. Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin)3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannyaTujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1-2 hariKriteria : Secara verbal pasien mengerti dan mampu mengungkapkan dan mendemonstrasikan perawatanIntervensi:a. Motivasi pasien/ keluarga untuk mengungkapkan pernyataannya tentang penyakit, perawatb. Berikan pendidikan pada pasien/keluarga tentang:a. Perawatan luka, pemberian nutrisi, cairan irigasi, kateterb. Perawatan di rumahc. Adanya tanda-tanda hemoragi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-2892112345566245039?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/2892112345566245039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=2892112345566245039' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/2892112345566245039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/2892112345566245039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/asuhan-keperawatan-pasien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAHBENIGNA HIPERTROPI PROSTAT'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-7841570787469437240</id><published>2009-01-23T21:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:01:24.907-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kep. Anak'/><title type='text'>Askep Marasmus</title><content type='html'>PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).&lt;br /&gt;• Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).&lt;br /&gt;• Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).&lt;br /&gt;• Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).&lt;br /&gt;• Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.&lt;br /&gt;• Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :&lt;br /&gt;1. Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.&lt;br /&gt;2. Sebagai cadangan protein tubuh.&lt;br /&gt;3. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).&lt;br /&gt;4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.&lt;br /&gt;5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.&lt;br /&gt;Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;• Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).&lt;br /&gt;• Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua&lt;br /&gt;2. Lethargi&lt;br /&gt;3. Irritable&lt;br /&gt;4. Kulit keriput (turgor kulit jelek)&lt;br /&gt;5. Ubun-ubun cekung pada bayi&lt;br /&gt;6. Jaingan subkutan hilang&lt;br /&gt;7. Malaise&lt;br /&gt;8. Kelaparan&lt;br /&gt;9. Apatis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.&lt;br /&gt;2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.&lt;br /&gt;3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.&lt;br /&gt;4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan KKP berat&lt;br /&gt;Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi.&lt;br /&gt;Upaya pengobatan, meliputi :&lt;br /&gt;- Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.&lt;br /&gt;- Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik&lt;br /&gt;- Pengobatan infeksi&lt;br /&gt;- Pemberian makanan&lt;br /&gt;- Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arisman, 2004:105&lt;br /&gt;- Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.&lt;br /&gt;- Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.&lt;br /&gt;- Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.&lt;br /&gt;- Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.&lt;br /&gt;- Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuchsan Lubis&lt;br /&gt;Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :&lt;br /&gt;1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.&lt;br /&gt;- cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.&lt;br /&gt;- Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.&lt;br /&gt;- Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.&lt;br /&gt;- Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.&lt;br /&gt;2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan&lt;br /&gt;- Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.&lt;br /&gt;- Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.&lt;br /&gt;- Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;a. Mengukur TB dan BB&lt;br /&gt;b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)&lt;br /&gt;c. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.&lt;br /&gt;d. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOKUS INTERVENSI&lt;br /&gt;1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Pasien mendapat nutrisi yang adekuat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;meningkatkan masukan oral.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Dapatkan riwayat diet&lt;br /&gt;b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan&lt;br /&gt;c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan&lt;br /&gt;d. Gunakan alat makan yang dikenalnya&lt;br /&gt;e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka&lt;br /&gt;f. Sajikan makansedikit tapi sering&lt;br /&gt;g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Tidak terjadi dehidrasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi&lt;br /&gt;b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan&lt;br /&gt;c. Ukur haluaran urine dengan akurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Tidak terjadi gangguan integritas kulit&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal&lt;br /&gt;Intervesi :&lt;br /&gt;a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi&lt;br /&gt;b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi&lt;br /&gt;c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang&lt;br /&gt;d. Alih baring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan&lt;br /&gt;b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril&lt;br /&gt;c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi&lt;br /&gt;d. Beri antibiotik sesuai program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;pengetahuan pasien dan keluarga bertambah&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien&lt;br /&gt;b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi&lt;br /&gt;c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat&lt;br /&gt;d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.&lt;br /&gt;b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II&lt;br /&gt;c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan&lt;br /&gt;d. Berikan mainan sesuai usia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia&lt;br /&gt;b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Kelebihan volume cairan tidak terjadi.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan&lt;br /&gt;b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam&lt;br /&gt;c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-7841570787469437240?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/7841570787469437240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=7841570787469437240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7841570787469437240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7841570787469437240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/askep-marasmus.html' title='Askep Marasmus'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-6381346326130157401</id><published>2009-01-23T20:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:59:51.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Gastrointestinal'/><title type='text'>Askep Gastroenteritis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Gastroenteritis atau diare akut adalah kekerapan dan keenceran BAB dimana frekuensinya lebih dari 3 kali perhari dan banyaknya lebih dari 200 – 250 gram (Syaiful Noer, 1996 ).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan/ atau munmtah akut. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses inflamasi dalam lambung dan usus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi yang meningkat (Arif Mansjoer, 1999 : 501).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri , virus, dan pathogen parasitic.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Diare adalah defekasi yang tidak normal baik frekuensi maupun konsistensinya, frekuensi diare lebih dari 4 kali sehari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;B.Anatomi fisiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Saluran gastrointestinal yang berjalan dari mulut melalui esofagus, lambung dan usus sampai anus. Esofagus terletak di mediastinum rongga torakal, anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Selang yang dapat mengempis ini, yang panjangnya kira-kira 25 cm (10 inchi) menjadi distensi bila makanan melewatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Bagian sisa dari saluran gastrointestinal terletak di dalam rongga peritoneal. Lambung ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh, tepat di bawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantung yang dapat berdistensi dengan kapasitas kira-kira ± 1500 ml. Lambung dapat dibagi ke dalam empat bagian anatomis, kardia, fundus, korpus dan pilorus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal, yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. Untuk sekresi dan absorbsi, usus halus dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian atas disebut duodenum, bagian tengah disebut yeyunum, bagian bawah disebut ileum. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak dibagian bawah kanan duodenum. Ini disebut sekum pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal. Yang berfungsi untuk mengontrol isi usus ke dalam usus besar, dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis. Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen, segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen. Yang mana fungsinya mengabsorbsi air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon. Bagian ujung dari usus besar terdiri dua bagian. Kolon sigmoid dan rektum kolon sigmoid berfungsi menampung massa faeces yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Kolon mengabsorbsi sekitar 600 ml air perhari sedangkan usus halus mengabsorbsi sekitar 8000 ml kapasitas absorbsi usus besar adalah 2000 ml perhari. Bila jumlah ini dilampaui, misalnya adalah karena adanya kiriman yang berlebihan dari ileum maka akan terjadi diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Rektum berlanjut pada anus, jalan keluar anal diatur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;C.Etiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Faktor infeksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Infeksi internal, yaitu saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare. Pada sat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. Penyebab itu dapat digolongkan lagi kedalam penyakit yang ditimbulkan adanya virus, bakteri, dan parasit usus. Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah rotavirus (40-60%) sedangkan virus lainnya ialah virus Norwalk, astrovirus, calcivirus, coronavirus, minirotavirus dan virus bulat kecil. Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit itu adalah aeromonashidrophilia, bacillus cereus, campylobacter jejuni, clostridium defficile, clostridium perfringens, E, coli, plesiomonas, shigelloides, salmonella spp, staphylococcus aureus, vibrio cholerae, dan yersinia enterocolitica.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Sedangkan penyebab gastroenteritis (diare akut) oleh parasit adalah balantidium coli, capillaria philippinensis, cryptosporidium, entamoeba histolitica, giarsia lamblia, isospora billi, fasiolapsis buski, sarcocystis suihominis, strongiloides stercoralis, dan trichuris trichuria.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b.Bakteri penyebab gastroenteritis (diare akut) dibagi dalam dua golongan besar, ialah bvakteri non invasive dan bakteri invasive. Yang termauk dalam golongan bakteri non invasive adalah : vibrio cholera, E. coli pathogen (EPEC,ETEC,EIEC). Sedangkan golongan bakteri invasiv adalah salmonella spp, shigella spp, E. coli infasif (EIEC), E. coli hemorrhagic (EHEC) dan camphylobcter. Diare karena bakteri invasive dan non ihnvasiv terjadi melalui suatu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transport ion di dalam sel-sel usus berikut ini : cAMP (cyclic adenosine monophospate), cGMP (cyclic guaniosin monophospate), Ca-dependent dan pengaturan ulang sitoskeleton.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c.Infeksi parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti : otitis media akut tonsilopharingitis, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;D.Insiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Data departemen kesehatan RI, menyebutkan bahwa angka kesakitan diare diindonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 pendududk intuk semua golongan umur dan 1,6 – 2,2 episode diare setiap tahunnya untukgolongan umur balita. Angka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. Di laboratorium kesehatan anak RSUD Dr. soetomo pada tahun 1996 didapatkan 871 penderita diare yang dirawat dengan dehidrasi ringan 5%, dehidrasi sedang 7,1%, dan dehidrasi berat 23 %.tahun 2000 terdapat 1160 penderita diare yang dirawat dengan 227 (19,56 %) penderita yangmeninggal karena dehidrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;E.Patogenesis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Diare akut akibat infeksi( gastro enteritis) terutama dilakukan secara fekal oral. Hal ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan ekskresi yang buruk, makanan yang tidak matang, bahkan yang disajikan tanpa dimasak penularannya transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi (Norwalk, rotavirus), tangan yang terkontaminasi (clostridium difficille), atau melalui aktivitas seksual. Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent) dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme, yaitu faktor daya tahan tubuh atau lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman lambung, motilitas lambung, imunitas juga mencakup lingkungan mikroflora usus. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi, yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus serta daya lekat kuman. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare patogenesis diare disebabkan infeksi bakteri terbagi dua yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1.Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Bakteri masuk kedalam makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut. Bakteri kemudian tertelan dan masuk kedalam lambung, didalam lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung, namun bila jumlah bakteri terlalu banyak maka akan ada yang lolos kedalam usus 12 jari (duodenum). Di dalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya mencapai 100 juta koloni atau lebih per ml cairan usus. Denan memproduksi enzim muicinase bakteri berhasil mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan sel epitel usus sehingga bakteri dapat masuk ke dalam membrane (dinding sel epitel). Di dalam membrane bakteri mengeluarkan toksin yang disebut sub unit A dan sub unit B. sub unit B melekat di dalam membrane dari sub unit A dan akan bersentuhan dengan membrane sel serta mengeluarkan cAMP (cyclic Adenosin Monophospate). cAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus di bagian kripta vili dan menghambat absorbsi cairan di bagian kripta vili, tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut. Sebagai akibat adanya rangsangan sekresi cairan dan hambatan absorbsi cairan tersebut, volume cairan didalam lumen usus akan bertambah banyak. Cairan ini akan menyebabkan dinding usus menggelembung dan tegang dan sebagai reaksi dinding usus akan megadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk mengalirkan cairan ke baeah atau ke usus besar. Dalam keadaan normal usus besar akan meningkatkan kemampuannya untuk menyerap cairan yang bertambah banyak, tetapi tentu saja ada batasannya. Bila jumlah cairan meningkat sampai dengan 4500 ml (4,5 liter), masih belum terjadi diare, tetapi bila jumlah tersebut melampaui kapasitasnya menyerap, maka akan terjadi diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2.Bakteri enteroinvasif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi, dan bersifat sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah. Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah Enteroinvasif E. Coli (EIEC), S. Paratyphi B, S. Typhimurium, S. Enteriditis, S. Choleraesuis, Shigela, Yersinia dan Perfringens tipe C.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Penyebab diare lainnya, seperti parasit menyebabkan kerusakan berupa usus besar (E. Histolytica) kerusakan vili yang penting menyerap air, elektrolit dan zat makanan (lamdia) patofisologi kandida menyebabkan gastroenteritis belum jelas, mungkin karena superinfeksi dengan jasad renik lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Mekanisme yang dilakukan virus masih belum jelas kemungkinan dengan merusak sel epitel mukosa walaupun hanya superfisial, sehingga mengganggu absorpsi air, dan elektrolit. Sebaliknya sel-sel kripti akan berpoliferasi dan menyebabkan bertambahnya sekresi cairan ke dalam lumen usus. Selain itu terjadi pula kerusakan enzim-enzim disakarida yang menyebabkan intoleransi yang akhirnya memperlama diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;F.Gejala Klinik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut, demam dan diare terjadi renjatan hipovolemik harus dihindari kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak, gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis, kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penulit berupa nekrosis tubular akut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Secara klinis dianggap diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan pertama, kolerifrom, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua disentriform, pada saat diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;G.Tes Diagnostik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;BAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;PEMERIKSAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Tinja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Tinja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Cairan duadenum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Biakan : Siggela, salmonella, E. coli, V. cholarae&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Virus : Mikroskop elektron, elisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Parasit : Pemeriksaan mikroskopika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;PH dan uji reduksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Lemak (pewarna sudam III)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Elektrolit dan osmolalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Darah tepi lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Asam folat serum dan eritrosit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Mikroskopik : glordia dorstring dan loides.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Biakan : kuman aerob dan anaerob.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;H.Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Dasar pengobatan diare adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1.Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan dan jumlah cairan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2.Dietetik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;3.Obat-obatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Ketiga dasar pengobatan tersebut dijelaskan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1.Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Jenis cairan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a. Cairan peroral :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik diberikan peroral berupa cairan yang berisi NaCl dan NaHCO3, KCI dan glukosa. Formula lengkap sering disebut juga oralit. Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)hanya mengandung garam dan gula (NaCl dan sukrosa), atau air tajin yang diberi garam dan gula untuk pengobatan sementara sebelum di bawah berobat ke rumah sakit pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b. Cairan parenteral :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1). Belum ada dehidrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas tiap defekasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2). Dehidrasi ringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1 jam pertama : 25 – 50 ml/kg BB per oral (intragastrik). Selanjutnya : 125 ml/kg BB /hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;3). Dehidrasi sedang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1 jam pertama : 50 – 100 ml/kg BB peroral /intragastrik (sonde). Selanjutnya ; 125 ml/kg BB/hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;4). Dehidrasi berat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;(a).Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun, berat badan 3 – 10 kg.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;yaitu 1 jam pertama : 40 ml/kg BB / jam = 10 tetes / kg BB /menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes / kg BB /menit (set infus 1 ml : 20 tetes).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;7 jam berikutnya : 12 ml /kg BB/jam = 33 tetes / kg BB/ m atau 4 tetes / kg BB/menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;16 jam berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan dengan intravena 2 tetes/.kg BB/menit atau 3 tetes/kgBB/menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;(b).Untuk anak lebih dari 25 tahun dengan BB 10 – 15 kg :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1 jam pertama : 30 ml /kg BB/jam = 8 tetes/kgBB/menit. atau 10 tetes/kgBB/menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;7 jam berikutnya : 10 ml /kg BB /jam = 3 tetes/kgBB/ menit. atau 4 tetes/kgBB/menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;16 jam berikutnya : 125 ml /kg BB oralit peroral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/m, atau 3 tetes/ kgBB/m.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;(c).Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2 – 3 kg.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml /kg bb /24 jam. Jenis cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 % + 1 bagian NaHCO­3­ 1 %) dengan kecepatan 4 jam pertama = 25 ml / kg BB /jam atau 6 tetes/kgBB/menit., 8 tetes/kgBB/ menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;20 jam berikutnya 150 ml /kg BB /20 jam = 2 tetes/kgBB/ menit. atau 2 ½ tetes/kgBB/menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2.Pengobatan dietetik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg jenis makanan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b. Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c.Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Cara memberikannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Hari pertama : setelah dehidrasi segera diberikan makanan peroral. Bila diberi ASI/susu formula tapi masih diare diberikan oralit selang-seling.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b. Hari kedua – keempat : ASI /susu formula rendah laktosa penuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c. Hari kelima : bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu atau makanan biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;3.Obat-obatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Obat anti sekresi : dosis 25 mg /tahun dengan dosis minimum 30 mg. Klorpromazin dosis 0,5 – 1 mg /kg bb /hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b. Obat spasmolitik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c. Antibiotik (Ngastiyah, 1997).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;I.Prinsip Pengobatan Dan Managemen Perawatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1.Pengobatan tergantung pada derajat dehidrasi. Dehidrasi ringan . ada kemungkinan lebih disukai untuk merawat anak di rumah, asal diberikan perawatan medis tang efesien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Dihentikannya pemberian susu yang diganti dengan campuran glucose elektrolit (dioralite).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b.Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang hari dan setiap 4 jam selama malam hari, dilanjutkan selama 24 jam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c.Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali, jika diberikan jumlah kecil (15 ml susu krim separuh) setiap 4 jam dengan salin antara waktu makan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;d.Dengan ditingkatkannya pemberian susu, jumlah campuran glucose elektrolit diturunkan secara berimbang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;e.Sucrose hanya ditambahkan jika feces mulai berbentuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Dehidrasi ringan. Pada kasus ini, gambaran klinik ditegakkan secara baik danbayi mulai dirawat :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Dihentikannya pemberian susu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b.Penggantian deficit cairan danelektrolit serta koreksi gangguan asam basa. Ini didasarkan pada penilaian klinis, atau pada rekaman kehi,angan berat badanterakhir. Pergantian dapat dilakukan baik peroral atau intravena dan akan tergantung pada kehilangan air dan elektrolit melalui diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c.Perawatan bayi dengan terapi intra vena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;d.Pemeriksaan biokimia dan obsevasi klinis untuk menentukan status elektrolit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;e.Dimulainya pemberian cairan peroral secara perlahan – lahan untuk kmenentukan kemampuan menerima cairan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;f.Dimulainya pemberian susu secara berangsur-angsur seperti yangdiuraikanuntuk dehidrasi ringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;g.Penimbangan berat badan harian dan pengumpilan urin harian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Dehidrasi parah. Bayi dalamkedaan sakit parah dengan kegagalan sirkulasi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Infuse intravena dengan larutan yang sesuai dan masukan cairan dengan peningkatan yang seksama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b.Infuse plasma untukmenggantikan penurunan volume plasma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c.Koreksi asidosis merabolik dengan pemberian secara intravena 8,4 % natrium bikarbonat dengan penilaian kembali status asam basa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;d.Jika suatu elektrolit dan cairan telah dikoreksi, secara berangsur-angsur susu diberikan kembali seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;e.Selama fase akut, bayi dirawat dalam incubator. Diberikan oksigen dan bayi diobservasi secara seksama, karena penurunan kadar kalium serum menimbulkan perubahan aktivitas jantung, dan peningkatan kadar kalium secara cepat membawa resiko henti jantung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2.Perawatan rutin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a.Pemberian obat-obatan, terutama antibiotika untuk mengatasu kuman infeksi . jika muntah parah, obat-obatan yang sesuai, seperti kloramfenikol atau streptomisin, dapat diberikan secara parenteral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b.Isolasi bayi dan pengertian akan proses infeksi silang serta pencegahannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c.Perawatan bokong anak. Feces yang encer akan menyebabkan kemerahan dan ekskoriasi kulit. Bayi tidak boleh ditinggal berbaring dengan popok yang basah dan kotor. Area popok dibasuh secara lebih dan diberikan krim pelindung. Meninggalkan bokong dalam kedaan terpapar merupakan cara yang terbaik untuk mendorong terjadinya penyembuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;d.Inspeksi dan perawatan mulit bayi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;e.Dukungan bagi orang tua. Jika terdapat bukti tidak adanya pengertian dalam hal perawatan anak,ibu harusdidorong untuk tinggal bersama anak. Perawatan dapat diawasi dan diberikan bantuan. Walaupun demikian, harus diingat bahwa banyak bayi yangmenderita gastroenteritis kendatipun perawatan bayi yang bhaik, dan orang tua tidak boleh disalahkan karena keadaan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;f.Persiapan pulang ke rumah. Segera setelah petunjuk pemberian makanan mencapai tingkat sesuai umur dan kebutuhan anak, dan jika terjadi pertambahan berat badan anak yang memuaskan dan tidak terdapat muntah atau feces yang encer, maka anak dizinkan pulang. Orang tua diminta untuk datang ke unit rawat jalan untuk mengubungi dokter umum untuk menilai kemajuan bayi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-6381346326130157401?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/6381346326130157401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=6381346326130157401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6381346326130157401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/6381346326130157401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/askep-gastroenteritis.html' title='Askep Gastroenteritis'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-5243963514303471064</id><published>2009-01-23T20:57:00.001-08:00</published><updated>2009-01-23T20:57:46.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Askep Keluarga'/><title type='text'>Konsep Keluarga</title><content type='html'>Definisi Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whall (1986) dalam analisis konsep tentang keluarga sebagai unit yang perlu dirawat, ia mendefinisikan keluarga sebagai kelompok yang mengidentifikasikan diri dengan anggotanya yang terdiri dari dua individu atau lebih yang asosiasinya dicirikan oleh istilah-istilah khusus, yang boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi yang berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Family Service America (1984) mendefinisikan keluarga dalam suatu cara yang komprehensif, yaitu sebagai ”dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan keintiman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hariyanto, 2005. keluarga menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga.&lt;br /&gt;Friedman 1998, Keluarga adalah kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dg keterikatan aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan : unit terkecil dari masy, dua orang / lebih,ikatan perkawinan dan pertalian darah,hidup dalam satu rumah tangga,asuhan kepala RT,Berinteraksi,&lt;br /&gt;punya peran masing2,pertahankan suatu budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri keluarga menurut Stanhope dan Lancaster (1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Diikat dalam suatu tali perkawinan&lt;br /&gt;  2. Ada hubungan darah&lt;br /&gt;  3. Ada ikata batin&lt;br /&gt;  4. Ada tanggung jawab masing-masing anggota&lt;br /&gt;  5. Ada pengambilan keputusan&lt;br /&gt;  6. Kerjasama diantara anggota keluarga&lt;br /&gt;  7. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga&lt;br /&gt;  8. Tinggal dalam satu rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRUKTUR KELUARGA (IKATAN DARAH) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Patrilineal, klg sedarah terdiri sanak saudara sedarah dlm beberapa generasi , dimana hub. Itu berasal dari jalur ayah&lt;br /&gt;  2. Matrilineal, klg sedarah terdiri sanak saudara sedarah dlm beberapa generasi , dimana hub. Itu berasal dari jalur ibu&lt;br /&gt;  3. Matrilokal, suami istri tinggal pada klg sedarah istri&lt;br /&gt;  4. Patrilokal, suami istri tinggal pada klg sedarah suami&lt;br /&gt;  5. Klg kawinan, hub. Suami istri sebagai dasar bagi pembinaan klg dan sanak saudara baik dari pihak suami dan istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMEGANG KEKUASAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Patriakal, dominan dipihak ayah&lt;br /&gt;—Matriakal, dominan di pihak ibu&lt;br /&gt;—Equalitarian , ayah dan ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERANAN KELUARGA :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Peranan ayah, pencari nafkah, prndidik, pelindung, rasa aman, sbg kk, anggota masy&lt;br /&gt;  2. Peranan ibu, mengurus rt, pengasuh/pendidik anak, pencari nafkah tambahan, anggota masy&lt;br /&gt;  3. Peran anak, peran psikososial sesuai tk perkemb. Baik mental fisik sosial dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TYPE KELUARGA (SCR TRADISIONAL) ..... ******Umumnya di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Keluarga inti (nuclear family) terdiri: ayah , ibu dan anaknya dari keturunannya atau adopsi&lt;br /&gt;  2. Keluarga besar (extended family) keluarga inti + anggota klg lain yg masih ada hub. Darah. (kakek, nenek , paman, bibi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUGAS PERKEMBANGAN SESUAI DENGAN TAHAP&lt;br /&gt;a)Keluarga baru menikah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga baru menikah&lt;br /&gt;Membina hub. Intim,&lt;br /&gt;Membina hub, dg klg lain: Teman dan kelompok sosial,&lt;br /&gt;Mendiskusikan rencana punya anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)Klg. Dg anak baru lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;persiapan mjd ortu,&lt;br /&gt;adaptasi klg baru,&lt;br /&gt;interaksi klg,&lt;br /&gt;hub. Seksual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)Klg dg anak usia pra sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memenuhi kebut. Anggota klg : rumah, rasa aman,&lt;br /&gt;Membantu anak u/ bersosialisasi, Mempertahankan hub yg sehat klg intern dan luar,&lt;br /&gt;Pembagian tanggung jawab,&lt;br /&gt;Kegiatan u/ stimulasi perkemb. Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)Klg dg anak usia sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membantu sosialisasi anak dg lingk luar,&lt;br /&gt;Mempertahankan keintiman pasangan,&lt;br /&gt;Memenuhi kebutuhan Yg meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e)Klg dg anak remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan kebebasan seimbang dan bertanggug jawab,&lt;br /&gt;Mempertahankan hub. Intim dg klg, komunikasi terbuka : hindari, debat, permusuhan, Persiapan perubahan peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f)Klg mulai melepas anak sebagai dewasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperluas jar. Klg dari klg inti ke extended,&lt;br /&gt;Mempertahnakan keintiman pasanagan,&lt;br /&gt;Membantu anak u/ mandiri sbg keluarga baru, Penataan kembali peran ortu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g)Klg usia pertengahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan kesehatan Individu dan pasangan usia pertengahan,&lt;br /&gt;Hub. Serasi dan memuaskan dg anak-anaknya dan sebaya, Meningkatkan keakraban pasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h)Keluarga usia tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan suasana saling menyenangkan,&lt;br /&gt;Adapatasi perubahan : kehil.pasangan, pekerjaan, penurunan kekuatan fisik, penghasilan,&lt;br /&gt;Mempertahankan keakraban pasangan, Melakukan life review masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi keluarga menurut Friedman (1992) adalah:&lt;br /&gt;—Fungsi afektif dan koping&lt;br /&gt;—Fungsi sosialisasi&lt;br /&gt;—Fungsi reproduksi&lt;br /&gt;—Fungsi ekonomi&lt;br /&gt;-Fungsi fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi afektif dan koping Keluarga memberikan kenyamanan emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan mempertahankan saat terjadi stress.&lt;br /&gt;Fungsi sosialisasi Keluarga sebagai guru, menanamkan kepercayaan, nilai, sikap, dan mekanisme koping, memberikan feedback, dan memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Fungsi reproduksi Keluarga melahirkan anak, menumbuh-kembangkan anak dan meneruskan keturunan.&lt;br /&gt;Fungsi ekonomi Keluarga memberikan finansial untuk anggota keluarganya dan kepentingan di masyarakat&lt;br /&gt;Fungsi fisik, Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi keluarga menurut Allender (1998):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Affection&lt;br /&gt;—Security and acceptance&lt;br /&gt;—Identity and satisfaction&lt;br /&gt;—Affiliation and companionship&lt;br /&gt;—SocializationControls&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Affection&lt;br /&gt;1). Menciptakan suasana persaudaraan/menjaga perasaan&lt;br /&gt;2). Mengembangkan kehidupan seksual dan kebutuhan seksual&lt;br /&gt;3). Menambah anggota baru&lt;br /&gt;Security and acceptance&lt;br /&gt;1). Mempertahankan kebutuhan fisik&lt;br /&gt;2). Menerima individu sebagai anggota&lt;br /&gt;Identity and satisfaction&lt;br /&gt;1). Mempertahankan motivasi&lt;br /&gt;2). Mengembangkan peran dan self image&lt;br /&gt;3). Mengidentifikasi tingkat sosial dan kepuasan aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Affiliation and companionship&lt;br /&gt;1). Mengembangkan pola komunikasi&lt;br /&gt;2). Mempertahankan hubungan yang harmonis&lt;br /&gt;Socialization&lt;br /&gt;1). Mengenal kultur (nilai dan perilaku)&lt;br /&gt;2). Aturan/pedoman hubungan internal dan eksternal&lt;br /&gt;3). Melepas anggota&lt;br /&gt;Controls&lt;br /&gt;1). Mempertahankan kontrol sosial&lt;br /&gt;2). Adanya pembagian kerja&lt;br /&gt;3). Penempatan dan menggunakan sumber daya yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-5243963514303471064?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/5243963514303471064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=5243963514303471064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/5243963514303471064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/5243963514303471064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/konsep-keluarga.html' title='Konsep Keluarga'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-1790168967986801575</id><published>2009-01-23T20:54:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:56:05.572-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Urinaria'/><title type='text'>Askep Ureterolithiasis</title><content type='html'>Pengertian&lt;br /&gt;Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di dalam ureter (Sue Hinchliff, 1999 Hal 451).&lt;br /&gt;Batu ureter pada umumnya berasal dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimtomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. (R. Sjamsuhidajat, 1998 Hal. 1027).&lt;br /&gt;2.Etiologi&lt;br /&gt;Etiologi pembentukan batu meliputi idiopatik, gangguan aliran kemih, gangguan metabolisme, infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease (Proteus mirabilis), dehidrasi, benda asing, jaringan mati (nekrosis papil) dan multifaktor (www.detikhealth.com/konsultasi/ urologi/html, 07 Oktober 2003 Jam 09.00).&lt;br /&gt;Banyak teori yang menerangkan proses pembentukan batu di saluran kemih; tetapi hingga kini masih belum jelas teori mana yang paling benar.&lt;br /&gt;Beberapa teori pembentukan batu adalah :&lt;br /&gt;a.Teori Nukleasi&lt;br /&gt;Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan yang kelewat jenuh (supersaturated) akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti batu dapat berupa kristal atau benda asing di saluran kemih.&lt;br /&gt;b.Teori Matriks&lt;br /&gt;Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin, dan mukoprotein) merupakan kerangka tempat diendapkannya kristal-kristal batu.&lt;br /&gt;c.Penghambatan kristalisasi&lt;br /&gt;Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal, antara lain : magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat itu berkurang, akan memudahkan terbentuknya batu di dalam saluran kemih.&lt;br /&gt;(Basuki, 2000 hal. 63).&lt;br /&gt;3. Insiden&lt;br /&gt;penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di negara kita. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi. Di negara-negara berkembang banyak dijumpai pasien batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian atas; hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari.&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat 5 – 10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1 – 12 % penduduk menderita batu saluran kemih (Basuki, 2000 Hal. 62).&lt;br /&gt;4. Patofisiologi&lt;br /&gt;Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah dari jenis urat, asam urat, oksalat, fosfat, sistin, dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik; di antaranya berkaitan dengan sindrom alkali atau kelebihan vitamin D. Batu fosfat dan kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). Batu fosfat amonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkan bakteria yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan ureum. Batu asam urin disebabkan hiperuremia pada artritis urika. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah (R. Sjamsuhidajat, 1998 Hal. 1027).&lt;br /&gt;Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. Faktor predisposisi berupa stasis, infeksi, dan benda asing. Infeksi, stasis, dan litiasis merupakan faktor yang saling memperkuat sehingga terbentuk lingkaran setan atau sirkulus visiosus.&lt;br /&gt;Jaringan abnormal atau mati seperti pada nekrosis papila di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Demikian pula telor sistosoma kadang berupa nidus batu (R. Sjamsuhidajat, 1998 Hal. 1027).&lt;br /&gt;5. Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Gerakan pristaltik ureter mencoba mendorong batu ke distal, sehingga menimbulkan kontraksi yang kuat dan dirasakan sebagai nyeri hebat (kolik). Nyeri ini dapat menjalar hingga ke perut bagian depan, perut sebelah bawah, daerah inguinal, dan sampai ke kemaluan.&lt;br /&gt;Batu yang terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien sebagai nyeri pada saat kencing atau sering kencing. Batu yang ukurannya kecil (&lt;5 mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan yang lebih besar seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi peradangan (periureteritis) serta menimbulkan obstruksi kronik berupa hidroureter/hidronefrosis (Basuki, 2000 Hal 69).&lt;br /&gt;6. Tes Diagnostik&lt;br /&gt;a.Air kemih&lt;br /&gt;1)Mikroskopik endapan&lt;br /&gt;2)Biakan&lt;br /&gt;3)Sensitivitas kuman&lt;br /&gt;b.Faal ginjal&lt;br /&gt;1)Ureum&lt;br /&gt;2)Kreatinin&lt;br /&gt;3)Elektrolit&lt;br /&gt;c.Foto polos perut (90% batu kemih radiopak)&lt;br /&gt;d.Foto pielogram intravena (adanya efek obstruksi)&lt;br /&gt;e.Ultrasonografi ginjal (hidronefrosis)&lt;br /&gt;f.Foto kontras spesial&lt;br /&gt;1)Retrograd&lt;br /&gt;2)Perkutan&lt;br /&gt;g.Analisis biokimia batu&lt;br /&gt;h.Pemeriksaan kelainan metabolik&lt;br /&gt;7. Penatalaksanaan Medik&lt;br /&gt;a.Medikamentosa&lt;br /&gt;Ditujukan untuk batu yang ukurannya &lt; 5 mm, karena batu diharapkan dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan mengurangi nyeri, memperlancar aliran urine dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu keluar.&lt;br /&gt;b.ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi)&lt;br /&gt;Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui tindakan invasif atau pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih.&lt;br /&gt;c.Endourologi&lt;br /&gt;1). PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu yang berada di saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kaliks melalui insisi kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.&lt;br /&gt;2). Litotripsi : memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik.&lt;br /&gt;3). Ureteroskopi atau uretero-renoskopi : memasukkan alat ureteroskopi per uretram guna melihat keadaan ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteroskopi atau uretero-renoskopi ini.&lt;br /&gt;4). Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya dengan keranjang Dormia.&lt;br /&gt;d.Bedah Laparoskopi&lt;br /&gt;Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.&lt;br /&gt;e.Bedah terbuka :&lt;br /&gt;1). Pielolitotomi atau nefrolitotomi : mengambil batu di saluran ginjal&lt;br /&gt;2). Ureterolitotomi : mengambil batu di ureter.&lt;br /&gt;3). Vesikolitotomi : mengambil batu di vesica urinaria&lt;br /&gt;4). Ureterolitotomi : mengambil batu di uretra.&lt;br /&gt;B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Proses keperawatan adalah suatu sistem perencanaan pelayanan asuhan keperawatan yang terdiri dari 5 (lima) tahap (Doenges, 1998 Hal. 2), yaitu :&lt;br /&gt;1.Pengkajian&lt;br /&gt;Pengkajian keperawatan merupakan pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis. Pengkajian keperawatan pada ureterolithiasis tergantung pada ukuran, lokasi, dan etiologi kalkulus (Doenges, 1999 Hal 672).&lt;br /&gt;a.Aktivitas / istirahat&lt;br /&gt;Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan di mana klien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi, keterbatasan aktivitas / mobilitas sehubungan kondisi sebelumnya.&lt;br /&gt;b. Sirkulasi&lt;br /&gt;Tanda : peningkatan TD / nadi, (nyeri, obstruksi oleh kalkulus) kulit hangat dan kemerahan, pucat.&lt;br /&gt;c. Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala : riwayat adanya ISK kronis, penurunan haluaran urine, distensi vesica urinaria, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.&lt;br /&gt;Tanda : oliguria, hematuria, piuruia, perubahan pola berkemih&lt;br /&gt;d. Makanan / cairan&lt;br /&gt;Gejala : mual / muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat / fosfat, ketidakcukupan intake cairan&lt;br /&gt;Tanda : Distensi abdominal, penurunan / tidak ada bising usus , muntah&lt;br /&gt;e. Nyeri / kenyamanan&lt;br /&gt;Gejala : episode akut nyeri berat, lokasi tergantung pada lokasi batu, nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat, tidak hilang dengan perubahan posisi atau tindakan lain&lt;br /&gt;Tanda : melindungi, prilaku distraksi, nyeri tekan pada area abdomen&lt;br /&gt;f. Keamanan&lt;br /&gt;Gejala : pengguna alkohol, demam, menggigil&lt;br /&gt;g. Penyuluhan dan Pembelajaran&lt;br /&gt;Gejala : riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, ISK, paratiroidisme, hipertensi, pengguna antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, allopurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium dan vitamin&lt;br /&gt;h. Pemeriksaan diagnostik&lt;br /&gt;Urinalisis, urine 24 jam, kultur urine, survey biokimia, foto Rontgen, IVP, sistoureteroskopi, scan CT, USG&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Dari data-data yang didapatkan pada pengkajian, disusunlah diagnosa keperawatan. Adapun diagnosa keperawatan yang umum timbul pada batu saluran kemih adalah (Doenges, 1999 Hal 672)&lt;br /&gt;a.Nyeri (akut), berhubungan dengan trauma jaringan&lt;br /&gt;b.Perubahan pola eliminasi berkemih (polakisuria) berhubungan dengan obstruksi mekanik&lt;br /&gt;c.Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis pasca obstruksi&lt;br /&gt;i.Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi&lt;br /&gt;3.Intervensi&lt;br /&gt;Dari diagnosa yang telah disusun berdasarkan data dari pengkajian, maka langkah selanjutnya adalah menyusun intervensi.&lt;br /&gt;a.Nyeri (akut), berhubungan dengan trauma jaringan&lt;br /&gt;Tujuan : Nyeri hilang atau terkontrol.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1). Catat lokasi nyeri, lamanya intensitas, dan penyebaran&lt;br /&gt;Rasional : membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan pergerakan kalkulus.&lt;br /&gt;2). Jelaskan penyebab nyeri&lt;br /&gt;Rasional : memberi kesempatan untuk pemberian analgetik dan membantu meningkatkan koping klien.&lt;br /&gt;3). Lakukan tindakan nyaman&lt;br /&gt;Rasional : meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot, dan meningkatkan koping.&lt;br /&gt;4). Bantu dengan ambulasi sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional : mencegah stasis urine&lt;br /&gt;5). Kolaborasi : pemberian obat sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional : mengurangi keluhan&lt;br /&gt;b.Perubahan pola eliminasi berkemih (polakisuria) berhubungan dengan obstruksi mekanik&lt;br /&gt;Tujuan : Mempertahankan fungsi ginjal adekuat&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1). Awasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine&lt;br /&gt;Rasional : memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi.&lt;br /&gt;2). Tetapkan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi&lt;br /&gt;Rasional : kalkulus dapat menyebabkan eksibilitas saraf, sehingga menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera.&lt;br /&gt;3). Dorong peningkatan intake cairan&lt;br /&gt;Rasional : peningkatan hidrasi membilas bakteri, darah, dan dapat membantu lewatnya batu&lt;br /&gt;4). Periksan semua urine, catat adanya batu&lt;br /&gt;Rasional : penemuan batu memungkinkan identifikasi tipe dan jenis batu untuk pilihan terapi.&lt;br /&gt;5). Selidiki keluhan kandung kemih penuh&lt;br /&gt;Rasional : Retensi urine dapat terjadi, menyebabkan distensi jaringan&lt;br /&gt;6). Kolaborasi : awasi pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;Rasional : hal ini mengindikasikan fungsi ginjal&lt;br /&gt;c.Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis pasca obstruksi&lt;br /&gt;Tujuan : Mencegah komplikasi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1). Awasi pemasukan dan pengeluaran&lt;br /&gt;Rasional : membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membantu dalam evaluasi adanya kerusakan ginjal&lt;br /&gt;2). Tingkatkan pemasukan cairan sampai 3-4 liter / hari dalam toleransi jantung&lt;br /&gt;Rasional : mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostasis tindakan “mencuci” yang dapat membilas batu keluar.&lt;br /&gt;3). Observasi tanda-tanda vital&lt;br /&gt;Rasional : indikasi hidrasi / volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi&lt;br /&gt;4). Kolaborasi : awasi Hb. / Ht., elektrolit&lt;br /&gt;Rasional : mengkaji hidrasi dan keefektifan / kebutuhan intervensi&lt;br /&gt;d.Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi&lt;br /&gt;Tujuan : Memberikan informasi tentang proses penyakitnya / prognosis dan kebutuhan pengobatan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1). Kaji ulang proses penyakit&lt;br /&gt;Rasional : memberikan pengetahuan dasar di mana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi&lt;br /&gt;2). Tekankan pentingnya peningkatan masukan cairan&lt;br /&gt;Rasional : pembilasan sistem ginjal menurunkan kesempatan pembentukan batu&lt;br /&gt;3). Kaji ulang program diet&lt;br /&gt;Rasional : diet tergantung tipe batu&lt;br /&gt;4.Implementasi&lt;br /&gt;Implementasi keperawatan merupakan tahap ke ekmpat dari proses keperawatan dimana rencana perawatan dilaksanakan. Pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas – aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien.&lt;br /&gt;Agar implementasi perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif terhadap biaya, perlu mengidentifikasi prioritas perawatan pasien kemudian bila telah dilaksanakan memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan informasi ini kepada penyedia perawatan kesehatan lainnya (Doenges, 1998 Hal 105).&lt;br /&gt;5.Evaluasi&lt;br /&gt;Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan pelayanan asuhan keperawatan yang telah dilakukan. Dalam tahap ini, akan terlihat apakah tujuan yang telah disusun tercapai atau tidak.&lt;br /&gt;Pada penderita dengan ureterolithiasis, hasil evaluasi yang diharapkan meliputi :&lt;br /&gt;a.Nyeri hilang / terkontrol&lt;br /&gt;b.Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan&lt;br /&gt;c.Komplikasi dicegah / minimal&lt;br /&gt;d.Proses penyakit / prognosis dan program terapi dipahami&lt;br /&gt;C. Long Barbara, Perawatan Medikal Bedah , jilid 3, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung, 1996&lt;br /&gt;Doenges ME, dkk., Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3, EGC, Jakarta, 2000&lt;br /&gt;Engram, Barbara, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, volume I, EGC, Jakarta , 1999&lt;br /&gt;Marry Ann Matteson, Introductory Nursing Care of Adults, Sounder Company, Philadelpia Penn Sylvani, 1995&lt;br /&gt;Purnomo, B. Basuki, Dasar-dasar Urolog , cetakan I, CV. Infomedika, Jakarta, 2000&lt;br /&gt;Robert Prihardjo, Pengkajian Fisik Keperawatan, cetakan II, EGC, Jakarta, 1996&lt;br /&gt;Wim de Jong dan Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta, 1998&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-1790168967986801575?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/1790168967986801575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=1790168967986801575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1790168967986801575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1790168967986801575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/askep-ureterolithiasis.html' title='Askep Ureterolithiasis'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-1285428644901705770</id><published>2009-01-23T20:51:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:54:19.715-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kep Profesional'/><title type='text'>Konsep Keperawatan Peofesional</title><content type='html'>- Definisi Praktik Keperawatan Profesional adallah;Tindakan Mandiri Perawat Profesional Melalui Kerjasama Dengan : Klien, Tenaga Kesehatan Lain Sesuai Dengan , Wewenang Tanggung Jawab, Menggunakan Pendekatan Proses Keperawatan Yang Dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Praktik Kep Prof.&lt;br /&gt;- Otoritas&lt;br /&gt;- Akuntabilitas&lt;br /&gt;- Independent Decision Making&lt;br /&gt;- Collaboration&lt;br /&gt;- AdvocacyFasilitation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMASALAHAN DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN YANG DAPAT MENIMBULKAN MASALAH HUKUM&lt;br /&gt;Membuka RahasiaRahasia : yaitu barang sesuatu yang hanya diketahui oleh yang berkepentingan, sedangkan orang lain belum mengetahuinya.Tuntutan untuk menyimpan rahasia bagi perawat&lt;br /&gt;• Kode etik keperawatan Indonesia hubungan perawat dan klien,butir 4, perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yangdiketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.&lt;br /&gt;• Asas Etik Asas Kerahasiaan tenaga kesehatan harusmenghormati kerahasiaan klien, meskipun telah meninggal&lt;br /&gt;• SK Menkes 1239/2001 Pasal 16 huruf Ca. Perawat berkewajiban menyimpan kerahasiaan sesuai denganperaturan perundang-undangan yang berlakub.&lt;br /&gt;• Lafal sumpah jabatan Perawat&lt;br /&gt;PERAWAT DAN PRAKTIK&lt;br /&gt;Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi di bidang keperawatan melalui belajar terus menerus. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang kuat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku profesional.&lt;br /&gt;ASPEK HUKUM I. Undang - Undang No. 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan&lt;br /&gt;Pasal 321. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan diselenggarakan untuk mengembalikan status kesehatan akibat penyakit, mengembalikan fungsi badan akibat cacat atau menghilangkan cacat.2. Penyembuhan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmukedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat di pertanggungjawabkan.3. Pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmukedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan.4. Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmukedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.&lt;br /&gt;Pasal 501. Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Pasal 531. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.&lt;br /&gt;Pasal 541. Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.2. Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian di tentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.&lt;br /&gt;Pasal 55 Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.&lt;br /&gt;II. PP No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;Pasal 4Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan upaya kesehatanSetelah tenaga kesehatan yang bersangkutanMemenuhi ijin dari menteri&lt;br /&gt;III. KepMenKes No. 1239/2001 tentang Registrasi dan PraktikPerawat&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;Pasal 81. Perawat dapat melaksanakan praktik keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan, praktik perorangan dan atau kelompok.2. Perawat yang melaksanakan praktik keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan harus memiliki SIK.3. Perawat yang melaksanakan praktik perorangan / berkelompok harus memiliki SIPP.&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;Pasal 15Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk :1. Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.2. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a meliputi : intervensi keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan.3. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimanadimaksud huruf a dan b harus sesuai dengan standart asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi.4. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari dokter.&lt;br /&gt;Pasal 17Perawat dalam melakukan praktik keperawatan harus sesuai dengan kewenangan yang diberikan, berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta dalam memberikan pelayanan berkewajiban mematuhi standart profesi.&lt;br /&gt;Pasal 19Perawat dalam melakukan praktik keperawatan harus senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya, baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisasi profesi.&lt;br /&gt;Pasal 201. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang / pasien, perawat berwenang untuk melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15.2. Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk penyelamatan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran, fungsi dan tanggung jawab Perawat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Perawat :&lt;br /&gt;a. Peran : Seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu sistem.&lt;br /&gt;b. Doheny ( 1982 )mengidentifikasi beberapa elemen peran Perawat Profesional, meliputi :Care Giver, Client Advocate, Counsellor, Educator, Collaborator, Coordinator, Change Agent, dan Consultant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi : suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya.&lt;br /&gt;Kozier ( 1991 ) mengemukakan 3 ( tiga ) fungsi perawat :&lt;br /&gt;1. Fungsi Keperawatan mandiri (independen),&lt;br /&gt;2. Fungsi Keperawatan Ketergantungan ( dependen ), dan&lt;br /&gt;3. Fungsi Keperawatan kolaboratif (interdependen ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEWENANGAN PERAWAT :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Melaksanakan pengkajian keperawatan&lt;br /&gt;2.Merumuskan diagnosis keperawatan&lt;br /&gt;3.Menyusun rencana tindakan keperawatan&lt;br /&gt;4.Melaksanakan tindakan keperawatan (termasuk tindakan medik yang dapat dilakukan perawat)&lt;br /&gt;5.Melaksanakan evaluasi terhadap tindakan&lt;br /&gt;6.Mendokumentasikan hasil keperawatan&lt;br /&gt;7.Melakukan kegiatan konseling kesehatan kepada sistem klien&lt;br /&gt;8. Melaksanakan tindakan medis sebagai pendelegasian berdasarkan kemampuannya&lt;br /&gt;9. Melakukan tindakan diluar kewenangan dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa sesuai ketentuan yang berlaku (Standing Order) di sarana kesehatan&lt;br /&gt;10. Dalam kondisi tertentu, dimana tidak ada tenaga yang kompeten, perawat berwenang melaksanakan tindakan kesehatan diluar kewenangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Organisasi profesi adalah organisasi yang terdiri dari para praktisi yang menetapkan diri sebagai ahli yang mampu dan bergabung bersama melaksanakan fungsi sosial yang tidak dapat dilakukan sendiri2 serta merupakan asosiasi yang bersifat sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Untuk mencapai persatuan dan kesatuan yang kokoh diantaranya anggotanya, peningkatan mutu dan kesejahteraan anggotanya disertai peninkatan mutu pelayanan, serta terjalinnya hubungan kerjasama yang baik dengan organisasi profesi lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa organisasi profesi keperawatan&lt;br /&gt;International counsil of nurses (ICN)&lt;br /&gt;ICN merupakan organisasi professional wanita pertama didunia, didirikan pada tanggal 1 juli 1899 dimotori oleh Mrs. Bedford fenwick.&lt;br /&gt;ICN merupakan federasi perhimpunan perawat nasional diseluruh dunia&lt;br /&gt;Tujuan pendirian ICN adalah :&lt;br /&gt;¨ Memperkokoh silaturrahmi perawat diseluruh dunia&lt;br /&gt;¨ Memberi kesempatan bertemu bagi perawat diseluruh dunia untuk membicarakan berbagai masalah tengtang keperawatan&lt;br /&gt;¨ Menjunjung tinggi peraturan dalam ICN agar dapat mencapai kemajuan dalam pelayanan, pendidikan keperawatan berdasarkan dan kode etik profesi keperawatan&lt;br /&gt;Kode etik keperawatan menurut ICN (1973) menegaskan bahwa keperawatan bersifat universal, Keperawatan menjunjung tinggi kehidupan, martabat dan hak asasi manusia. Keperawatan tidak dibatasi oleh perbedaan bangsa, ras, warna kulit, usia, jenis kelamin, aliran politik, agama dan status sosial.&lt;br /&gt;ICN mengadakan kongres setiap 4 tahun sekali. Kongres pertam adiadakan dilondon 1900. Dan kongres terakhir, pada akhir tahun 1996 diadakan di Bandar Sri Begawan, Brunai Darussalam&lt;br /&gt;American Nurses Association (ANA)&lt;br /&gt;ANA merupakan organisasi profesi perawat di Amerika Serikat. Didirikan pada akhir tahun 1800 yang anggotanya terdiri dari organisasi perawat dari negara2 bagian.&lt;br /&gt;ANA berperan dalam menetapkan standar praktek keperawatan, melakukan penelitian untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, serta menampilkan profil keperawatan profesional dengan p[emberlakuan legislasi keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Canadian Nurses Association (CNA)&lt;br /&gt;CNA merupakan asosiasi perawat nasional di Kanada.&lt;br /&gt;Tujuan pendirian CNA adalah :&lt;br /&gt;¨ Membuat standar praktek keperawatan&lt;br /&gt;¨ Mengusahakan peningkatan standar praktek keperawatan&lt;br /&gt;¨ Mendukung peningkatan profesionalisasi keperawatan&lt;br /&gt;¨ Meningkatkan kesejahteraan perawat&lt;br /&gt;¨ Meningkatkan mutu pendidikan keperawatan&lt;br /&gt;¨ Memberikan izin bagi praktek keperawatan mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National League for Nursing (NLN)&lt;br /&gt;o NLN merupakan organisasi terbuka untuk semua orang yang berkaitan dengan keperawatan meliputi perawat, non perawat seperti asisten perawat (pekarya)&lt;br /&gt;o NLN didirikan pada tahun 1952&lt;br /&gt;o NLN didirikan dengan tujuan:&lt;br /&gt;¨ Membantu pengembangan dan peningnkatan mutu pelayanan kepertawatan dan pendidikan keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;British Nurses Assosiation (BNA)&lt;br /&gt;o BNA merupakan asosiasi perawat di Inggris&lt;br /&gt;o Didirikan pada tahun 1887&lt;br /&gt;o Bertujuan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan seluruh perawat di Inggris dan berusaha memperoleh pengakuanterhadap profesi keperawatan&lt;br /&gt;Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)&lt;br /&gt;PPNI adalah perhimpunan seluruh perawat Indonesia&lt;br /&gt;PPNI didirikan pada tanggal 17 maret 1974&lt;br /&gt;PPNI mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan nama organisasi&lt;br /&gt;Embrio PPNI adalah Perkumpulan Kaum Verpleger Boemibatera (PKVB) tahun 1921. Pada saat itu profesi perawat sangat dihormati masyarakat berkenaan dengant tugas mulia yang dilakukan dalam merawat orang sakit. Lahirnya sumpah pemuda 1928, Mendorong perubahan nama PKVB menjadi Perkumpulan Kaum Verpleger Indonesia (PKVI). Pergantian PKVB Menjadi PKVI tidak lepas dari semangat nasionalisme Indonesia, PKVI ini bertahan sampai tahun 1942&lt;br /&gt;Bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945, tumbuh organisasi keperawatan. Setidaknya ada tiga organisasi profesi antara 1945-1954 Yaitu Persatuan Djuru Kesehatan Indonesia (PDKI), Persatuan Djuru Rawat Islam (Perjurais) dan Sarikat Buruh Kesehatan (SBK)&lt;br /&gt;Pada tahun 1951 terjadi fusi organisasi yang ada menjadi PDKI sebagai upaya konsolidasi tanpa mengikutsertakan SBK karena terlibat pada pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI)&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu 1951-1958 diadakan kongres di Bandung dan mengubah nama PDKI menjadi Persatuan Dalam Kesehatan Indonesia dengan keanggotaannya tidak saja meliputi perawat.&lt;br /&gt;Pada tahun 1959-1974, terjadi pengelompokan organisasi keperawatan antara lain Ikatan Perawat Wanita Indonesia (IPWI), Ikatan Guru Perawat Indonesia (IGPI), dan Ikatan Perawat Indonesia (IPI) tahun1969. dan akhirnya pada tanggal 17 maret 1974 seluruh organisasi keperawatan terkecuali Serikat Buruh Kesehatan bergabung menjadi satu organisasi profesi tingkat nasional dengan nama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Nama inilah yang resmi dipakai sebagai nama organisasi keperawatan di Indonesia hingga saat ini.&lt;br /&gt;Sebagai organisasi profesi PPNI mempunyai peran penting dalam melakukan pembinaan anggotanya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan, serta mengelola pelayanan keperawatan. Pembinaan perawat sebagai anggota PPNI dapat dilakukan melalui penentuan kualifikasi anggota, penetapan legislasi, penetapan kode etik, pengembangan karir dan peningkatan kesejahteraan perawat.&lt;br /&gt;Peran PPNI dalam meningkatkan ilmu dan teknologi keperawatan dilakukan dengan menciptakan suasana yang mendukung bagi penelitian keperawatan, mengidentifikasi masalah yang perlu diteliti dibidang pendidikan, pelayanan, dan manajemen keperawatan. Selain itu juga dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan institusi pelayanan dan pendidikan keperawatan untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan keperawatan termasuk mempersiapkan sumberdaya peneliti dibidang keperawatan. Sedang peran PPNI dalam mengelola pelayanan keperawatan yang bermutu dan dapat dipertanggung jawabkan dapat dilakukan denagn cara merumuskan standar, registrasi dan lisensi keperawatan.&lt;br /&gt;Tujuan PPNI&lt;br /&gt;¨ Membina dan mengembangkan organisasi profesikeperawatan, antara lain ;persatuan dan kesatuan, kerjasama denagn pihak lain dan pembinaan manajemen organisasi&lt;br /&gt;¨ Membina, mengembangkan, dan mengawasi mutu pendidikan keperawatan di Indonesia&lt;br /&gt;¨ Membina, mengembngkan dan mengawasi mutu pelayanan keperawatan di Indonesia&lt;br /&gt;¨ Membina dan mengembangkan IPTEK keperawatan dio Indonesia&lt;br /&gt;¨ Membina dan mengupayakan kesejahteraan anggota&lt;br /&gt;o Struktur organisasi PPNI&lt;br /&gt;¨ Jenjang organisasi&lt;br /&gt;1. Dewan pimpinan pusat (DPP) PPNI&lt;br /&gt;2. Dewan pimpinan daerah TK I (DPD I) PPNI&lt;br /&gt;3. Dewan pimpinan daerah TK II (DPD II) PPNI&lt;br /&gt;4. Komisariat PPNI ( pengurus pada institusi dengan njumlah anggota 25 orang)&lt;br /&gt;o Susunan organisasi tingkat pusat&lt;br /&gt;¨ Ketua umum&lt;br /&gt;1. Ketua-ketua :&lt;br /&gt;2. Pembinaan organisasi&lt;br /&gt;3. Pembinaan pendidikan dan latihan&lt;br /&gt;4. Pembinaan pelayanan&lt;br /&gt;5. Pembinaan IPTEK&lt;br /&gt;6. Pembinaan kesejahteraan&lt;br /&gt;¨ Sekretaris jenderal&lt;br /&gt;Sekretaris berjumlah 5 orang yang dibagi sesuai dengan pembidangan ketua-ketua&lt;br /&gt;¨ Departemen&lt;br /&gt;1. Departeman Organisasi, keanggotaan dan kaderisasi&lt;br /&gt;2. Departeman pendidikan&lt;br /&gt;3. Departemen pelatihan&lt;br /&gt;4. Departemen pelayanan di RS&lt;br /&gt;5. Departemen pelayanan di Puskesmas&lt;br /&gt;6. Departemen penelitian&lt;br /&gt;7. Departemen Hubungan Luar Negeri&lt;br /&gt;8. Departemen Kesejahteraan anggota&lt;br /&gt;9. Departemen pembinaan yayasan&lt;br /&gt;Lama kepengurusan adalah 5 tahun dan dipilih dalam Musyawarah Nasional atau Musyawarah Daerah yang juga diselenggarakan untuk :&lt;br /&gt;1. Menyempurnakan AD/ART&lt;br /&gt;2. Perumusan program kerja&lt;br /&gt;3. Pemilihamn pengurus&lt;br /&gt;PPNI juga mengadakan Rapat Pimpinan (Rapim) dan rapat pimpina daerah (Rapimda) setiap 2 tahun sekali dalam rangka evaluasi dan penyempurnaan program kerja berikutnya. Selain itu, PPNI juga mengadakan rapat bulanan atau harian sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;Keanggotaan PPNI biasanya terdiri dari tenaga perawat. Namun demikian terdapat juga anggota non perawat yang telah berjasa dibidang keperawatan dan mereka ini termasuk dalam anggota luar biasa/kehormatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Sumber dana PPNI&lt;br /&gt;¨ Uang pangkal&lt;br /&gt;¨ Iuran bulanan&lt;br /&gt;¨ Sumber-sumber lain yang sah&lt;br /&gt;o Program kerja utama PPNI&lt;br /&gt;¨ Pembinaan organisasi dan keanggotaan&lt;br /&gt;¨ Pengembangan dan pembinaan pendidikan&lt;br /&gt;¨ Pengembangan dan pembinaan serta pendidikan dan latihan keperawatan&lt;br /&gt;¨ Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di Rumah sakit&lt;br /&gt;¨ Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di Puskesmas&lt;br /&gt;¨ Pembinaan dan pengembangan IPTEK&lt;br /&gt;¨ Pembinaan dan pengembangan kerja sama dengan profesi lain dn organisasi keperawatan internasional&lt;br /&gt;¨ Pembinaan dan pengembangan kerjasam sumber daya/yayasan&lt;br /&gt;¨ Pembinaan dan pengembangan kesejahteraan anggota&lt;br /&gt;¨ Badan pertyimbangan PPNI&lt;br /&gt;PPNI memiliki suatu dewan pelindung yang disebut Badan Pertimbangan PPNI (BPPPNI) yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan pada pengurus PPNI&lt;br /&gt;o Susunan pengurus BPPPNI&lt;br /&gt;¨ Ketua&lt;br /&gt;¨ Sekretaris&lt;br /&gt;¨ Anggota&lt;br /&gt;o Susunan pengurus komisariat yang terdiri dari :&lt;br /&gt;¨ Ketua&lt;br /&gt;¨ Sekretaris&lt;br /&gt;¨ Bendahara&lt;br /&gt;¨ Seksi-seksi&lt;br /&gt;Susunan pengurus TK I dan II, sesaui kebuthan kepengurusan tetapi berpedoman pada susunan pengurus pada tingkat pusat&lt;br /&gt;Disamping PPNI terdapat beberapa organisasi keperawatan yang didoirikan berdsarkan keahlian. Namun tetap bertanggung jawab pada PPNI,mis Ikatan Perawat Anastesi Indonesi (IPAI), persatuan perawat ginjal, persatuan perawat anak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-1285428644901705770?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/1285428644901705770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=1285428644901705770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1285428644901705770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/1285428644901705770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/konsep-keperawatan-peofesional.html' title='Konsep Keperawatan Peofesional'/><author><name>Abdul Haris Awie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06921152814525756301</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_33AH-bjpF5Y/TNIHebFaiyI/AAAAAAAAAx4/kJoOU1ipMks/S220/Logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3931368639621176516.post-7013021577698354803</id><published>2008-12-20T19:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-20T19:37:37.723-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Formalin  Jumat, 30 Desember 2005</title><content type='html'>Dkirim oleh  &lt;strong style="cursor: pointer;" title="View all messages from this sender"&gt;ruslan muchtar &lt;ruslan_pinrang@yahoo.com&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;PEMBERITAAN mengenai formalin demikian gencar        akhir-akhir ini. Padahal, penggunaan formalin pada makanan bukan hal baru        dan sudah lama. Sebenarnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999        melarang penggunaan bahan kimia formalin untuk makanan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Baru-baru ini, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jakarta        membuktikan aneka ragam ikan, mie, tahu dan kwetiau mengandung formalin.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Bagi kebanyakan orang, formalin adalah bahan yang lazim digunakan untuk        pengawet mayat. Formalin mempunyai sifat khas dibanding disinfektan lain,        sehingga lebih dipilih untuk mengawetkan mayat.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Formalin berasal dari larutan formaldehida dalam air dan pelarut lain,        umumnya metanol yang berfungsi sebagai stabilisator, mempunyai cara yang        unik dalam sifatnya sebagai disinfektan. Formaldehida membunuh bakteri        dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga        sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk        lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap        serangan bakteri lain. Bila disinfektan lainnya, seperti &lt;i&gt;tetracycline&lt;/i&gt;,       &lt;i&gt;amikacin&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;baytril&lt;/i&gt;, mendeaktifasikan serangan bakteri dengan        cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka        formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi        tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;b&gt;Berbagai Produk&lt;br /&gt;      &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      Keberadaan formaldehida sendiri ada dalam berbagai macam produk.        Formaldehida juga ditemukan pada asap rokok dan udara yang tercemar asap        kendaraan bermotor. Selain itu bisa didapat juga pada produk-produk        termasuk antiseptik, obat, cairan pencuci piring, pelembut cucian,        perawatan sepatu, pembersih karpet, dan bahan adhesif. Formaldehida juga        ada dalam kayu lapis terutama bila masih baru. Kadar formaldehida akan        turun seiring berjalannya waktu.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Jika seseorang membeli furnitur baru, sebaiknya selalu membuka jendela        untuk menurunkan kadar formaldehida dalam ruangan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Formaldehida secara natural sudah ada dalam bahan makanan mentah dalam        kisaran 1 mg per kg hingga 90 mg per kg. Selain dikenal sebagai formalin,        nama dagang formaldehida sendiri sangat beragam, di antaranya &lt;i&gt;ivalon,        quaternium-15, lysoform, formalith, BVF, metylene oxide, morbicid, formol,        superlsoform&lt;/i&gt; dan lain-lain. &lt;i&gt;Quaternium-15&lt;/i&gt; ditemukan di hampir        semua jenis produk perawatan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Dan jangan heran bila formalin merupakan bahan yang biasa dipakai antara        lain dalam sampo bayi, deodoran, parfum, cat rambut, cairan penyegar mulut,        pasta gigi.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sekarang, sejauh mana kadar toleransi pemakaian bahan kimia untuk berbagai        produk, terutama produk kebutuhan rumah tangga?&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Suatu bahan kimia dikatakan beracun bila berada di atas ambang batas yang        diperbolehkan. &lt;i&gt;American Conference of Governmental and Industrial        Hygienists&lt;/i&gt; (ACGIH) menetapkan ambang batas (&lt;i&gt;Threshold Limit Value/TLV&lt;/i&gt;)        untuk formaldehida adalah 0,4 ppm. Sementara &lt;i&gt;National Institute for        Occupational Safety and Health&lt;/i&gt; (NIOSH) merekomendasikan paparan limit        untuk para pekerja adalah 0,016 ppm selama periode 8 jam, sedangkan untuk        15 menit 0,1 ppm.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Dalam &lt;i&gt;International Programme on Chemical Safety&lt;/i&gt; (IPCS) disebutkan        bahwa batas toleransi formaldehida yang dapat diterima tubuh dalam bentuk        air minum adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang        dibolehkan adalah 0,2 mg.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk        orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Hampir semua jaringan di tubuh mempunyai kemampuan untuk memecah dan        memetabolisme formaldehida. Salah satunya membentuk asam format dan        dikeluarkan melalui urine. Formaldehida dapat dikeluarkan sebagai CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;        dari dalam tubuh. Tubuh juga diperkirakan bisa memetabolisme formaldehida        bereaksi dengan DNA atau protein untuk membentuk molekul yang lebih besar        sebagai bahan tambahan DNA atau protein tubuh.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Formaldehida tidak disimpan dalam jaringan lemak. NIOSH menyatakan        formaldehida berbahaya bagi kesehatan pada kadar 20 ppm. Sedangkan dalam       &lt;i&gt;Material Safety Data Sheet&lt;/i&gt; (MSDS), formaldehida dicurigai bersifat        kanker.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;b&gt;Ambang Batas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Bila melihat ambang batas toleransi, ikan asin sotong yang diteliti Balai        Besar POM, sebelum dicuci mempunyai kandungan formalin 6,77 ppm. Setelah        dicuci tinggal 5,62 ppm atau 5,62 mg formalin dalam setiap 1 kg ikan asin        sotong. Berdasarkan data tersebut, tubuh kemungkinan masih bisa        menoleransi kandungan formaldehida bila dalam satu hari kita makan ikan        asin dalam jumlah sekitar 2,5 kg. Dengan catatan, asupan formalin hanya        dari ikan asin.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Berdasarkan informasi ini, sebaiknya dibuat nilai ambang batas yang jelas,        dan menjelaskan ke masyarakat mengenai kandungan formalin yang berbahaya        bagi kesehatan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Selain itu, diperlukan cara mendidik produsen atau pedagang mengenai        tingkat bahaya dan risiko yang dihadapi. Dengan demikian masyarakat tidak        panik dan menolak semua bahan yang diperkirakan mengandung formalin.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sebab formalin secara alamiah sudah ada di alam. Dan formalin menjadi        berbahaya tidak saja ketika bercampur makanan, tetapi juga dalam udara dan        masuk melalui pernapasan maupun kulit. (A-22)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3931368639621176516-7013021577698354803?l=lensaprofesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lensaprofesi.blogspot.com/feeds/7013021577698354803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3931368639621176516&amp;postID=7013021577698354803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3931368639621176516/posts/default/7013021577698354803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.
